SUMBAWA BESAR, SR (25/07/2018)
Masih ingat Andi Saleh Tiyardi—bocah 13 tahun yang sempat hilang dan ditemukan tewas mengenaskan di dalam saluran air Simpang Tiga sebelah timur Stadion Pragas Sumbawa, Rabu, 11 Juli lalu. Dua minggu sudah jasad itu dikubur, meski sampai saat ini kepastian penyebab kematiannya masih menjadi teka-teki. Namun kematian Andi kembali jadi perbincangan setelah ada rencana pihak kepolisian Polres Sumbawa membongkar pemakaman bocah malang tersebut.
Dikonfirmasi soal rencana itu, Kapolres Sumbawa melalui Kasat Reskrim, AKP Zacky Maghfur SIK, Rabu (25/7), membenarkannya. Pembongkaran kuburan Andi Saleh Tiyardi itu akan dilakukan secepatnya. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Biddokes Polda NTB. “Semoga dalam jangka waktu satu minggu ini pembongkaran kuburan sekaligus otopsi (bedah mayat) terhadap jasad korban sudah bisa dilakukan. Biddokes Polda NTB akan mengirim tiga orang untuk menanganinya,” jelas Zacky—akrab perwira ramah ini.
Otopsi ini penting dilakukan, ungkap Zacky, untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Sebab dari hasil visum luar yang dilakukan tim medis RSUD Sumbawa, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban yang menyebabkan kematian tidak wajar. Karena itu akan dilakukan pemeriksaan lebih mendalam apakah ada luka dalam, sakit atau penyebab lainnya. Satu-satunya jalan untuk mengungkapnya adalah dengan melakukan bedah mayat (otopsi). Selain hasil otopsi untuk kepentingan penyidikan, juga untuk membantu pihak keluarga korban agar lebih tenang karena mengetahui penyebab pasti kematian korban.
Zacky mengakui jika keinginan polisi untuk melakukan otopsi ini sudah disampaikan berkali-kali kepada keluarga korban saat pertamakali korban ditemukan dan belum dikubur. Tapi saat itu keluarga menolak. Seiring berjalannya waktu, pihak keluarga malah menginginkan otopsi dilakukan. Mengenai ada kecurigaan dari pihak keluarga tentang kejanggalan kematian korban sehingga perlu dilakukan otopsi, Kasat Zacky enggan menjawabnya. Ia mempersilahkan wartawan untuk menanyakan langsung kepada keluarga korban. “Silakan tanya keluarga. Kami hanya menjalankan mekanisme yang harus kami lakukan untuk pembuktian. Dengan itu kami menjadikannya sebagai dasar dalam menentukan proses selanjutnya. Tapi keinginan keluarga untuk otopsi patut diapresiasi. Karena jika hanya berpikiran lalu memunculkan asumsi dan isu yang tidak jelas, justru tidak bagus,” ujarnya.
Seperti diberitakan, korban dilaporkan hilang 4 Juli lalu. Terakhir, korban masih terlihat di rumah kakeknya di lingkungan RT 02 RW 05 Kelurahan Seketeng, sore harinya. Namun saat magrib korban tidak kembali meski biasanya dia pulang untuk sholat magrib. Hingga larut malam, korban tidak terlihat membuat keluarganya panik. Selain lapor polisi, pencarian terus dilakukan. Bahkan informasi hilangnya korban cepat tersiar terutama oleh warga yang aktif di media social. Jasa paranormal ikut dilibatkan. Setiap paranormal yang didatangi selalu mengatakan korban akan kembali. Tepat Rabu, 11 Juli kemarin, terdengar khabar mengejutkan. Sesosok mayat ditemukan di saluran air simpang tiga Stadion Pragas, sekitar 100 meter dari kediaman kakek korban. Ternyata itu adalah korban. Kondisinya sudah mulai membusuk, dan wajahnya sudah terkelupas tampak tengkorak. (JEN/SR)






