MATARAM, SR (04/01/2018)
Pemilukada Gubernur NTB 2018 mendatang merupakan ajang adu kuat prestise dan gengsi politik Pasangan Calon (Paslon) baik yang didukung parpol maupun independen. Kehormatan dan nama baik akan dipertaruhkan untuk memenangi pesta demokrasi ini. Selain itu munculnya figur independen Ali–Sakti akan menjadi spirit baru kalangan parpol untuk semakin memperkuat dan mengamankan pemilih loyalisnya agar taat fatsun dengan afiliasi calon yang didukungnya. Demikian disampaikan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH didampingi Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fadlullah SE kepada media ini, kemarin.
Mi6 menilai ajang PilGub NTB harus dimaknai sebagai keinginan politik rakyat untuk memilih dan memenangkan figur pemimpin daerah yang pantas. “Jika yang menang Paslon yang didukung partai, maka kerja dan mesin politik parpol berjalan dengan baik di basis rakyat pemilih,” ujar Didu sapaan singkat Direktur Mi6.
Sebaliknya, lanjut Didu, jika nanti Paslon independen yang menang, berarti kerja mesin parpol di tingkat konstituen tidak optimal. Ini harus dijadikan evaluasi dan refleksi kalangan pimpinan parpol. Dari bocoran informasi dari lembaga survey, empat Paslon yang diprediksi bakal tampil di Pilgub NTB belum satupun yang tingkat elektabilitasnya di atas 20 persen. “Kisarannya masih diangka 7–16 persen dengan swing votter masih tinggi. Ada dua Paslon yang trend pergerakan elektabilitasnya naik secara signifikan yakni paket Zul Rohmi dan Ali Sakti,” sebutnya.
Meskipun Paslon Suhaeli-Amin masih menduduki peringkat pertama dari bocoran lembaga survey sambung Didu, tapi pergerakan elektabilitasnya cenderung stagnan. Sedangkan Ahyar—Mori, elektabilitasnya turun paska deklarasi. Kendati demikian Mi6 meyakini tingkat elektabilitas semua Paslon akan naik secara signifikan ketika sudah resmi mendaftar di KPU. “Ini tentu terkait adanya kepastian politik para Paslon resmi berkompetisi di PilGub NTB,” jelasnya.
Selanjutnya Didu mengatakan bintang PilGub NTB adalah tampilnya calon independen Ali-Sakti yang bersaing dengan tiga Paslon yang diusung parpol. Dari kalkulasi matematika politik, sambung Didu, loyalis votter Ali Sakti yang sulit digoyahkan yakni dukungan resmi KTP by name by adress yang diberikan warga kepada Paslon tersebut. “Setidaknya Ali Sakti sudah mengetahui mapping wilayah pemilihnya secara pasti untuk modal awal dukungan suaranya,” tambahnya.
Terlepas polemik yang menimpa paket Ali–Sakti terkait dukungan suara yang dinyatakan TMS oleh KPU, ini harus dijadikan cambuk dan pelecut Paslon yang didukung parpol untuk lebih bekerja keras dalam meraih dukungan suara konstituen. “Jika tragedi Pilkada Lotim 2013 terjadi yakni saat independen menang, patut diduga ada pembangkangan loyalitas rakyat terhadap partai,” imbuhnya lagi.
Terkait konstelasi politik para Paslon yang diusung parpol ada kecenderungan para Paslon memakai taktik koalisi ramping yang penting memenuhi syarat mendaftar di KPU. “Koalisi ramping parpol ini berbahaya jika di injury time ada perubahan dukungan karena politik serba unpredictable,” timpal Athar—panggilan Sekretaris M16, seraya mengusulkan agar Paslon dan Partai pengusung sebaiknya membuat perjanjian di notaris bahwa dukungan parpol tidak boleh dirubah dengan dasar hukum yang kuat dan saling ikat. Athar juga menyarankan agar Paslon yang gagal menjadi peserta PilGub NTB sebaiknya tim sukses untuk memenangkan Paslon yang didukungnya. Tindakan ini jauh lebih produktif ketimbang berilusi tanpa ada kepastian dukungan.
Atensi PKS Dukung Kadernya
Selain itu Mi6 memberikan atensi kepada PKS NTB yang memberikan dukungan kepada kadernya yakni Dr Zulkiflimansyah untuk memenangkan PilGub NTB. Meskipun banyak pihak yang meragukan paket Zul-Rohmi bisa menang, tapi PKS tetap memberikan kepercayaan politik secara penuh. Terbukti mesin politik PKS lebih militan dan tertib dalam menggalang dukungan di tingkat basis.
Selanjutnya untuk Paket Ahyar Mori, Mi6 menilai masih belum optimal dalam menggarap suara di tingkat basis, khususnya di Pulau Sumbawa maupun menggerakkan mesin parpol pengusungnya. “Paska deklarasi yang digelar secara besar besaran itu, Paket Ahyar Mori cenderung coaling down, sementara Paslon lain giat bergerak ke setiap basis basis pemilih potensial,” sambung Didu.
Lebih jauh Didu memprediksi bahwa PKB NTB akan membuat turbulensi politik yang tidak disangka. Asumsi normalnya PKB akan mendukung Paslon yang NU, tapi kali ini kemungkinan tidak demikian. (SR)






