Sumbawa Dapat Jatah Pupuk Bersubsidi Perikanan Terbesar di NTB, Capai 1.000 Ton

oleh -45 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (28 September 2026) — Kabar menggembirakan datang bagi para pembudidaya ikan di Kabupaten Sumbawa. Daerah ini mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi sektor perikanan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencapai 1.000 ton atau 1 juta kilogram.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Sosialisasi dan Optimalisasi Penyaluran Pupuk Bersubsidi Sektor Perikanan yang dibuka Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Prasarana dan Sarana Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Egar Sadtopo, Pimpinan Pupuk Indonesia, Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya Kemenko Pangan, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok, jajaran Pemkab Sumbawa, camat, kepala desa, kepala UPT, penyuluh, pemilik kios, hingga ratusan pembudidaya ikan.

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Haji Jarot menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor perikanan budidaya di Kabupaten Sumbawa.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa saya menyampaikan terima kasih. Kehadiran Bapak Direktur menjadi bukti nyata komitmen pemerintah pusat untuk pengembangan budidaya perikanan di Kabupaten Sumbawa,” ujar Bupati.

Menurutnya, Sumbawa memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Salah satunya kawasan Teluk Saleh yang tidak hanya kaya biota laut, tetapi juga memiliki potensi wisata bahari. Potensi tersebut, kata dia, harus dikelola secara berkelanjutan dengan tetap menjaga ekosistem pesisir, termasuk melalui penanaman mangrove.

Terkait alokasi pupuk bersubsidi, Bupati menyebut kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi pembudidaya ikan. Sebab, selama ini pembudidaya harus bersaing mendapatkan pupuk dengan sektor pertanian.

“Alhamdulillah, Sumbawa mendapatkan kuota terbesar di Provinsi NTB. Pupuk bukan sekadar pelengkap, pupuk adalah kunci untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton. Kalau plankton ada, udang dan ikan di tambak tidak akan mati dan produktivitas akan naik,” jelasnya.

Bupati menegaskan penyaluran pupuk bersubsidi telah menggunakan sistem digital dan elektronik. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah penyalahgunaan sekaligus memastikan pupuk diterima pembudidaya yang telah terdata.

Karena itu, ia meminta Dinas Kelautan dan Perikanan bersama para penyuluh segera mempercepat pendataan pembudidaya, terutama di wilayah pesisir yang belum masuk dalam data penerima.

“Jangan sampai kuota yang disiapkan tidak terserap karena data belum lengkap,” tegasnya.

Bupati juga mengingatkan pembudidaya agar menggunakan pupuk sesuai dosis dan kebutuhan, serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dalam kegiatan budidaya.

Sementara itu, Direktur Prasarana dan Sarana Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP RI, Egar Sadtopo, menegaskan Sumbawa menjadi daerah dengan alokasi pupuk bersubsidi sektor perikanan terbesar di NTB.

“Untuk Sumbawa ini paling besar, 1.000 ton sendiri. Kalau kabupaten lain 480 ton. Jadi ada 1.000 ton atau 1 juta kilogram yang bisa Bapak-Ibu manfaatkan,” ungkap Egar.

Ia menyebut alokasi tersebut merupakan peluang bagi pembudidaya untuk meningkatkan produksi sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.

Namun, Egar menyoroti persoalan pendataan pembudidaya. Dari total alokasi 1.000 ton tersebut, saat ini baru 99 pembudidaya yang tercatat sebagai penerima.

Karena itu, ia meminta para penyuluh bergerak cepat melakukan pendataan dan validasi agar alokasi pupuk dapat terserap secara optimal.

“Mudah-mudahan yang belum mendaftarkan, rekan-rekan penyuluh sanggup memacu pendataan dan validasi sampai siap,” harapnya.

Egar menargetkan pupuk bersubsidi tersebut sudah dapat tersalurkan dan dimanfaatkan pembudidaya pada Oktober mendatang. Apabila kebutuhan meningkat seiring bertambahnya produksi, tambahan alokasi dapat diusulkan pada tahun berikutnya.

Ia juga menjelaskan besarnya manfaat subsidi bagi pembudidaya. Salah satunya pupuk Urea yang mendapatkan subsidi sehingga dapat ditebus dengan harga Rp 1.800 per kilogram.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan teknis penyaluran pupuk bersubsidi kepada pembudidaya, serta pembagian doorprize kepada para peserta. (SR)

amman nusantara bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *