Oleh: DR. Herdiyanto
Di zaman di mana semua orang berlomba untuk terlihat, ada satu tipe manusia yang justru memilih sebaliknya: tidak banyak bicara, tidak cari panggung tapi hasilnya terasa nyata.
Namanya Rosidah, S.Pd.
Sehari-hari, beliau guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Sumbawa Besar. Tapi kalau cuma dibilang “guru”, rasanya kurang lengkap. Karena yang dia lakukan bukan sekadar ngajarin tanda baca atau bikin paragraf rapi. Dia ngajarin cara hidup lewat kata-kata.
Rosidah itu tipe orang yang nggak cari panggung. Nggak heboh, nggak banyak tampil. Tapi justru di situ letak “kelasnya”. Apa yang dia lakukan pelan, tapi pasti. Nggak berisik, tapi kena.
Di kelas, dia bukan cuma ngajarin murid buat nulis bagus. Dia ngajarin mereka buat nulis jujur. Karena buat dia, kejujuran itu jauh lebih penting daripada sekadar kalimat yang “indah”.
Dan menariknya, dunia Rosidah nggak berhenti di ruang kelas.
Di sela-sela kesibukannya, dia menulis. Kadang puisi, kadang cerpen. Bukan karena mau terkenal, tapi karena memang ada yang ingin disampaikan. Tulisan-tulisannya itu kayak bisikan nggak teriak, tapi bikin orang mikir lama setelah baca.
Kadang tentang ibu. Kadang tentang kehilangan. Kadang tentang hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele, tapi ternyata punya makna dalam.
Dan satu hal yang bikin perjalanan Rosidah beda dari yang lain: cintanya pada budaya.
Di tengah dunia yang serba cepat, dia justru memilih “menoleh ke belakang”. Tapi bukan untuk nostalgia kosong melainkan untuk menghidupkan kembali sesuatu yang hampir hilang.
Namanya Satera Jontal.
Buat sebagian orang, itu mungkin cuma bagian dari masa lalu. Tapi buat Rosidah, itu identitas. Sesuatu yang harus dijaga, dirawat, dan yang paling penting dihidupkan kembali.
Caranya? Nggak ribet.
Lewat batik.
Dengan tangan dan imajinasinya, aksara-aksara kuno itu dia pindahkan ke kain. Jadi motif. Jadi cerita. Jadi sesuatu yang bisa dipakai, dilihat, dan dirasakan.
Setiap garis bukan sekadar hiasan. Tapi jejak budaya. Setiap pola bukan sekadar desain. Tapi identitas yang sedang dibangkitkan lagi.
Pelan-pelan, Satera Jontal yang dulu “diam di buku” mulai hidup lagi. Masuk ke ruang-ruang baru. Dikenal generasi muda. Dipakai dengan bangga.
Tanpa banyak bicara, Rosidah sebenarnya lagi melakukan sesuatu yang besar: menghidupkan ingatan kolektif sebuah daerah.
Sebagai bagian dari pengembang kurikulum di sekolahnya, dia juga membawa semangat yang sama ke dunia pendidikan. Buat dia, sekolah itu nggak boleh lepas dari akar budaya. Karena pendidikan yang kuat itu bukan yang paling modern—tapi yang tahu dari mana dia berasal.
Dia percaya, kita bisa maju jauh tanpa harus kehilangan arah. Asal kita kenal diri kita sendiri.
Dan cara dia menyampaikan semua itu juga unik. Nggak menggurui. Nggak sok bijak. Dia cuma bercerita. Tapi justru karena itu, pesannya sampai.
Ada kelembutan di setiap kalimatnya, tapi juga ada keteguhan. Dia nggak nulis untuk pamer. Dia nulis untuk menyampaikan.
Dan di zaman yang penuh kata-kata kosong, kejujuran seperti itu jadi sesuatu yang langka.
Rosidah mungkin bukan nama yang sering muncul di panggung besar. Tapi seperti banyak hal penting dalam hidup, apa yang dia lakukan bekerja dalam diam—perlahan, tapi berdampak.
Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatannya.
Dari Sumbawa, dia menjaga kata.
Dari kata, dia menjaga budaya.
Dan dari budaya, dia menjaga kita—agar nggak lupa kita ini siapa. (*)






