BRIN Ungkap Sedimentasi di Teluk Saleh Ancam Terumbu Karang, Pemkab Sumbawa Perkuat Program Hijau Lestari

oleh -154 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (12 Mei 2026) – Hasil penelitian (BRIN) mengungkap terjadinya peningkatan laju sedimentasi secara signifikan di kawasan Teluk Saleh. Kondisi ini dinilai mulai berdampak terhadap ekosistem laut, terutama terumbu karang dan kualitas perairan di kawasan tersebut.

Kepala Bapperinda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo yang dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Selasa (12/5/26), membenarkan hasil penelitian tersebut. Menurutnya, BRIN melakukan pengukuran langsung terhadap sampel sedimentasi di lapangan, sekaligus memanfaatkan citra satelit untuk memetakan pola rona wilayah perairan Teluk Saleh.

“Memang dari hasil penelitian BRIN itu terkonfirmasi laju sedimentasi meningkat signifikan. Tapi mereka belum sampai menyimpulkan bahwa 10 tahun lagi Teluk Saleh akan tertutup atau rusak total. Yang jelas ada peningkatan dampak yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Doktor Dedi menjelaskan, dampak paling nyata dari sedimentasi adalah tertutupnya terumbu karang oleh lumpur. Kondisi tersebut dapat memicu kerusakan ekosistem karang yang selama ini menjadi habitat penting biota laut.

Selain itu, sedimentasi juga mengganggu kualitas air, terutama pada musim hujan. Material sedimen yang terbawa aliran air diduga mengandung sisa pestisida dan zat kimia lain dari aktivitas pertanian di wilayah hulu.

“Hasil penelitian menemukan pola sedimentasi itu berkumpul di mulut Teluk Saleh, terutama di wilayah cekungan antara Sumbawa dan Dompu. Itu dipengaruhi pola arus laut yang mengarah ke titik tersebut,” jelasnya.

Menurut Doktornya Dedi, tingginya sedimentasi tidak terlepas dari aktivitas penanaman jagung secara monokultur di kawasan hulu dan daerah dengan kemiringan tinggi. Tanaman jagung dinilai tidak cukup kuat menahan air sehingga memperbesar risiko erosi saat hujan.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui program Sumbawa Hijau Lestari terus mendorong langkah mitigasi jangka panjang. Salah satunya melalui surat edaran Bupati terkait larangan penanaman jagung di kawasan hutan.

“Semangatnya adalah mengembalikan tegakan pohon besar di kawasan hutan agar mampu menahan erosi,” katanya.

Selain penghijauan, pemerintah juga mulai mendorong penerapan pola tanam terasering pada lahan dengan tingkat kemiringan di atas 15 persen. Pola ini diyakini mampu mengurangi aliran permukaan (run off) yang menjadi penyebab utama erosi.

“Pemerintah perlu menggerakkan penyuluh pertanian dan sosialisasi kepada masyarakat agar pola tanam di daerah miring memperhatikan sistem terasering,” tambahnya.

Meski sedimentasi meningkat, Doktor Dedi menyebut ada fenomena positif yang terjadi di Teluk Saleh, yakni masih tingginya kemunculan hiu paus. Berdasarkan informasi dari kawasan konservasi Indonesia, kondisi perubahan iklim dan meningkatnya suhu laut justru memicu pertumbuhan biota kecil seperti rebon dan udang yang menjadi sumber makanan hiu paus.

“Jadi ada sisi negatif karena erosi, tapi ada juga sisi positif karena ketersediaan makanan Hiu Paus meningkat akibat perubahan suhu laut,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama Pemerintah Provinsi NTB dan pihak kawasan konservasi Indonesia tengah menyelesaikan tahap akhir pembentukan kawasan konservasi berbasis spesies Hiu Paus di Teluk Saleh.

Menurut Doktor Dedi, proses deliniasi kawasan dan sosialisasi kepada masyarakat telah dilakukan, dan saat ini tinggal menunggu penetapan resmi dari Menteri terkait.

“Kalau kawasan konservasi ini sudah ditetapkan, nanti akan ada rambu-rambu pengelolaan yang lebih jelas. Tapi yang paling penting tetap kesadaran masyarakat melalui edukasi dan pemberian alternatif ekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *