SUMBAWA BESAR, samawarea.com (28 April 2026) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa terus mematangkan program Sekolah Tanggap Bencana. Setelah sukses melalui tahap pencanangan pada Maret 2026 lalu, kini SMPN 2 Moyo Hulu resmi menjadi sekolah model melalui kolaborasi dengan Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral (FTLM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kegiatan ini dihadiri Camat Moyo Hulu, Kepala Desa Batu Tering, Pengawas Pembina SMPN 2 Moyo Hulu, serta jajaran dosen dan mahasiswa FTLM UTS yang turut mengawal jalannya edukasi mitigasi.
Kabid Pembinaan SMP Dinas Dikbud Sumbawa, Junaidi, S.Pd., M.Pd, Selasa (28/4/26), menyampaikan bahwa SMPN 2 Moyo Hulu menjadi tolok ukur utama yang diharapkan dapat direplikasi oleh sekolah lain. Guna mendukung keberlanjutan program hingga Agustus mendatang, pihak Dikbud mengharapkan agar FTLM UTS selaku pelaksana dapat menyusun buku Pedoman Sekolah Tangguh Bencana khusus jenjang SMP. Pedoman tersebut nantinya akan menjadi panduan teknis bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Sumbawa dalam memetakan risiko serta menjalankan prosedur keselamatan secara mandiri dan terstruktur.
Sementara Dekan FTLM UTS, Dedy Dharmawansyah, S.T., M.T., menegaskan bahwa partisipasi fakultasnya merupakan komitmen nyata dalam memberikan kontribusi edukatif dan aplikatif bagi masyarakat.
Melalui rangkaian program selama enam bulan ini, FTLM berupaya memastikan bahwa ilmu teknologi lingkungan diimplementasikan langsung untuk keselamatan publik di sekolah. Sinergi ini memastikan setiap langkah mitigasi, mulai dari perencanaan hingga praktik di lapangan, didasarkan pada standar teknis yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada sesi teknis, tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan yang dipimpin Plt. Kabid Pencegahan, Syamsul Bahri, S.AP memberikan edukasi intensif mengenai bahaya gas dan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Para siswa dan guru, yang disaksikan para tamu undangan, juga dilatih melakukan simulasi pemadaman api menggunakan alat sederhana seperti karung goni basah sebagai langkah penanganan awal yang darurat. Pelatihan praktis ini sangat krusial agar warga sekolah memiliki kesiapsiagaan mental dan keterampilan fisik yang sigap saat menghadapi potensi kebakaran yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Acara ditutup dengan sesi kuis interaktif yang disambut antusias para siswa sebagai bentuk evaluasi materi. Siswa yang mampu menjawab pertanyaan seputar materi pemadaman dengan tepat mendapatkan hadiah sebagai bentuk motivasi dan apresiasi atas keseriusan mereka.
Dengan dukungan penuh dari aparat kecamatan, desa, dan akademisi, rangkaian program hingga Agustus 2026 ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sekolah yang tangguh, responsif, dan siap menghadapi berbagai potensi tantangan bencana di masa depan. (SR)





