SUMBAWA BESAR, SR (14/9/2019)
Para peserta Wonderful Sail to Indonesia 2019 menjadikan Teluk Saleh, tepatnya di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, menjadi salah satu titik labuh. Kehadiran para yachert pada Sabtu (14/9) malam disambut sangat meriah oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
Organizer Rally Layar Internasional, Remon J. Tungka menyebutkan, ada beberapa kategori untuk menjadi titik destinasi wisata dari Sail Indonesia. Adalah memperhatikan titik labuh tanpa harus merusak terumbu karang, tidak mengganggu lalulintas laut dan memiliki infratruktur kecil, seperti tangga untuk sampai ke daratan. Kemudian di darat, ditunjang dengan beberapa fasilitas agar mereka bisa duduk, beli makan, mengobrol dengan masyarakat dan mudah mengakses kamar mandi dan WC. Untuk mengimplementasikannya harus mengefektifkan kemampuan yang dimiliki. Seperti menguatkan budaya asli, nuansa dan kehidupan masyarakat setempat. “Apa yang anda punya itu yang anda tampilkan, tidak usah lebih tidak usah dikurangi,” imbuhnya.
Untuk pelaksanaan hari pertama di Desa Labuhan Jambu, Remon memujinya karena berlangsung sangat baik. Tidak ada kegaduhan, masyarakat mendapatkan hiburan, tamu Sail senang dan bisa kembali ke kapal dengan nyaman karena titik labuhnya tidak bergelombang. Disebutkannya, masih ada tiga hari lagi, para tamu asing itu berada di Labuhan Jambu. Remon berharap kenyamanan mereka tetap dipertahankan.
Tour gauide Sail, Syafruddin mengaku telah menjadi guide Sail selama tiga tahun. Namun kali ini membuatnya terkejut dengan jumlah kapal Yacht yang berlabuh di Sumbawa melebihi dari rencana awal. Demikian juga dengan waktu singgah mereka yang lebih lama. “Alhamdulillah pengalaman sudah tiga tahun saya pegang Sail, Sumbawa saya kategorikan luar biasa. Tahun pertama rencana yang datang 2 tapi yang datangnya 8, program dua hari tapi 4 hari. Tahun kedua rencana program 4 hari kenanya satu minggu lebih. Tahun ini sudah ada yang minta untuk penambahan lima hari lagi, itu luar biasa Sumbawa,” ungkapnya.
Tertariknya peserta Sail dengan Sumbawa ini menurutnya dapat menjadi peluang bagi masyarakat. Tidak hanya di sektor pariwisata tapi juga bagi para pelaku usaha. Termasuk industri kreatif masyarakat lokal yang dapat diberdayakan. Karena di hari pertama, tamu Sail tertarik dengan kegiatan di Desa Labuhan Jambu. Seperti melihat aktvitas nelayan, masyarakat menjemur ikan hingga proses masak yang masih menggunakan tungku tradisional. Dan semua ini dirasa memiliki nilai ekonomi. “Ternyata mereka paham back to nature yang selama ni didengungkan. Ternyata semua dipraktekan dari dulu sampai sekarang. Jadi di otak kita industri itu bangunan megah, hotel bintang ternyata tidak. Saya berharap kepada semua pihak, karena kita berhadapan dengan karakter dan budaya yang berbeda, pertahankan budaya kita yang selalu welcome kepada siapa saja. Budaya kita yang mengangkat gotong royong dan itu luar biasa daya tarik yang besar,” tukasnya. (JEN/SR)








