Sumbawa Barat. Samawarea. Com (02/3/2026) Ada suasana yang berbeda dalam Sidang Paripurna penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025 menuju Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Sumbawa Barat. Jika biasanya forum resmi tersebut berlangsung penuh paparan data, capaian program, serta evaluasi kinerja pemerintahan, kali ini sidang ditutup dengan momen haru yang tak terduga.
Bertempat di ruang sidang DPRD Kabupaten Sumbawa Barat, agenda paripurna berjalan sebagaimana mestinya. Bupati Sumbawa Barat menyampaikan berbagai capaian pembangunan, realisasi anggaran, hingga arah kebijakan ke depan. Seluruh peserta sidang, mulai dari pimpinan dan anggota DPRD, jajaran Forkopimda, hingga kepala OPD, mengikuti jalannya rapat dengan khidmat.
Namun, menjelang akhir penyampaian laporan, suasana mendadak berubah. Nada suara Bupati terdengar lebih pelan. Sejenak ia terdiam. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi suara lembaran dokumen dan sesekali tepuk tangan, mendadak hening. Beberapa peserta sidang terlihat saling berpandangan, merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Dengan mata yang tampak berkaca-kaca, Bupati Sumbawa Barat menyampaikan kepeduliannya terhadap situasi kemanusiaan yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah. Ketegangan dan konflik yang masih berlangsung di wilayah tersebut, dengan mengajak peserta sidang untuk layang Al-Fatihah bagi umat Muslim di Timur Tengah.
“Sebelum kita mengakhiri sidang paripurna ini, mari kita layangkan Al-Fatihah untuk umat Muslim yang ada di Timur Tengah,” ungkapnya singkat namun penuh makna.
Ajakan tersebut langsung direspons oleh seluruh peserta sidang. Tanpa komando panjang, ruangan kembali hening. Semua yang hadir menundukkan kepala, melantunkan doa bersama. Tidak ada perbedaan jabatan maupun posisi; seluruhnya larut dalam suasana khusyuk dan empati.
Momen tersebut menjadi penutup yang mengesankan dalam sidang paripurna kali ini. Di tengah pembahasan laporan pertanggungjawaban yang sarat angka dan kebijakan, terselip pesan kemanusiaan yang kuat. Bahwa di balik tugas pemerintahan dan rutinitas birokrasi, nilai solidaritas dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi fondasi penting.
Sidang paripurna LKPJ Tahun 2025 menuju 2026 pun resmi ditutup dalam suasana berbeda dari biasanya. Hening yang sempat menyelimuti ruangan menjadi simbol empati dari daerah kecil di ujung barat Pulau Sumbawa terhadap dinamika dan penderitaan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Di tengah berbagai tantangan global, pesan yang tersirat dari momen itu jelas: kemanusiaan melampaui batas geografis, dan doa menjadi jembatan solidaritas yang menyatukan hati.







