NTB Jaga Reputasi Destinasi Ramah Muslim, Bertahan di Tiga Besar Nasional

oleh -88 Dilihat

JAKARTA, samawarea.com (17 Oktober 2026) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mempertahankan posisinya di jajaran tiga besar nasional sebagai destinasi pariwisata ramah Muslim. Dalam ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, NTB berhasil menempati peringkat ketiga, di bawah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Capaian tersebut mempertegas daya saing NTB dalam mengembangkan pariwisata ramah Muslim sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi yang berkualitas, inklusif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Penghargaan itu diterima Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, yang mewakili Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Penghargaan diserahkan Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, pada gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

Abul Chair mengatakan, capaian tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap prestasi daerah, tetapi juga mencerminkan kerja bersama seluruh pihak dalam menjaga kualitas dan memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslim di NTB.

“Alhamdulillah, NTB kembali meraih peringkat ketiga Indonesia Muslim Travel Index 2026. Ini merupakan kebanggaan sekaligus pengakuan atas konsistensi kita dalam membangun pariwisata ramah Muslim,” ujarnya.

Meski demikian, menurutnya, penghargaan tersebut harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas destinasi dan pelayanan kepada wisatawan.

Persaingan sektor pariwisata yang semakin ketat menuntut NTB tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan kekayaan budaya. Kebersihan, keamanan, kenyamanan, kemudahan akses terhadap fasilitas bagi wisatawan Muslim, serta keramahan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan.

Abul Chair menegaskan, konsep pariwisata ramah Muslim bukan berarti membatasi segmen wisatawan. Sebaliknya, pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan destinasi yang lebih nyaman dan inklusif bagi berbagai kalangan.

Dengan dukungan layanan berkualitas dan pengelolaan destinasi yang semakin baik, NTB dinilai memiliki peluang untuk memperluas pasar wisatawan sekaligus memperkuat citranya sebagai daerah yang menawarkan perpaduan keindahan alam, kekayaan budaya, dan kenyamanan berwisata.

Ia juga mengingatkan agar prestasi tersebut berdampak langsung terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Penghargaan ini milik seluruh masyarakat NTB, termasuk para pelaku usaha pariwisata, pemerintah kabupaten/kota, komunitas, dan semua pihak yang terus menjaga keramahan serta kualitas destinasi kita,” katanya.

Tantangan berikutnya, lanjut Abul Chair, adalah memastikan capaian tersebut sejalan dengan peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan usaha masyarakat, pembukaan lapangan kerja, serta kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah.

Untuk mempertahankan daya saing, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, masyarakat, dan mitra strategis, termasuk Bank Indonesia, perlu terus diperkuat. Sinergi tersebut mencakup peningkatan standar pelayanan, kapasitas sumber daya manusia, promosi destinasi, hingga pengembangan rantai nilai ekonomi halal.

Di tingkat internasional, peluang pengembangan pariwisata ramah Muslim Indonesia juga semakin terbuka. Dalam Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang menjadi bagian dari ISEF 2026, disampaikan bahwa Indonesia naik ke peringkat kedua dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dari posisi kelima pada 2025.

Perkembangan tersebut menjadi peluang bagi daerah, termasuk NTB, untuk memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan daya tarik bagi wisatawan Muslim mancanegara.

ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di JICC, Jakarta. Kegiatan ini melibatkan mitra ekonomi dan keuangan syariah dari dalam maupun luar negeri serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal.

Bagi NTB, mempertahankan peringkat ketiga IMTI 2026 menjadi modal penting untuk terus berbenah. Keberhasilan pariwisata ke depan tidak hanya diukur dari posisi dalam indeks, tetapi juga dari peningkatan kualitas destinasi, terbukanya peluang usaha, terciptanya lapangan kerja, dan manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan demikian, prestasi tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi NTB untuk memperkuat pariwisata ramah Muslim yang berdaya saing sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *