SUMBAWA BESAR, samawarea.com (29 September 2026) — Pertemuan para tokoh yang dikemas dalam Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa di Olat Utuk, Pondok Pesantren Dea Malela, Pemangong, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, selama tiga hari, 25–27 September 2026, melahirkan maklumat penting tentang arah kebudayaan dan masa depan Tau ke Tana Samawa.
Pertemuan tahunan yang diinisiasi Prof. Dr. H. Din Syamsuddin dan mengusung tema “Parenti Kalanis Pitu” tersebut menjadi ruang bertukar pikiran, membaca perubahan zaman, sekaligus menggali kembali nilai-nilai yang hidup dalam kebudayaan Tau ke Tana Samawa. Para tokoh yang hadir di antaranya Sultan Sumbawa, Prof Din Syamsuddin, H. Johan Rosihan, Dr. Zulkieflimansyah, Wakil Bupati Sumbawa, Drs. Mohamad Ansori, Rektor UNSA Prof Syaifuddin Iskandar M.Pd, Ketua DPRD Nanang Nasiruddin, Wakil Ketua DPRD, H. Berlian Rayes dan Zulfikar Demitry, serta tokoh Samawa penting lainnya dari Sumbawa dan KSB.
Dari pertemuan itu, para tokoh menyepakati dan menyampaikan Maklumat Olat Utuk 2026. Maklumat tersebut menegaskan bahwa pembangunan masa depan Sumbawa tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan material, tetapi membutuhkan manusia yang memiliki keberanian, ketangguhan, etos kerja, kecerdasan, adab, solidaritas, serta pegangan nilai.
Dalam maklumat tersebut ditegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar kenangan tentang masa lalu, melainkan cara sebuah masyarakat menentukan bagaimana mereka hidup dan ke mana akan melangkah.
Karena itu, Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa memandang penting untuk menghidupkan dan mengimplementasikan Sampanang Parenti Kalanis Pitu Tau ke Tana Samawa sebagai pegangan bersama bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Tujuh nilai tersebut terdiri dari Baraning (Berani), Kawa (Daya Tahan), Jujel (Pantang Mundur), Pragas (Progresif), Kiak (Gigih), Basabeta (Pantang Menyerah), dan Boto (Terampil).
Dalam maklumat itu, para tokoh meneguhkan Tau Samawa sebagai manusia yang berani dan memiliki daya tahan. Nilai Baraning, Kawa, dan Jujel dinilai perlu tumbuh melalui keluarga, sekolah, lingkungan sosial hingga kehidupan publik.
Tau Samawa diharapkan berani menghadapi perubahan, kuat menghadapi kesulitan, serta tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan tantangan zaman.
Selain itu, Maklumat Olat Utuk menyerukan kebangkitan etos kerja Tau Samawa. Pragas, Kiak, dan Basabeta diharapkan menjadi watak dalam bekerja, belajar, berusaha dan mengabdi.
Masa depan Tana Samawa, menurut maklumat tersebut, harus dibangun oleh masyarakat yang progresif, gigih, tekun, produktif dan mampu bersaing dalam pergaulan dunia tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Maklumat tersebut juga meneguhkan kembali Parenti Kalanis Boto sebagai kekuatan keluarga dan peradaban. Boto dimaknai sebagai keterampilan dan ketangkasan dalam mengelola kehidupan yang didasari pengetahuan dan kepribadian.
Nilai tersebut juga dikaitkan dengan peran Tau Samawa, terutama kaum perempuan yang tampil dengan berbagai peran dalam membangun ketahanan keluarga dan masyarakat.
Para tokoh juga menyerukan pemulihan adab edap rabasa dalam kehidupan Tau Samawa. Bahasa disebut sebagai rumah kebudayaan sehingga adab dalam berbicara, memilih kata, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, berbeda pendapat dan memperlakukan sesama harus mencerminkan martabat Tau Samawa.
Dalam konteks itu, Maklumat Olat Utuk merekomendasikan kepada pemerintah daerah agar menetapkan satu hari kerja dalam seminggu sebagai hari berbahasa Samawa di kantor pemerintahan dan sekolah di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat, dengan tetap memperhatikan dialek masing-masing.
Pemerintah daerah di masing-masing wilayah juga direkomendasikan menetapkan standar penggunaan Bahasa Sumbawa sesuai karakteristik wilayahnya.
Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa juga menyerukan agar masyarakat menolak tumbuhnya individualisme yang dinilai dapat memutus ikatan sosial.
Dari nilai Ila’, kehidupan diarahkan menuju semangat Saling Pendi, Saling Satotang, dan Saling Satingi. Harga diri, menurut maklumat tersebut, harus melahirkan penghargaan terhadap orang lain, sementara keberhasilan seseorang hendaknya memperkuat kebersamaan dan tidak menjauhkan diri dari masyarakat.
Para tokoh juga menyerukan pelembagaan nilai-nilai Samawa. Baraning, Kawa, Jujel, Pragas, Kiak, Basabeta dan Boto, bersama adab edap dan semangat saling menghargai, diharapkan tidak berhenti sebagai semboyan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan hidup dalam keluarga, sekolah, pesantren, pemerintahan, lembaga adat, dunia usaha hingga komunitas masyarakat melalui kebiasaan, keteladanan, pendidikan dan tindakan nyata.
Pada bagian penting lainnya, Maklumat Olat Utuk mengingatkan kembali akar terdalam peradaban Tana Samawa: “Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Ko Kitabullah, Takit Ko Nene Kangila Boat Lenge.”
Nilai tersebut ditempatkan sebagai landasan etik agar kemajuan tidak mencabut Tau Samawa dari akar spiritual, adat dan martabat kemanusiaannya.
Para tokoh berpandangan, Samawa yang kuat bukanlah Samawa yang selalu menoleh ke masa lalu. Sebaliknya, kekuatan itu lahir ketika nilai terbaik dari masa lalu memiliki keberanian untuk menjawab tantangan masa depan.
Karena itu, Maklumat Olat Utuk menyerukan kepada orang tua, guru, ulama, tokoh adat, pemerintah, dunia usaha, pemuda, perempuan dan seluruh Tau ke Tana Samawa untuk mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut.
Pesan utamanya adalah mewariskan kepada generasi mendatang bukan hanya tanah bernama Sumbawa, tetapi juga cara menjadi Tau Samawa.
Manusia yang teguh keyakinannya, tinggi adabnya, berani sikapnya, kuat daya tahannya, gigih ikhtiarnya, cakap kehidupannya, halus bahasanya dan kokoh persaudaraannya.
“Tana Samawa boleh berubah. Zaman boleh bergerak. Dunia boleh semakin terbuka. Tetapi Tau Samawa tidak boleh kehilangan dirinya,” demikian salah satu penegasan dalam Maklumat Olat Utuk 2026.
Maklumat tersebut ditutup dengan ikhtiar bersama untuk menghidupkan Sampanang Parenti Kalanis Samawa sebagai pegangan nilai, jalan pendidikan dan amanah kebudayaan bagi generasi yang akan datang.
Maklumat itu ditetapkan di Tana Samawa, 27 September 2026 bertepatan dengan 16 Rabi’ul Akhir 1448, atas nama Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa.
“Tak ada peradaban yang besar tanpa manusia yang tahu dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan nilai apa yang harus ia wariskan.” (SR)






