Oleh: Iwan Febryanto (Pendiri Ecosufi – Ecological Society For Understanding Fundamental Ideas)
Memahami alam, flora dan fauna
Setiap pohon, semak belukar dan spesies tanaman, flora dan fauna di suatu wilayah memberikan manfaat bagi kelangsungan kehidupan. Karena itu kehadiran manusia sebagai elemen antroposentris harus menjaga keseimbangan biodiversitas secara berkelanjutan. Di hutan Sumatera terdapat ribuan spesies flora dan fauna yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan manusia.
Tanah, air dan udara tersedia selama ribuan tahun karena dirawat oleh nenek moyang kita. Karena itu timbul pertanyaan atas dasar apa kaum oligarki menebang pohon-pohon di hutan kita?
Setiap pohon memberikan manfaat bagi kehidupan. Berikut ini saya ingin memilih satu contoh yakni pohon Mindi atau Neem.
Botanis menemukan Mindi
Pohon Mindi (Neem Trea) dalam bahasa latin dikenal sebagai Azadirachta Indica saya sebut sebagai salah satu pohon yang telah menyelamatkan planet bumi. Karena Mindi telah diteliti oleh beberapa botanis bahwa seluruh elemen dari pohon ini memiliki manfaat dan khasiat.
Daun Mindi
mengobati malaria
mengurangi peradangan
mengobati penyakit kulit (psoriasis, ekzema, luka)
mengusir nyamuk
Buah Mindi
mengobati diabetes
mengurangi kolesterol
mengobati penyakit ginjal
Biji Mindi
mengobati penyakit kulit
mengusir serangga
Kulit batang pohon Mindi
mengobati penyakit ginjal
mengobati penyakit hati
Minyak Mindi
mengobati penyakit kulit
mengusir serangga
Para botanis dan ahli farmasi juga menemukan khasiat lainnya:
Anti bakteri: pohon Mindi memiliki sifat anti bakteri yang dapat membantu mengobati infeksi bakteri.
Anti inflamasi: pohon Mindi dapat membantu mengurangi peradangan.
Anti diabetes: pohon Mindi dapat membantu menurunkan kadar gula darah.
Insektisida: pohon Mindi dapat digunakan sebagai insektisida alami.
Simpul: Alam menyediakan obat untuk kehidupan
Salah satu teknik pengobatan yang terkenal saat ini adalah pengobatan Ayurveda adalah sistem pengobatan tradisional India yang berfokus pada keseimbangan tubuh, fikiran dan jiwa. Cara kerja pengobatan Ayurveda melibatkan beberapa prinsip:
– Trikhum (3 unsur) vatta (udara), pitta (api), dan kapha (tanah)
– Prakriti (konstitusi) setiap orang memiliki keunikan.
– Dosha (Ketidakseimbangan) kehidupan.
Seiring Perkembangan populasi spesies manusia, eksploitasi manusia terhadap alam semesta khususnya hutan semakin cepat paradigma yang memandang sumber daya alam secara ekstraktif sangat masif dalam 80 tahun Indonesia merdeka. Hadirnya mesin-mesin potong dan alat berat telah merusak keseimbangan ekosistem karena hutan menjadi lahan kosong yang gersang. Dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengembalikan dan memulihkan kembali hutan Sumatera yang telah hilang. Tantangan ini menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dari generasi hari ini agar generasi yang akan datang dapat mendengar suara burung, gajah, orang utan dan keragaman flora dan fauna.
Daftar pustaka:
A.F.W. Schimper: Ilmuwan Jerman yang memperkenalkan istilah “hutan hujan tropis” dalam bukunya “Plant Geography” pada tahun 1898.
Cornelis Gijsbert Gerrit Jan Van Steenis Botanis Belanda yang dikenal karena karyanya pada flora Indonesia, termasuk “Flora pegunungan di Jawa”.
Clarke Abel: Naturalis dan ahli botani Inggris yang memberikan nama ilmiah kepada Orang utan Sumatera.
Yulion Zalpa: Peneliti dari FISIP UIN Raden Fatah yang meneliti hutan larangan di Sumatera Selatan.
Dr. Yenrizal, pengamat lingkungan hidup dari UIN Raden Fatah yang meneliti nilai-nilai lingkungan hidup pada prasasti Talang Tuwo.
Christian Jefferson;.peneliti dari Institut Teknologi Bandung yang meneliti “Hutan Larangan Adat Rumbio, Riau. (*)






