Program Afirmasi Zul Rohmi: Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk Anak Buruh Migran

oleh -302 Dilihat

LOMBOK TIMUR, SR (23/05/2018)

Calon Wakil Gubernur NTB Nomor Urut 3 dari Pasangan Calon Zul-Rohmi, Dr. Hj. Sitti Rohmi merasa prihatin terhadap nasib keluarga dan anak anak TKI/TKW atau Buruh Migran NTB yang ditinggal bekerja ibu bapaknya keluar negeri. Keprihatinan Sitti Rohmi ini karena rata-rata nasib anak TKI/TKW asal NTB kurang mendapatkan perhatian yang lebih serius dari sejumlah pihak berkompeten, khususnya dari sisi keberlanjutan pendidikan dan jaminan kesehatan.

Padahal NTB dikenal sebagai propinsi kantong buruh migran nomor 3 dari seluruh Indonesia. Data BP3TKI tahun 2016, buruh migran resmi yang keluar negeri mencapai 22.902. Data ini menurun dibanding tahun 2015 mencapai 28 ribu TKI. “Besarnya animo warga NTB mengais rejeki keluar negeri salah satunya disebabkan minimnya lapangan kerja dan pengangguran,” ungkap Hj Dr Sitti Rohmi kepada media ini, Rabu (23/5/2018) menanggapi komitmen Zul Rohmi terhadap buruh migran dan masa depan  anak dan keluarganya.

Sitti Rohmi mengatakan sebagai pahlawan devisa, harusnya kehidupan sosial dan ekonomi keluarga dan anak-anak TKI mendapatkan atensi dari para stakeholder. Hal ini agar para TKI merasa diperhatikan oleh pemerintah atas jerih payahnya sebagai pahlawan devisa. “Sebagai bukti komitmen dan keberpihakan nyata, Zul Rohmi akan membuat afirmatif action bidang kesehatan dan pendidikan khusus anak TKI yang miskin, termasuk melakukan pendataan secara menyeluruh jumlah anak dan keluarga buruh migran yang miskin,” tambah Sitti Rohmi.

Di sisi lain Sitti Rohmi membeberkan data dan fakta bahwa remitansi atau kiriman uang TKI asal NTB Januari-April 2017 mencapai Rp 458 Milyar. Jumlah tersebut terinci selama triwulan pertama Januari- Maret 2017 sebesar Rp 347,3 Miliar dan April 2017 Rp 110,147 miliar. Sementara untuk remitansi tahun 2016 secara keseluruhan tercatat Rp 1,7 triliun. “Sudah selayaknya ada feedback atau social responsibility yang nyata dan tepat guna diberikan oleh Pemda dalam bentuk stimulus bantuan atau hibah khusus untuk biaya pendidikan dan jaminan kesehatan anak-anak Buruh Migran miskin ini,” tegas Rohmi.

Menindaklanjuti rencana meningkatkan kesejahteraan anak anak buruh migran tersebut, Zul Rohmi memastikan akan menggalang dukungan sosial kepada para stakeholder yang berkompeten untuk merealisasikan cita cita ini. “Zul Rohmi mengajak para pegiat sosial dan aktivis yang concern kepada buruh migran agar bahu membahu untuk merealisasikan ide dan gagasan mulia ini,” sambung Rohmi.

Rohmi Imbau Majikan dan Pengusaha

Di bagian lain, Cawagub Sitti Rohmi menyinggung momentum Hari Raya Idul Fitri 1439 H tahun 2018 nanti. Ia menghimbau para majikan ataupun pengusaha agar meliburkan secara penuh para buruhnya selama dua hari berturut-turut di perayaan hari 1 Syawal tersebut. Hal ini agar para karyawan atau buruh tersebut bisa menyambut hari kemenangan dalam suasana fitri bersama sanak keluarga tercintanya. “Dari sisi dimensi hablumminannas, moment Idul Fitri terlihat hubungan saling memanusiakan antara majikan dan buruhnya,” ujarnya.

Dr Zul Kunjungi TKW Hongkong

Sementara sebagai wujud empati dan kepedulian Zul Rohmi terhadap TKW NTB yang bekerja di Hongkong, belum lama ini Calon Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc menyempatkan diri mengunjungi dan melakukan dialog dengan para buruh migran perempuan asal NTB. Dalam dialog tersebut Dr Zul—sapaan akrabnya mendapatkan atensi dan masukan dari para TKW terkait fenomena dan permasalahan yang dihadapi pekerja migran. Doktor Zul dalam kesempatan itu menyampaikan terimasih atas undangan para pekerja NTB di Hongkong. Ia mengagumi semangat juang pekerja migran tersebut.  “Teman-temam asal NTB di Hongkong ini sangat luar biasa. Dari Hongkong mereka meniupkan semangat juang yang luar biasa. Mereka berjuang dan banyak berkorban. Sudah saatnya Pemda memperhatikan keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan di kampung halaman. Mereka adalah Pejuang sekaligus  Pahlawan,” cetusnya.

Menurut Dr Zul tidak selamanya para pekerja migran di luar negeri. Mereka banyak belajar tentang banyak hal. “Pinta mereka sederhana, agar pengalaman yang mereka akumulasikan begitu banyak bisa dioptimalkan oleh Pemda NTB untuk pekerja-pekerja berikutnya,” ungkap Dr Zul sembari menambahkan Pekerja hanya meminta agar pengurusan tenaga kerja NTB tidak lagi di Jakarta dan Jawa tapi di NTB. Ide ini dinilai Dr Zul sangat luar biasa. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *