DI BALIK EMAS SUMBAWA : Ledakan Tambang, Lonjakan Ekonomi, dan Ujian Besar Tata Kelola Masa 

oleh -164 Dilihat

Oleh: DR. Herdiyanto /*

Sumbawa hari ini sedang berada di titik yang sangat menentukan dalam sejarah ekonominya.

Jika satu dekade lalu Sumbawa masih dipersepsikan sebagai daerah agraris berbasis ternak dan pertanian, maka hari ini narasinya telah berubah secara fundamental. Pertambangan telah menjadi poros baru ekonomi daerah.

Dan yang terjadi saat ini bukan lagi pertumbuhan biasa, tetapi lonjakan struktural ekonomi berbasis sumber daya.

Tambang Batu Hijau selama ini menjadi simbol kekuatan ekonomi Sumbawa sebagai salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia. Kontribusinya terhadap PDRB NTB berada pada kisaran 20–30 persen tergantung fluktuasi produksi.

Namun dinamika terbaru menunjukkan bahwa Sumbawa tidak lagi bertumpu pada satu tambang.

PT Amman Mineral terus melakukan ekspansi besar termasuk pembangunan smelter dan penguatan infrastruktur. PT Sumbawa Jutaraya (SJR) telah memasuki fase produksi sejak 2025. Proyek conveyor Batu Hijau–Dodo bahkan masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Selain itu, wilayah selatan Sumbawa semakin ramai oleh aktivitas eksplorasi berbagai pemegang IUP.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Sumbawa sedang memasuki fase mining cluster economy.

Dampak Ekonomi dari Sektor ini Sangat Nyata

Lapangan kerja terbuka luas, tidak hanya di sektor tambang tetapi juga sektor turunan seperti jasa, transportasi, logistik, dan UMKM. Aktivitas ekonomi di desa sekitar tambang meningkat signifikan.

Pendapatan daerah meningkat, daya beli masyarakat naik, dan perputaran ekonomi menjadi lebih cepat.

Infrastruktur berkembang pesat, mulai dari jalan, pelabuhan, energi, hingga kawasan industri seperti smelter. Infrastruktur ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

Perusahaan tambang juga mulai bertransformasi dari sekadar entitas ekstraktif menjadi aktor pembangunan melalui program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, dan pengembangan UMKM.

Di sisi lain, peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menjaga stabilitas sosial, memastikan iklim investasi tetap kondusif, serta menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan perusahaan.

Namun di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar yang tidak boleh diabaikan.

Pertama, risiko ketergantungan ekonomi. Jika terlalu bertumpu pada tambang, sektor lain seperti pertanian dan UMKM bisa terpinggirkan.

Kedua, risiko ketimpangan wilayah. Pertumbuhan ekonomi berbasis tambang seringkali tidak merata.

Ketiga, risiko lingkungan. Pertambangan memiliki konsekuensi terhadap lahan, air, dan ekosistem yang harus dikelola secara serius.

Pertanyaan paling penting adalah: setelah tambang, apa?

Sejarah menunjukkan banyak daerah tambang mengalami siklus boom and bust. Sumbawa tidak boleh terjebak dalam pola tersebut.

Karena itu, arah ke depan harus jelas: transformasi menuju industrialisasi berbasis tambang.

Hilirisasi mineral menjadi kunci utama. Smelter harus menjadi pusat nilai tambah, bukan sekadar fasilitas pelengkap.

Penguatan SDM lokal juga penting agar tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi operator, tetapi juga naik ke level teknis dan manajerial.

Integrasi ekonomi lokal harus diperkuat agar UMKM dan sektor lain masuk dalam rantai pasok industri tambang.

Selain itu, diperlukan strategi pengelolaan hasil tambang untuk masa depan, seperti yang dilakukan Norwegia melalui sovereign wealth fund.

Belajar dari negara lain seperti Australia dan Chile, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya, tetapi oleh kualitas tata kelola dan visi jangka panjang.

Hari ini Sumbawa Berada pada Momentum Langka

Cadangan besar, investasi kuat, perusahaan global, dukungan pemerintah, dan kebijakan hilirisasi nasional semuanya bertemu dalam satu titik.

Namun sejarah menunjukkan banyak daerah gagal justru ketika berada di puncak peluang.

Sumbawa memiliki emas di dalam tanah. Tetapi emas yang lebih berharga adalah kesempatan.

Kesempatan untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, lebih berkelanjutan, dan lebih berkeadilan.

Karena pada akhirnya, tambang bukan tujuan akhir, tetapi jembatan menuju masa depan.

Dan pertanyaannya: apakah Sumbawa akan melintasi jembatan itu atau berhenti di tengah jalan?  ——

 

/* PENULIS adalah Putra asli daerah Sumbawa kelhiran Labuhan Sumbawa, 8 April 1973 yang telah merintis karir di dunia Birokrasi selam lebih dari 32 Tahun. Setelah malang melintang di berbagai jenis Jabatan struktural saat ini memilih jalur pada Jabatan fungsional dengan jabatan Analis Kebijakan ahli Madya dengan pangkat Pembina Utama Muda dengan golongan IV/C. Saat ini melaksanakan pengabdian di Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai Ketua Tim Penyusun Kebijakan pada Asisten Deputi Pengelolaan Sarana dn prasran Olahraga Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga. 

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *