SUMBAWA BESAR, SR (21/08/2018)
Korban gempa bumi di Kabupaten Sumbawa yang tersebar di tiga kecamatan yakni Buer, Alas dan Alas Barat mencapai ribuan orang. Hal ini tidak mampu terkafer secara maksimal oleh Dapur Umum Lapangan (Dumlap) yang didirikan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa. Dumlap ini satu-satunya dapur umum yang melayani para pengungsi korban gempa 7,0 SR, sejak Minggu (19/8) kemarin. Kondisi ini sempat menimbulkan masalah, karena dengan kapasitas yang terbatas, sebagian besar korban gempa tidak terlayani secara maksimal. Aksi protes tak terelakkan.
Ketua TAGANA Sumbawa, Dedi Susanto S.Pd.I yang ditemui di Posko Bencana Kecamatan Alas, mengakui kondisi tersebut. Ini terjadi karena Dapur Umum TAGANA tidak mampu melayani kebutuhan makanan ribuan pengungsi. Pasalnya TAGANA hanya mampu memasak 8.000 bungkus nasi per hari. Selain logistik untuk kebutuhan dapur umum yang disuplai dari Sumbawa yang terbatas, jumlah personil TAGANA sangat sedikit. Untuk menyiasati hal tersebut, pihaknya telah mengusulkan agar masing-masing desa membangun Dapur Mandiri sebagai solusi meminimalisir persoalan. Di samping mendorong pelibatan masyarakat untuk ikut menangani korban gempa, Dapur Mandiri menjadi sarana efektif dalam mengidentifikasi sasaran bantuan. “Dapur Mandiri ini dibangun pemerintah desa dan masyarakatnya. Pemda melalui pemerintah kecamatan hanya mendistribusikan logistic sesuai kebutuhan dapur mandiri berdasarkan data yang diberikan kepala desa,” jelas Dedi.
Sebelumnya personil TAGANA ini diperbantukan di Lombok Utara selama belasan hari dan rencananya hingga 25 Agustus mendatang sesuai dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Propinsi NTB. Karena bencana gempa juga terjadi di Kabupaten Sumbawa dan menimbulkan korban jiwa, luka-luka serta ratusan rumah rusak berat, personil TAGANA ditarik dari Lombok Utara langsung membuka Posko Dapur Umum di Alas Barat yang kemudian pindah ke Alas. “Sampai sekarang personil kami belum bertemu dan berkumpul dengan keluarganya di rumah. Meski kami sangat rindu dan merasa was-was karena musibah gempa ini juga menimpa kami dan keluarga. Tapi ini misi kemanusiaan yang harus kami emban sebagai seorang relawan,” ucap Dedi—sapaan lulusan terbaik TAGANA Madya Bidang Search and Rescue tingkat Nasional 2017 lalu.
Sementara Camat Alas, Herianto Diaz S.Sos merespon positif usulan keberadaan dapur mandiri. Karenanya Selasa (21/8) sore tadi, Camat langsung mengundang dan menggelar pertemuan dengan seluruh kepala desa di wilayahnya. Semua Kades pun sepakat untuk membangun dapur mandiri. Hanya harapan mereka agar logistic dapat didistribusikan secara kontinyu. Sebab kebutuhan makanan untuk para pengungsi harus terlayani setiap hari. “Alhamdulillah semua kades sepakat bangun dapur mandiri. Ini akan membantu TAGANA yang memiliki personil yang terbatas di samping memudahkan pemerintah dalam mengidentifikasi penerima bantuan,” ucap Camat Heri.
Tidak hanya di Kecamatan Alas, para Kades di Alas Barat juga sudah sepakat untuk membangun dapur mandiri. Ini juga dilakukan untuk menyiasati terbatasnya akses dapur umum TAGANA dalam melayani korban bencana. (JEN/SR)









