SUMBAWA BESAR, samawarea.com (9 Agustus 2026) – Setelah sekitar 12 tahun tak digunakan, Arena Pacuan Kuda Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir, kembali bergemuruh. Sebanyak 278 ekor kuda ambil bagian dalam Pacuan Kuda Bupati Sumbawa Cup 2026 yang resmi dibuka Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., Minggu (9/8/2026).
Geliat arena pacuan tersebut menjadi penanda kebangkitan kembali salah satu tradisi dan olahraga khas masyarakat Sumbawa yang sempat mengalami kemunduran.
Bupati Sumbawa dalam sambutannya mengaku bersyukur melihat tingginya antusiasme peserta tahun ini. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang masih di bawah 200 ekor.
“Alhamdulillah tahun ini hampir 300. Kenapa beberapa tahun lalu sepi? Karena fasilitasnya belum memadai. Banyak pencinta kuda yang beralih memelihara kerbau,” ujar Bupati.
Menurutnya, membangkitkan kembali pacuan kuda tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga menyelamatkan tradisi dan budaya masyarakat Sumbawa.
Ia menyebut pacuan kuda memiliki posisi yang sama pentingnya dengan tradisi barapan kebo yang selama ini menjadi identitas budaya daerah.
Dahulu, hampir setiap kecamatan di Kabupaten Sumbawa memiliki arena pacuan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Namun, seiring waktu, keberadaan arena-arena tersebut semakin berkurang.
Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen melakukan pembenahan fasilitas sekaligus menghidupkan kembali arena pacuan kuda di sejumlah kecamatan.
Di Arena Moyo, misalnya, sejumlah pembenahan mulai dilakukan. Tahun ini dilakukan penanaman pohon untuk mengurangi kondisi arena yang gersang serta pelebaran panggung kehormatan.
“InsyaAllah tahun depan akan kita buat event yang lebih menarik lagi,” janji Bupati.
Ada satu hal yang menjadi perhatian serius Bupati Sumbawa, yakni keberadaan kuda asli Sumbawa yang dinilai semakin tersisih oleh dominasi kuda-kuda berukuran besar dari luar daerah, terutama dari Sumba.
Kondisi itu, menurutnya, ikut berdampak terhadap minat masyarakat dalam memelihara kuda. Peternak maupun pencinta kuda lokal bisa kehilangan semangat karena merasa sulit bersaing.
Bupati pun menegaskan ke depan kuda asli Sumbawa harus mendapatkan ruang lebih besar dalam setiap event pacuan.
“Sekarang kita akan prioritaskan kuda-kuda yang memang asli Sumbawa yang banyak dimiliki petani atau masyarakat. Kalaupun ada kuda besar seperti dari Sumba, bisa kita buat kelas khusus. Tapi yang paling utama adalah kuda asli Sumbawa,” tegasnya.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat kembali memelihara dan mengembangkan kuda lokal. Dengan demikian, pacuan kuda tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan peternakan masyarakat.
Bupati juga melihat potensi pacuan kuda sebagai salah satu daya tarik wisata yang sangat besar.
Menurutnya, tradisi pacuan kuda Sumbawa memiliki keunikan yang dapat menarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan langsung tradisi tersebut.
Namun, event pacuan kuda selama ini masih terbatas dan umumnya hanya digelar sekali dalam setahun.
Karena itu, pemerintah daerah bertekad mengembangkan event tersebut secara lebih serius dan menghidupkan kembali arena pacuan di kecamatan-kecamatan yang pernah menjadi pusat kegiatan pacuan kuda.
“Pacuan kuda ini akan menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif,” katanya.
Bupati juga mengajak seluruh pihak, mulai dari peserta, panitia hingga penonton, menjaga sportivitas dan ketertiban selama pertandingan.
Pacuan Kuda Bupati Sumbawa Cup 2026 mempertandingkan 12 kelas dan diharapkan menjadi momentum awal kebangkitan kembali tradisi pacuan kuda di Kabupaten Sumbawa.
Sementara itu, Ketua Pordasi Kabupaten Sumbawa, H. Jabir, S.Pd., mengapresiasi dukungan penuh Bupati Sumbawa terhadap kebangkitan pacuan kuda.
Ia menyebut peningkatan jumlah peserta tahun ini sebagai bukti bahwa masyarakat dan para pencinta kuda masih memiliki antusiasme besar.
“Peserta yang hadir semangat, 278 peserta. Tahun kemarin kurang dari 200 dan tahun ini hampir 300. Alhamdulillah,” ujarnya.
Jabir mengungkapkan Arena Pacuan Kuda Moyo sudah sekitar 12 tahun tidak digunakan dan kondisinya sempat memprihatinkan. Kini, arena tersebut kembali hidup setelah mendapat dukungan pemerintah daerah.
“Alhamdulillah berkat support Bapak Bupati, arena ini hidup kembali. Di wilayah Moyo rata-rata penggemar pacuan kuda semua,” katanya.
Pordasi, lanjutnya, juga akan melakukan pembenahan lanjutan. Salah satunya rencana pelebaran tanggul arena pada tahun depan sesuai arahan Bupati.
“Kami atas nama masyarakat dan pecinta pacuan kuda mendoakan Bapak Bupati sehat selalu dan terus mensupport tradisi ini,” pungkasnya.
Pembukaan Bupati Cup 2026 turut dihadiri Kapolres Sumbawa, unsur Forkopimda atau yang mewakili, Camat Moyo Hilir, serta jajaran Pordasi Kabupaten Sumbawa.
Dengan ratusan kuda yang ambil bagian, arena yang kembali hidup setelah 12 tahun, serta komitmen pemerintah mengembangkan kuda lokal, Bupati Cup 2026 menjadi sinyal kuat bahwa tradisi pacuan kuda Sumbawa belum mati—dan kini tengah dibangkitkan kembali. (SR)






