Penggunaan Bacillus thuringiensis Tingkatkan Produksi Jagung

oleh -937 Dilihat
Safitri Lafahtian

Oleh: Safitri Lafahtian (Mahasiswa Fak. Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)  

SUMBAWA BESAR, SR (14/05/2017)

Jagung di Indonesia merupakan sumber pangan penting kedua setelah padi karena memiliki fungsi yang multiguna. Jagung dapat digunakan untuk bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri. Produksi jagung di Indonesia perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan, mengingat bertambahnya jumlah penduduk dan makin berkembangnya industry pangan dan pakan. Kabupaten Sumbawa memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan jagung, karena daerah ini memiliki iklim, topografi dan jenis tanah yang sangat baik untuk pengembangan jagung. Kabupaten Sumbawa juga merupakan daerah yang diandalkan untuk mengantisipasi impor jagung, sehingga Kabupaten Sumbawa dijadikan sebagai lumbung jagung nasional.

Upaya meningkatkan produksi jagung untuk memenuhi kebutuhan nasional dapat dilakukan melalui perbaikan genetic tanaman dengan rekayasa genetik. Perbaikan genetic pada jagung bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman dari lingkungan biotic dan abiotik. Dalam rekayasa genetic pada jagung, sifat unggul tidak hanya didapat dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik (Sustiprijanto, 2009). Melalui teknik rekayasa genetic dapat dihasilkan tanaman transgenik yang memiliki sifat baru seperti ketahanan terhadap serangga hama atau peningkatan kualitas hasil.

Salah satu kendala dalam produksi suatu komoditas tanaman di negara beriklim tropis dan lembab adalah serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti serangga hama dan pathogen tumbuhan (Herman, 2002). Serangan OPT pada tanaman jagung dapat menurunkan produksi. Untuk menanggulangi OPT dari jenis serangga hama digunakan bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) yang memiliki sifat ketahanan terhadap hama sehingga, tanaman jagung memiliki ketahanan terhadap serangan hama (Herman, 1997).

Teknologi rekayasa genetic merupakan teknologi transfer gen dari satu spesies ke spesies lain, dimana gen interes berupa suatu fragmen DNA ditransformasikan ke dalam sel atau tanaman inang untuk menghasilkan tanaman transgenik yang memiliki sifat baru. Terdapat dua metode dalam transfer gen pada rekayasa genetik, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Metode transfer gen secara langsung di antaranya adalah Elektroforasi, penembakan partikel (Particle bombardment) dan karbidsilikon (silicon carbide). Sedangkan metode transfer gen secara tidak langsung yaitu transfer gen yang dilakukan melalui bantuan bakteri Agrobacterium (Sustiprijanto, 2009). Rekayasa genetic melalui transformasi Agrobacterium tumefaciens (A. tumefaciens) telah banyak digunakan untuk tanaman monokotiledon.

Teknik penyisipan gen pada tanaman monokotil dengan A.tumefaciens masih kurang efektif. Hal ini disebabkan tidak efektifnya infeksi A. tumefaciens pada tanaman monokotil karena tidak adanya respon pelukan yang menghasilkan senyawa fenolik yang digunakan oleh bakteri untuk menginduksi gen-gen vir (Lucca et al. 2001, Gaoet al. 2005). Akan tetapi kendala ini bisa diatasi dengan melakukan penyesuaian kondisi, yaitu dengan menambahkan senyawa fenolik, monosakarida, dan penggunaan vektorekspresi (Zupanet al. 2000, Cheng et al. 2004). A. tumefaciens dapat menginfeksi tanaman secara alami karena memiliki plasmid Ti (tumor inducer), yaitu vector sebagai pembawa DNA untuk menyisip kangen asing (Madigan dan Martinko, 2006). Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman dapat disisipkan di dalam plasmid Ti tersebut. Selanjutnya, A. tumefaciens secara langsung akan memindahkan gen pada plasmid tersebut ke dalam genom tanaman (Olhoftet al, 2004).

Bacillus thuringiensis merupakan bakteri yang dapat menghasilkan kristal protein yang bersifat membunuh serangga (insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya. Kristal protein yang bersifat insektisidal ini biasad isebut δ-endotoksin. Kristal ini merupakan protoksin yang dimana jika larut dalam usus serangga akan berubah menjadi polipeptida yang lebih pendek (27-149 kd) dan juga mempunyai sifat insektisidal. Pada umumnya Kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena adanya aktivitas proteolisis dalam system pencernaan serangga yang dapat mengubah Bt-protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium dimidgut serangga. Telah banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori di sel membrane pada saluran pencernaan dan dapat mengganggu keseimbangan osmotik yang menyebabkan sel menjadi bengkak dan pecah sehingga menyebabkan kematian pada serangga (Hoftedan Whiteley, 1989).

Pertanaman jagung Bt mempunyai dampak positif terhadap lingkungan karena dapat menekan penggunaan peptisida sehingga menurunkan biaya produksi. Dampak positif lain dari pertanaman jagung Bt adalah ketahanan terhadap jamur toksin dari Fusariumya itu penyebab busuk pada tongkol, dibandingkan dengan jagung non-Bt yang mengalami kerusakan berat pada tongkol (Sustiprijanto, 2009). (*)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *