SUMBAWA BESAR, SR (02/08/2018)
Sangat wajar jika SMP lain belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sebab SMPN 1 Sumbawa yang dikenal sekolah favorit dan berprestasi yang berada di pusat kota saja ternyata belum memenuhi standar tersebut. Buktinya dari total 24 Rombongan Belajar (Rombel) yang ada, terdapat 15 ruang kelas yang masih menggunakan kursi plastik dalam melaksanakan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Untuk kelas IX, ada 9 ruang yang memakai kursi plastik. Kelas VIII 4 ruang dan kelas VIII 2 ruang. “Kita akui SPM SMPN 1 Sumbawa belum bisa terpenuhi. Terutama dalam hal pemenuhan sarana prasarana,” ungkap Kepala SMPN 1 Sumbawa, Sri Irianti, S.Pd, M.Pd yang ditemui Kamis (2/8).
Penggunaan kursi plastik untuk KBM di sekolahnya ini kata Sri Irianti, sudah berlangsung sejak tahun 2011 lalu. Memang ada bantuan kursi kayu, namun kualitasnya kurang baik. Belum bisa digunakan sampai satu semester, kursi tersebut sudah patah. Kalaupun ada ruang kelas yang sekarang menggunakan kursi kayu, itu merupakan hasil sumbangan dari orang tua wali murid.
Sekolahnya ini, tiap tahunnya tetap menganggarkan pembelian kursi plastic melalui dana BOS. Tapi karena kursi plastik yang dibeli ini kualitasnya cukup bagus, sekolah hanya mampu menganggarkan dana secukupnya. Bukan hanya ruang kelas, ternyata ruang laboratorium dan perpustakaan di sekolah bersangkutan juga menggunakan kursi plastik. Agar SPM di sekolahnya dapat terpenui, ia berharap SMPN 1 Sumbawa mendapat prioritas diberikan bantuan oleh pemerintah. Apalagi SMP Negeri 1 Sumbawa merupakan Sekolah Rujukan. Selain masalah kursi, tambah Sri Irianti, sekolahnya membutuhkan 70 unit computer untuk mendukung pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Computer yang tersedia saat ini baru berjumlah 40 unit. Ada juga 17 komputer bantuan dari wali murid dan 8 LCD dari dana aspirasi. (JEN/SR)






