SUMBAWA BARAT, samawarea.com (23 Januari 2026)— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) meresmikan selesainya pembangunan dan revitalisasi Jalan Simpang Pototano di Desa Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kamis (22/1/2026). Ruas jalan lurus sepanjang kurang lebih 4 kilometer tersebut kini kembali berfungsi optimal setelah bertahun-tahun mengalami kerusakan akibat genangan air dan banjir.
Jalan Simpang Pototano merupakan jalur strategis yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pelabuhan Pototano menuju Pulau Lombok. Sejak 2017, kondisi drainase yang kurang memadai menyebabkan badan jalan kerap tergenang air saat musim hujan, sehingga kualitas aspal terus menurun.
Meski masih dapat dilalui, kerusakan jalan terus bertambah hingga akhirnya pada tahun 2025 Pemprov NTB melakukan penanganan serius dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 32 miliar. Proyek tersebut dikerjakan selama tiga setengah bulan dan dinyatakan rampung pada 31 Desember 2025.
Selain perbaikan badan jalan, proyek ini juga mencakup pembenahan sistem drainase serta pemasangan penerangan jalan umum (PJU). Hasilnya, ruas jalan di Desa Pototano kini lebih aman, nyaman, dan mampu memperlancar arus transportasi masyarakat maupun distribusi logistik.
Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan peresmian jalan dilakukan saat dirinya melakukan perjalanan dari Pulau Sumbawa menuju Pulau Lombok melalui jalur Pototano. Ia mengakui, sebelumnya kondisi jalan tersebut cukup memprihatinkan dan tidak dapat digunakan secara optimal.
“Alhamdulillah, hari ini Jalan Simpang Pototano sepanjang kurang lebih empat kilometer sudah sepenuhnya bisa dimanfaatkan masyarakat. Bukan hanya badan jalannya yang diperbaiki, tetapi fasilitas pendukung seperti lampu penerangan juga sudah berfungsi,” ujar Gubernur Iqbal.
Ia menjelaskan, secara teknis pekerjaan telah diselesaikan sesuai perencanaan dan standar yang ditetapkan. Meski demikian, terdapat satu titik dengan kondisi geologis labil yang sempat beberapa kali mengalami ambruk. Titik tersebut telah ditangani oleh kontraktor dan akan terus diawasi selama masa pemeliharaan enam bulan ke depan.
“Selama masa pemeliharaan, apabila terjadi gangguan atau kerusakan, itu masih menjadi tanggung jawab kontraktor untuk diperbaiki,” tegasnya.
Gubernur juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dan pemerintah desa dalam menjaga fungsi drainase. Menurutnya, drainase jalan tidak akan bekerja optimal apabila saluran di lingkungan sekitar tidak dibersihkan dari sedimentasi dan sampah.
“Kalau drainase lingkungan tidak dibereskan, air bisa tertahan di saluran utama dan berpotensi menggenangi permukiman. Karena itu perlu kerja bersama,” tandasnya saat turun langsung mengecek drainase jalan, Kamis (22/1/2026).
Lebih lanjut, Gubernur Iqbal menyampaikan bahwa total panjang jalan di Pulau Sumbawa mencapai sekitar 965 kilometer, sehingga penanganannya harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan skala prioritas. Pemprov NTB, kata dia, lebih memprioritaskan perbaikan jalan yang sudah tidak dapat dilalui dan memiliki fungsi strategis.
Poto Tano menjadi salah satu prioritas utama karena merupakan jalur logistik vital yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pulau Lombok. Jalur ini berperan penting dalam mendukung keamanan, ketahanan pangan, serta distribusi barang. Penanganan serupa juga dilakukan di Dasan Geres, Lombok Timur, serta sejumlah titik lain yang memiliki fungsi logistik penting.
Ke depan, Pemprov NTB akan mulai memfokuskan penanganan infrastruktur pada jalur-jalur pariwisata setelah jalur logistik utama tertangani.
“Kita berharap penanganan jalan ini benar-benar permanen agar permasalahan yang sama tidak terulang. Dengan doa dan dukungan semua pihak, semoga jalan ini memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat dan mendukung akses ke kawasan wisata,” pungkasnya. (SR)






