Sumbawa Barat, Samawarea.com – 29/4/2026
Kondisi memprihatinkan ditemukan di lokasi pekerjaan jalan di wilayah Pola Mata, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Kabel Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) yang seharusnya tertanam rapi di dalam tanah justru terlihat tergeletak di permukaan sepanjang kurang lebih satu kilometer. Temuan ini memicu kekhawatiran warga serta pihak yang memantau di lapangan karena dinilai sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan risiko serius.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kabel tersebut berada tepat di bawah area perbukitan yang juga menjadi jalur utama aktivitas proyek pembangunan jalan. Kondisi ini membuat kabel sangat rentan terhadap berbagai potensi kerusakan. Aktivitas alat berat yang terus berlangsung di sekitar area proyek dapat dengan mudah menggores atau bahkan merusak lapisan pelindung kabel. Selain itu, gesekan dengan material proyek seperti batu dan tanah urugan juga dapat menyebabkan kabel terkelupas.
Salah satu sumber di lapangan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tersebut. “Ini sangat berbahaya. Kabel ini bertegangan tinggi. Kalau sampai terkelupas atau rusak, dampaknya bisa fatal, baik bagi pekerja maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Kabel SKTM ini diketahui merupakan jalur vital yang menyuplai aliran listrik dari Kecamatan Jereweh menuju Kecamatan Maluk hingga ke Kecamatan Sekongkang. Dengan fungsi yang begitu penting, kerusakan pada kabel tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi listrik di beberapa wilayah sekaligus. Pemadaman listrik dalam skala luas bisa terjadi jika kabel mengalami gangguan serius.
Lebih jauh, kondisi pemasangan kabel yang tidak sesuai standar ini menjadi sorotan. Secara teknis, kabel tanam seharusnya ditempatkan di bawah permukaan tanah dengan perlindungan khusus, baik berupa pipa pelindung maupun sistem pengaman lainnya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kabel dibiarkan terbuka tanpa pengamanan memadai, bahkan tanpa tanda peringatan bahaya di sekitarnya. Hal ini semakin meningkatkan risiko kecelakaan, terutama di area proyek yang dilalui kendaraan umum dan alat berat.
Warga sekitar berharap pihak terkait segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk mengatasi persoalan ini. Mereka menilai penanganan segera sangat penting, tidak hanya untuk mencegah potensi kecelakaan kerja, tetapi juga untuk menjaga stabilitas pasokan listrik bagi masyarakat.
Sementara itu, Manajer ULP Taliwang, I Putu Eka Juliartah, memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut. Ia menyebut bahwa posisi kabel yang masih berada di permukaan disebabkan oleh proses pembangunan jalan yang belum selesai. Dalam perencanaan awal, pihak balai jalan telah menyiapkan gorong-gorong khusus untuk penempatan kabel, baik milik penyedia layanan maupun PLN.
“Untuk kabel merah itu, memang karena jalan belum selesai. Dalam perencanaan awal dengan balai jalan akan ada gorong-gorong untuk kabel. Saat ini posisi kabel juga masih terdampak pelebaran jalan dan kemungkinan akan berpindah lagi,” jelasnya pada 29 April 2026.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran warga. Mereka tetap berharap adanya langkah pengamanan sementara, seperti pemasangan pelindung tambahan atau penandaan area berbahaya, guna meminimalkan risiko selama proses pembangunan berlangsung.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi yang matang dalam setiap proyek infrastruktur, terutama yang melibatkan jaringan vital seperti kelistrikan. Keselamatan masyarakat dan pekerja harus tetap menjadi prioritas utama di tengah percepatan pembangunan.






