SUMBAWA BESAR, SR (03/10/2018)
Sampai saat ini sejumlah korban gempa bumi yang tersebar di Kecamatan Buer, Alas dan Alas Barat masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Ini terpaksa dilakukan karena rumah mereka mengalami rusak berat dan sudah tidak bisa ditempati dampak dari bencana yang cukup dahsyat tersebut. Belum sempat hilang rasa trauma, kini para pengungsi tersebut dibayangi dengan persoalan baru. Pasalnya saat ini mulai memasuki musim hujan. Ketika hujan mengguyur ini akan menjadi masalah besar bagi korban gempa.
Menangkap kekhawatiran itu, Satgas NU Peduli Kabupaten Sumbawa mendesak pemerintah daerah menganggarkan pembiayaan pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana ini. Sebab tenda yang mereka tempati daya tahannya sudah mulai menurun karena diterpa cuaca pagi, siang dan malam hari. “Beberapa titik pengungsian sudah kami survey. Situasi saat ini di lapangan sangat membutuhkan Huntara. Berapa lama sih daya tahan tenda yang bebahan terpal atau sejenisnya,” sebut Ketua Satgas NU Peduli Kabupaten Sumbawa, Muhammad Kaniti S.Pd.
Dia menegaskan bahwa pembahasan RAPBD Perubahan tahun 2018 menjadi momentum bagi Pemerintah Daerah Sumbawa untuk bertindak, karena sampai saat ini bantuan dari pemerintah pusat masih berproses dan membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi konsentrasi pemerintah pusat tertuju ke Palu, Donggala dan sekitarnya, maka tidak menutup kemungkinan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di NTB khususnya di Sumbawa akan terhambat. “Sebagai perbandingan, Kabupaten Lombok Timur sudah menganggarkan pembangunan Huntara di APBD Perubahan tahun 2018,” kata pria yang akrab disapa Ken ini.
Satgas NU Peduli sambungnya, sedang melaksanakan pembangunan Huntara di Kecamatan Alas dan membutuhkan dukungan pemerintah dan masyarakat setempat agar prosesnya cepat dan segera dihuni. (SR)






