TAU SAMAWA: Antara Alarm Kebangkitan dan Sindrom Kepuasan Semu

oleh -1317 Dilihat

Oleh: Rusmin Nurjadin (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Universitas Teknologi Sumbawa / Pengampu Mata Kuliah Masyarakat dan Kebudayaan Sumbawa) 

Ada sebuah premis menohok dalam flyer yang dibagikan kepada peserta bedah karya malam tadi: “Budaya tidak hilang secara tiba-tiba, tetapi memudar perlahan…”. Pemutaran perdana karya video musik dan bedah karya “TAU SAMAWA” dari Iqbal Sanggo di Bala Putih bukanlah sekadar perayaan estetika visual dan harmonisasi nada. Tau Samawa, dan lima karya Sanggo lainnya: Panyomo, Sopo Sapolak, Guar Tangar, Selam Ano, dan Alam Sumbawa hadir sebagai lonceng peringatan, sebuah upaya keras untuk memutar balik ingatan kolektif kita tentang identitas otentik Tau dan Tana Samawa yang diam-diam sedang luruh ditelan zaman.

Namun, saat kita duduk bersama membedah dan mengagumi keindahan karya ini, kita sejatinya sedang dihadapkan pada sebuah paradoks kebudayaan yang kritis. Hari ini, kita hidup di era dimana masyarakat seringkali terjebak dalam “sindrom kepuasan semu” (false satisfaction syndrome) terhadap budayanya sendiri.

Kita merasa telah menjadi representasi “Tau Samawa” hanya karena membagikan video kesenian lokal di media sosial, mengenakan pakaian adat pada seremoni formal, atau mendengarkan lantunan Lawas dan Sakeco. Kita merasa bangga dan mengira telah melestarikan budaya, padahal kebanggaan itu sering kali berhenti di permukaan layar gawai. Kita sibuk meromantisasi pesona masa lalu, memujanya sebagai artefak estetika, namun abai membumikan falsafah di baliknya dalam realitas keseharian. Nilai agung seperti Ila (rasa malu bermartabat) perlahan digerus oleh pragmatisme banal, sikap mementingkan keuntungan sesaat yang mengabaikan etika. Falsafah Takit ko Nene’, kangila boat lenge (Takut pada Allah, malu berbuat buruk) lebih sering bergema di panggung pertunjukan ketimbang di meja-meja birokrasi, ruang kelas, atau di tengah hiruk-pikuk pasar. Kita merayakan kebudayaan sebagai tontonan, namun secara tragis membiarkannya mati sebagai tuntunan.

Di sinilah mahakarya “TAU SAMAWA” harus diposisikan sebagai “lonceng atau alarm kebangkitan” yang menggedor kesadaran, bukan sekadar pelipur lara kultural. Ambil contoh dalam karya lain Iqbal Sanggo; Panyomo dan Alam Sumbawa. Di tengah masifnya eksploitasi ruang hidup dan ambisi pembangunan yang sering kali rabun terhadap ekologi, karya ini melempar kritik tajam atas keserakahan manusia. Ia mengingatkan bahwa tata kelola alam harus dilandasi prinsip keseimbangan (Samalewa), bukan dihabiskan demi syahwat ekonomi sesaat. Begitu pula dengan Guar Tangar yang mendorong anak muda untuk terbang jauh meluaskan wawasan, namun mengingatkan mereka agar tak kehilangan jangkar identitasnya di tengah gempuran arus globalisasi.

Malam bedah karya ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar forum katarsis. Jika kita pulang hanya dengan membawa rasa haru tanpa ada perubahan laku dan kebijakan nyata, maka karya indah ini ironisnya hanya akan berakhir sebagai nyanyian duka yang mengiringi pemakaman kebudayaan kita yang memudar perlahan.

Menyelamatkan kebudayaan Tana Samawa menuntut lebih dari sekadar apresiasi seni, ia menuntut keteladanan. Budaya tak butuh diselamatkan ke dalam etalase museum, ia butuh dihidupkan dalam laku keseharian. Alarm kebangkitan telah dibunyikan dengan sangat paripurna oleh Iqbal Sanggo. Kini, tugas kita bersama untuk bangun dari tidur panjang kepuasan semu, meruntuhkan paradoks itu, dan mengembalikan roh kebudayaan ke dalam denyut nadi peradaban yang sesungguhnya.

Parenti Tau Samawa

Sai to dua ila, telu saling satingi

Sakantap satego gama

Menjadi Tau Samawa pada akhirnya bukanlah sekadar soal garis keturunan atau di atas tanah mana kita dilahirkan. Menjadi Tau Samawa sejati adalah tentang kesediaan, komitmen, dan keberanian kita untuk terus hidup, bernapas, dan mengambil keputusan yang berpegang teguh pada nilai-nilai luhur tersebut. Sanggo dan karyanya adalah jembatan, tugas kitalah untuk memastikan jembatan itu terus dilewati oleh generasi-generasi berikutnya. (*)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *