MATARAM, SR (02/12/2017)
Mi6 melihat angka kunjungan wisata ke NTB dalam beberapa tahun ini meningkat pesat. Hal ini tidak terlepas dari peran Pemda yang gencar mempromosikan destinasi wisata ke berbagai pihak baik dalam dan mancanegara. Ini patut diapresiasi atas kerja keras dan strategi promosi wisata oleh pemda, khususnya melalui Dinas Pariwisata maupun para pihak terkait. Demikian disampaikan Mi6 melalui siaran pers yang disampaikan ke media ini usai melihat dari dekat beberapa obyek wisata di Lotim dan KLU, Sabtu, 2 Desember 2017.
Rombongan Tim Mi6 yang berjumlah empat orang yakni Bambang Mei F, Abdul Majid , Nuairi dan Hendra Kesumah mengunjungi beberapa lokasi wisata di Lotim yakni Pemandian Lemor, Sembalun dan Kabupaten Lombok Utara yakni Desa Adat Karang Bajo, Pelabuhan Amor Amor, Rest Wisata di daerah Kayangan.
Mi6 menilai bahwa secara keseluruhan infrastruktur penunjang di area wisata sudah cukup baik, terutama akses jalan hotmix, khususnya Suela menuju Sembalun, termasuk lokasi tanah longsor di Pusuk Pas Lombok Timur sudah dibangun dan diperbaiki dengan membuat tembok terasiring sepanjang tebing yang longsor. “Arus lalu lintas lancar, warga Sembalun bisa melewati kawasan yang longsor beberapa waktu lalu,” ujar Majid.
Sementara itu area Rest Arena di Pusuk Pas Sembalun sudah tertata dengan baik dan nampak indah. “Yang kurang adalah MCK yang tidak disediakan, termasuk lampu penerangan jalan yang tidak ada,” sambung Nuairi sembari mengatakan jika di kawasan tersebut ada lampu penerangan jalan maka mobilitas warga akan meningkat, otomatis perputaran ekonomi juga bertambah pesat.
Sementara itu Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah menyoroti soal kebersihan lingkungan di kawasan desa wisata Sembalun yang belum optimal dilakukan warga setempat. Selain itu di sepanjang jalanan Sembalun juga tidak nampak tong tong sampah untuk publik “Kesadaran warga Sembalun tentang kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan dan diedukasi secara sistematis,” ungkap Hendra yang juga Koordinator Jaring Pela Bali Nusra sambil berkata bahwa image wisatawan itu sangat sensitif soal kebersihan lingkungan.
Selanjutnya Nuairi juga menyoroti pintu masuk ke Desa Adat Karang Bajo, khususnya di pertigaan Senaru, penataan kios kios kuliner di sepanjang jalan tidak tertata dengan baik. “Terkesan Pemda KLU tidak melakukan sentuhan apapun untuk memberdayakan mereka,” lanjut Nuairi seraya menambahkan bahwa dari dulu di kawasan tersebut tidak ditata dengan baik.
Lebih jauh Abdul Majid juga mengamati di kawasan Pelabuhan Amor Amor KLU, lapak lapak pedagang kuliner tidak tertata dengan rapi. “Padahal jika ditata dengan baik dan rapi, maka kawasan Amor Amor akan ramai dikunjungi karena lokasinya yang strategis dan romantis dengan deburan ombak tepi lautnya itu,” pungkasnya. (*)






