Sapa Masyarakat Hindu di Poto Tano, Gubernur Tawarkan 50 Beasiswa di UTS

oleh -413 Dilihat

SUMBAWA BARAT, SR (8/3/2019)

Dalam lawatannya ke KSB, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc, didampingi Bupati Sumbawa Barat, Dr. H. W. Musyafirin dan sejumlah kepala OPD Provinsi NTB, menyempatkan diri menyapa umat Hindu di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Jumat (8/3/2019). Kehadiran orang nomor satu di NTB ke Desa Kokarlian itu disambut meriah dan penuh kehangatan. Bahkan tarian khas tradisi umat Hindu, Panjibrahme menyambut kehadiran gubernur dan rombongan.

Gubernur yang pernah menjabat Ketua BEM Universitas Indonesia itu menegaskan bahwa NTB ini harus diisi oleh orang-orang yang memiliki perasaan sama. Yaitu perasaan cinta dan kasih sayang tanpa melihat warna kulit, warna rambut, suku, agama dan adat istiadat. “Untuk hidup tenang perlu mensyaratkan cinta pada sesama,” ungkap Gubernur Doktor Zul itu.

Doktor Zul menjelaskan boleh memiliki keyakinan, agama dan suku yang berbeda. Namun rasa cinta itu menjadi modal sosial untuk menghilangkan politik identitas. Sehingga, NTB ini benar-benar nyaman untuk semua masyarakat. Serta menghilangkan perselisihan akibat hal-hal yang tidak penting. Sebagai bentuk kecintaannya kepada masyarakat Hindu, Gubernur kemudian menawarkan beasiswa Kuliah di UTS hingga selesai. “Kalau ada 50 orang anak-anak Hindu yang ingin Kuliah di UTS, saya kasih beasiswa kuliah hingga selesai,” ungkapnya disambut tepuk tangan bahagia umat Hindu yang hadir.

Sebelumnya, Pergurus adat Umat Hindu Kokarlian, I Wayan Murta menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kehadiran Gubernur NTB di desanya. Ia mengaku bangga dengan rasa mengayomi Gubernur kepada semua masyarakat NTB tanpa mengenal suku dan agama. “Sangat terima kasih, karena hari ini adalah hari bersejarah bagi kami. Ini pertamakali orang nomor satu di NTB bisa hadir di desa kami,” ungkapnya.

Selama ini katanya, umat Hindu desa tersebut sangat puas dengan bantuan pemerintah, terutama membantu pembangunan kembali rumah yang rusak akibat gempa tahun lalu. Ia juga melaporkan bahwa umat Hindu di Desa Kokarlian berjumlah sekitar 300 KK. Mereka ini hidup berdampingan dan damai dengan umat lain. “Kami diperlakukan sama,” ucapnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *