Ketika Tanah Sendiri Bercerita: Tiga Jendela Samawa Rea

oleh -111 Dilihat

Oleh: Muis Debe
Warga Pemerhati

Tanah Sumbawa telah lama diam dalam cerita orang lain. Gunung-gunungnya digambarkan dari kejauhan, lautnya diukur hanya dari peta, kekayaannya dihitung oleh tangan yang tak pernah menanam di sini. Orang datang mengambil, lalu menceritakan apa yang mereka lihat β€” dan yang tak mereka lihat, sering terhapus begitu saja.

Namun tanah ini tidak pernah kehilangan suaranya. Ia menunggu mereka yang tinggal di sini, yang tahu bahwa debu tambang juga menyentuh halaman rumah, bahwa kemajuan membawa perubahan yang tidak selalu mudah, bahwa di antara kemajuan dan kelestarian, ada kehidupan nyata yang harus terus berjalan setiap hari.

Adalah π‘†π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘€π‘Ž π‘…π‘’π‘Ž β€” media daerah dengan π‘‘π‘Žπ‘”π‘™π‘–π‘›π‘’ “Lokal yang Mengglobal” β€” hadir dengan napas yang seirama dengan tanahnya. Melalui suatu event jurnalistik, Samawa Rea memenangkan kompetisi Cerita Sasambo 2026 — yang diselenggarakan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) — untuk tiga kategori tertentu.

Para pemenang baru diumumkan Sabtu akhir pekan kemarin, dalam Malam Penganugerahan Cerita Sasambo 2026, yang dilaksanakan di Sembalun, kaki gunung Rinjani, Lombok Timur, salah satu lokasi ikonik yang merepresentasikan keindahan alam dan kekayaan identitas Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tiga karya jurnalis produk π‘†π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘€π‘Ž π‘…π‘’π‘Ž tersebut kini berdiri seperti tiga jendela yang terbuka lebar.

Jendela pertama, π‘†π‘šπ‘’π‘™π‘‘π‘’π‘Ÿ 𝐴𝑀𝑀𝐴𝑁 π‘…π‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘›π‘” 100 π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘›, 𝐾𝑆𝐡 π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–π‘Žπ‘ π‘€π‘Žπ‘ π‘’π‘˜π‘– πΈπ‘Ÿπ‘Ž πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘– (Hendra Ardiansyah) menatap ke depan, menyambut cahaya baru yang membawa perubahan, tanpa lupa bertanya: untuk siapa cahaya itu bersinar?

Jendela kedua, π‘€π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘”π‘Ž π΄π‘–π‘Ÿ π‘‡π‘Žπ‘›π‘Žβ„Ž π·π‘–π‘šπ‘’π‘™π‘Žπ‘– π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– πΏπ‘Žπ‘’π‘‘, πΆπ‘Žπ‘Ÿπ‘Ž 𝐴𝑀𝑀𝐴𝑁 π‘€π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘€π‘Žπ‘‘ π‘€π‘Žπ‘ π‘Ž π·π‘’π‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‡π‘’π‘™π‘’π‘˜ 𝐡𝑒𝑛𝑒𝑑𝑒 (Zainuddin), menatap ke bumi yang memberi makan, mengingatkan bahwa apa yang diambil harus dikembalikan dengan tangan yang penuh hormat.

Dan jendela ketiga, 𝐴𝑀𝑀𝐴𝑁 π‘‘π‘Žπ‘› πΎπ‘Ÿπ‘’ π΄π‘™π‘Žπ‘›π‘”: π‘€π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘”π‘Ž π΅π‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘” πΏπ‘’π‘™π‘’β„Žπ‘’π‘Ÿ, 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑛𝑒𝑛 π‘€π‘Žπ‘ π‘Ž π·π‘’π‘π‘Žπ‘› π‘†π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Ž (Zainuddin),
menatap ke dalam β€” ke arah benang yang tak terlihat, ke warisan yang tak bisa ditambang, ke kebudayaan yang adalah akar dari segalanya.

Tiga penghargaan itu bukan sekadar piala di atas meja. Ia adalah bukti bahwa cerita yang paling jujur tumbuh dari tanah tempat kita berpijak. Bahwa mata sendiri melihat lebih tajam, hati sendiri memahami lebih dalam, dan suara sendiri β€” meski kadang bergetar β€” adalah yang paling benar untuk menceritakan rumah kita. π‘†π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘€π‘Ž π‘‡π‘Žπ‘›π‘Ž π΅π‘’π‘™π‘Žπ‘’π‘›π‘”..!

Tanah Sumbawa tidak lagi diam menunggu orang lain bercerita tentangnya. Ia kini bercerita β€” melalui anak-anaknya sendiri. Dan dunia amendengarkan. ****

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *