SUMBAWA BESAR, SR (20/08/2018)
RSUD Sumbawa terpaksa mengevakuasi seratusan pasiennya ke tempat yang lebih aman guna menghindari resiko gempa bumi berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Minggu (19/8) malam sekitar pukul 21.56 WITA. Para pasien ini menempati tenda-tenda darurat yang didirikan pihak RSUD di halaman Kantor Bupati Sumbawa.
Direktur RSUD setempat, dr. Dede Hasan Basri yang dihubungi Senin (20/8) pagi ini mengakui hal itu. Pasien yang diungsikan ini mencapai 143 orang ditambah pasien dari Klinik Muhammadiyah Sumbawa dan beberapa pasien dari KSB. Evakuasi ini dilakukan karena beberapa bangunan ruang perawatan di RSUD Sumbawa mengalami keretakan dan dinilai tidak aman karena dikhawatirkan roboh jika terjadi gempa susulan. Kerusakan itu terlihat di lantai 3 Zall Anak, IGD, dan Zall Dalam. Kemungkinan ada bangunan lainnya karena belum dilakukan pengecekan secara detail. “Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan kami memutuskan untuk mengevakuasi pasien ke lokasi yang aman, dan kami memilih halamnan Kantor Bupati, selain luas juga jarak dengan rumah sakit sangat dekat,” kata dr. Dede.
Dalam menangani pasien di lokasi evakuasi, dr. Dede mengaku telah mendirikan 11 tenda masing-masing 2 tenda untuk anak-anak, penyakit dalam, dan Obgyn. Sisanya masing-masing satu tenda untuk pasien TBC, rawat gabung dan OKA. Sedangkan untuk pelayanan tetap dilakukan seperti biasa. Para perawat masing-masing mendampingi pasiennya. Dan perawat yang sebelumnya libur diminta untuk masuk kerja mengingat situasi darurat dan masyarakat membutuhkan penanganan maksimal.
Dr Dede mengaku belum mengetahui sampai kapan pasien ini dikembali ke RSUD. Pihaknya harus berkoordinasi dengan Dinas PU selaku instansi teknis untuk memastikan kondisi bangunan RSUD. “Kalau hasil pengecekan memutuskan bisa ditempati, kami akan pindahkan pasien dari tenda darurat ke RSUD, tapi jika tidak memungkinkan, penanganan tetap dilakukan di tenda ini,” demikian dr. Dede. (JEN/SR)






