SUMBAWA BARAT, SR ( 14/11/2016)
Sebanyak 60 arsitek terbaik dunia sudah berkumpul di Pulau Kenawa Kecamatan Poto Tano Sumbawa Barat. Puluhan arsitek ini berasal dari belahan dunia seperti Amerika, Australia, Meksiko, Arab Saudi, Qatar, Inggris, dan Swedia. Kehadiran mereka yang langsung dipimpin arsitek terbaik dunia, Michael Raynolds, pada Senin (14/11) tadi hingga dua bulan mendatang, untuk membuat bangunan yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan cita-cita Pemerintah Daerah KSB yang ingin menjadikan Gili Balu termasuk Kenawa daerah wisata hijau yang ramah lingkungan. Keinginan ini langsung disambut baik PT ESL–perusahaan yang mengelola Gili Balu dengan mendatangkan puluhan arsitek ternama dunia untuk hadir di Kenawa mengadakan pelatihan Bangunan Ramah Lingkungan.
Bangunan ramah lingkungan tersebut sebagian besar terbuat dari limbah seperti ban bekas sebagai pondasi bangunan dan ratusan botol kaca untuk pengaturan suhu agar tetap mempertahankan tinggi suhu di dalam ruangan 18 derajat Celcius. Sebab di luar ruangan suhu Kenawa mencapai 40 derajat celcius, sehingga ruangan meski tanpa AC akan tetap sejuk dan nyaman. Bangunan bahan baku murah dan mudah didapatkan ini pernah dibangun Michael Raynolds di Mexiko—negara asalnya.
Jhon Higson selaku Direktur Eco Solution Lombok (ESL) mengatakan kegiatan ini awal pembangunan investasi di Gili Balu yang dimulai dari Pulau Kenawa. “Ini bentuk keseriusan kami dalam berinvestasi dan berkomitmen untuk menjadikan Gili Balu menjadi wisata hijau yang ramah lingkungan, dan saya berterima kasih kepada bupati yang telah mendukung kami untuk berinvestasi di daerah ini,” ucapnya.
Ucapan senada dikatakan Michael Rainolds. “Terima kasih untuk Pemda KSB yang telah mengijinkan kami datang melakukan pelatihan, dan PT ESL yang telah mengundang kami di tempat yang indah ini,” ujarnya.
Pembangunan rumah ramah lingkungan ini tidak akan menggunakan teknologi konstruksi pada umumnya melainkan bahan limbah yang dirancang menjadi bangunan yang indah dan sejuk meski berada di suhu yang tinggi. Setiap limbah yang dikeluarkan dari rumah tersebut akan dikelola kembali sehingga tidak akan mencemari lingkungan sekitar. “Kami tidak sabar lagi untuk melakukan pekerjaan ini selama 4 minggu kedepan,” ujarnya.
Sementara itu Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W. Musyafirin MM mengaku sudah lama Pemda menunggu pelaksanaan pekerjaan Gili Balu. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan MoU antara Pemda dan PT ESL, tiga tahun silam. Dalam pengelolaan Gili Balu ini, Bupati mengatakan semua pihak memberikan dukungan mulai dari masyarakatnya, pemda, dan stakeholder terkait seperti DKPP, Kehutanan, Bappeda dan BLH. Sejumlah SKPD ini sudah siap dengan fungsi masing-masing demi berjalannya investasi di Sumbawa Barat. Namun yang masih menjadi persoalan adalah perijinan yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi dan pusat yang hingga kini belum terealisasi. “Saya berharap kesabaran PT ESL akan berbuah manis nantinya,” imbuhnya seraya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Michael Renolds dan menilai kehadiran para arsitek dunia itu menjadi salah satu promosi bagi pemerintah dan Pulau Kenawa di mata dunia. (HEN/SR)










