Pelajar KLU Nyatakan Sikap Perang Lawan Narkoba

oleh -480 Dilihat
Ratusan pelajar KLU mengikuti sosialisasi bahaya narkoba yang digelar Samalas Institute. Mereka menyatakan sikap perang melawan narkoba di KLU (Foto: Yus)

LOMBOK UTARA, SR (19/11/2017)

Ratusan pelajar, pemuda, dan mahasiswa Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyatakan sikap untuk perang terhadap peredaran narkoba. Pernyataan sikap ini dicetuskan pada kegiatan sosialisasi bahaya narkoba di kalangan pelajar di Kantor Camat Pemenang, KLU, Sabtu (18/11) kemarin. Kegiatan yang digelar Samalas Institute tersebut menghadirkan tiga pembicara yaitu Kepala Seksi Pencegahan dan Pembinaan Masyarakat BNNP NTB Irfan S.Sos, Kasat Resnarkoba KLU Remanto SH, dan Kabid Kepemudaan dan Olahraga KLU Hasto Wahjono serta dibuka Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan KLU Muhadi SH.

Direktur Samalas Institute, Darsono Yusin Sali menerangkan bahwa pengguna narkoba tiap tahun cenderung meningkat, sehingga harus ada upaya luar biasa dan jihad tak terputus untuk penanganan baik terhadap yang sehat maupun pengguna. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri, melainkan memerlukan sinergitas dan kerjasama dengan berbagai pihak untuk memutus mata rantai, lebih utamanya melakukan pencegahan agar tidak sampai terjadi penyalahguna. “Karena kalau sudah terperosok ke dalam narkoba sulit untuk disembuhkan,” sebutnya.

Program-program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) guna menekan angka penyalahgunaan narkotika, khususnya di kelompok anak-anak, remaja, pelajar, dan mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa, harus terus dilakukan tidak saja oleh pemerintah tapi juga kelompok-kelompok lain yang memiliki kepentingan dalam memberantas bahaya narkotika.

Kabupaten Lombok Utara sebagai kabupaten yang baru definitif beberapa tahun ini tidak menjadikannya lantas terhindar dari penyebaran dan penyalahgunaan narkoba. Justru penyebaran narkoba berpotensi di daerah-daerah pedalaman atau yang jauh dari hingar bingar kota, lebih-lebih KLU adalah salah satu destinasi wisata yang sangat populer di NTB. “Ada tiga gili yang menjadi ikon wisata di kabupaten ini sehingga sangat rentan untuk dijadikan ladang bagi para pengedar ataupun bandar terlebih akses masuk ke tiga gili terbuka lebar,” ungkapnya, seraya berharap dengan sosialisasi bahaya narkoba di kalangan pelajar dan pemuda KLU, informasi bahaya narkoba bagi masyarakat semakin meluas.

Sementara Kasat Resnarkoba Polres KLU Remanto SH menyebutkan jika di KLU pada dasarnya cukup banyak pemakai. Hanya yang terungkap sedikit karena persoalan jarak yang cukup berjauhan di KLU. “Sebenarnya banyak pemakai di KLU. Misalnya di suatu kampung tertentu dinyatakan aman narkoba, tetapi setelah dilakukan penyelidikan ternyata ditemukan ada,” ungkapnya.

Menurutnya tidak mungkin menghilangkan narkoba, sangat tidak mungkin, karena berhubungan dengan faktor ekonomi. “Jadi kita sebagai penegak hukum, hanya berpikir bagaimana cara meredam saja. Untuk menghilangkan itu tidak mungkin. Paling tidak laju perkembangannya bisa kita hambat. Karena ini sudah jadi lahan bisnis buat sebagian orang. Sama dengan mencuri, kenapa kamu mencuri karena untuk mencari makan,” sambungnya.

Di samping itu dirinya meminta para remaja menghindari rokok, karena menjadi salah satu yang membuat kecanduan. “Makanya kalau adik-adik belum bisa merokok sebaiknya jangan. Apalagi masih minta uang kepada orang tua. Jadi jauhi rokok. Karena rokok itu pintu menuju narkoba,” imbuhnya.

Seorang perokok kata dia, belum tentu pecandu narkoba. Tapi pecandu narkoba, bisa dipastikan 99 persen mereka perokok. “Kalau Adik-adik temukan pecandu narkoba, ada barang bukti bisa melaporkan, dijamin adik-adik tidak ketahuan identitasnya. Ini kami lindungi,”.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pembinaan Masyarakat BNNP NTB, Irfan. S.Sos mengingatkan bahaya penggunaan obat haram tersebut dari aspek kesehatan. Katanya, orang yang sudah kecanduan narkoba secara fisik dan psikis tersiksa. Secara fisik, mereka terganggu. Narkoba menyerang syaraf para pemakainya. Maka pecandu narkoba berpikirnya tidak normal. Jika pun sembuh kemudian, maka tidak bisa 100 persen. “Untuk itu, para remaja sebaiknya jauhi narkoba karena dapat merusak masa depan,” pungkasnya. (*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *