Oleh : Abdul Azis, S.Pd.SD (Guru SDN Nijang Kecamatan Unter Iwes)
OPINI, 5 Mei 2020
Covid -19 membuat kita terpaksa banyak berdiam diri di rumah, berkumpul bersama orang–orang tercinta dan bersenda gurau bersama keluarga untuk melupakan sejenak hari–hari kemarin yang dalam kesibukan sendiri dan mengabaikan arti pentingnya bermunajat bersama keluarga. Kita yakin wabah ini akan segera berlalu dan semoga dengan wabah covid–19 ini mampu mengajak kita merenung sejenak akan betapa lemahnya manusia dan betapa rapuhnya di hadapan mahluk kecil yang tak terlihat. Dengan wabah itu kita mulai memperhatikan hal–hal kecil dalam kehidupan ini yang selama ini kita disibukkan dengan berbagai aktivtas dalam mengumpulkan pundi–pundi materi bahkan melupakan betapa kuasa-Nya Tuhan ketika ingin mengubah sesuatu hanya dalam sekejap akan menjadi sebuah misteri yang terus dikenang sepanjang masa. Di tengah Bulan Suci Ramadhan, wabah ini memaksa kita untuk lebih banyak beribadah di rumah dan aktivitas lainnya lebih banyak di rumah. Tentu rindu jejak kebiasaan itu berganti dari keceriaan dan kemeriahan menjadi sepi dan sedih seakan dunia ini hancur tanpa penghuni. Itulah yang terjadi dalam situasi cobaan serta ujian mendunia ini. Mengapa Covid–19 ini begitu meresahkan, jawabannya sederhana adalah Covid 19 ini tidak hanya berdampak pada si pasien positif semata tapi lebih kepada perilaku ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Tapi kita harus mengetahui bahwa covid-19 ini membuat kita menjaga jarak tetapi bukan untuk menjauhi kita dari kerja kemanusiaan yaitu saling memberikan dukungan dan pemahaman akan tanggung jawab bersama dalam memutus rantai penularannya dengan mengedepankan serta melaksanakan himbauan pemerintah karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
Pandemi covid-19 memaksa proses hidup dan kehidupan ini mengalami perubahan dalam terapannya, hal ini bukan menjadi hal yang diabaikan tetapi telah menjadi topik terkemuka di belahan dunia. Berangkat dari proses awal darimana kasus corona itu datang sudah banyak versi yang telah mengungkapkan bahwa corona datang dan muncul dari negeri China tepatnya di Kota Wuhan. Mengabaikan darimana corona itu berawal, saat ini bagaimana kondisi yang terlihat di tengah masyarakat sejak pandemi ini terus menghantui kehidupan masyarakat. Banyak aktivitas yang berdampak misalnya begitu banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi tenaga kerjanya bahkan banyak lagi yang sementara waktu tidak ada aktivitas. Dari sudut lain banyak kegiatan usaha yang mengalami defisit kemasukan bahkan lumpuh dan inilah dampak sosial yang nyata di dalam situasi terkini akibat pandemi covid-19. Dari sudut dunia pendidikan lebih–lebih terdampak total dimana anak negeri penerus pergerakan dan generasi emas bangsa terpaksa dirumahkan dan proses belajar menjadi kendala utama bagi mereka di rumah yang selama ini dilakukan di sekolah melalui bimbingan langsung guru di sekolah. Dalam situasi ini peran guru seakan tergantikan oleh orang tua di rumah dimana secara tidak langsung orang tua memainkan peran sebagai guru dalam membimbing anaknya meskipun ada keluh dan bosan dirasakan ketika setiap harinya anak meminta bimbingan itu kepada orang tua. Peran guru yang tidak bisa secara lansung melakukan bimbingan kepada anak seperti yang dilakukan dalam hari–hari sebelumnya di sekolah, semata-mata untuk saling memutus rantai penyebaran virus corona yang mengacu kepada ketentuan dan prosedur tetap kesehatan dalam penanganan kasus Covid-19 .
Guru–guru saat ini diberikan ruang untuk mampu mengkolaborasikan diri dengan temanya atau dengan pihak lain yang bisa memberikan solusi untuk tersampaikan materi pembelajaran. Misalnya melalui seminar online dalam upaya mendapatkan pedoman belajar melalui internet (daring) atau kegiatan Luring (luar jaringan). Peran Diskusi Gugus melalui KKG terus dilaksanakan dan keterlibatan Kepala Sekolah dan pengawas akan sangat membantu demi tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Diskusi melalui forum guru kelas secara online membahas berbagai hal menyagkut materi dan kegiatan belajar mengajar tentu lebih penting diterapkan dan dievaluasi per jenjang sebagai tolak ukur sejauhmana kita guru sudah melakukan kegiatan–kegiatan dalam melakukan pendampingan kepada anak–anak dari jarak jauh. Sebagai solusi dalam menuntaskan semua yang menjadi program pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 saat ini adalah guru harus mau dan mampu memanfaatkan aplikasi yang ada sebagai upaya pelaksanaan sistem Daring dan adanya kegiatan pembelajaran system luring bagi anak anak yang tidak punya sarana pendukung berupa handphone. Dan bagi sekolah yang berada di daerah tidak punya akses internet tentu dalam konteks ini adanya kerjasama guru dan orang tua siswa sehingga apa yang menjadi sasaran akhir dapat diterima anak–anak melalui pendampingan langsung guru di rumah meskipun peran guru sama sekali tidak akan bisa tergantikan oleh orang tua atau keluarga lain di rumahnya. Mengutip isi pidato Mendikbud pada Hardiknas 2 Mei 2020 yang mengambil tema #hardiknas2020 dan #belajardaricovid19 bahwa “Untuk pertama kalinya guru- guru menyadari bahwa pembelajaran bisa dilakukan di mana saja dan orang tua menyadari betapa sulitnya tugas guru. Pendidikan yang efektif membutuhkan kolaborasi guru, siswa dan orang tua. (*)






