Museum Daerah Sumbawa Harus Direhab Berat, Atap Bocor dan Struktur Bangunan Lapuk

oleh -729 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (24 Oktober 2025) — Kondisi Museum Daerah Sumbawa kian memprihatinkan dan berbahaya untuk dikunjungi. Bangunan yang merupakan cagar budaya peninggalan Belanda (Gedung Controller) itu mengalami kerusakan cukup parah di berbagai bagian. Mulai dari atap bocor, kayu lapuk, hingga plafon dan dinding yang rusak.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, Fithriati, SP., MT, saat ditemui samawarea.com, mengakui kondisi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa museum tersebut sudah tidak lagi representatif untuk digunakan sebagai ruang pameran dan edukasi sejarah.

“Kondisinya memang seperti ini. Gedung cagar budaya peninggalan Belanda ini benar-benar membutuhkan renovasi besar. Kami sudah mengajukan asesmen ke dinas terkait, karena untuk pemugaran cagar budaya itu merupakan kewenangan Dinas PUPR,” jelas Fithriati, yang didampingi Kepala UPT Museum Daerah Sumbawa, Ivonie Septiyanti, SE, Jum’at (24/10).

Ia menambahkan, tahun lalu pihaknya sudah mengajukan surat permohonan pemugaran dan telah ditinjau oleh Asisten I, II, III serta Wakil Bupati Sumbawa pada masa pemerintahan Mo-Novi.

Dalam rapat lapangan tersebut, disepakati bahwa rehabilitasi akan difokuskan terlebih dahulu pada bagian atap, mengingat kondisinya yang paling rawan dan membahayakan.

Namun, proses perbaikan sempat terkendala karena belum adanya tenaga ahli pemugaran cagar budaya di daerah.

“Pemugaran bangunan cagar budaya tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus melalui kajian dan dikerjakan oleh tenaga ahli bersertifikat. Tahun ini baru kami memiliki tenaga ahli, yaitu Pak Rudi Herudin bersama asistennya, Mas Roki dan Bu Tar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fithriati menyebutkan bahwa bantuan pemugaran akhirnya mendapat respons dari Kementerian, meski baru sebatas rehabilitasi ringan pada bagian yang rusak parah.

Ia juga menyoroti risiko keselamatan bagi pegawai maupun pengunjung museum akibat kondisi bangunan yang rusak dan sistem kelistrikan yang tidak aman.

“Kalau hujan, air bocor di mana-mana. Pernah hampir menimpa pegawai karena kayu atap lapuk. Kondisi seperti ini berisiko tinggi, apalagi untuk pengunjung. Kalau sampai terjadi sesuatu, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya dengan nada cemas.

Sebagai alternatif, pihaknya juga telah mengusulkan agar bangunan kantor yang berada di area belakang museum dipindahkan, sehingga seluruh kawasan tersebut bisa difokuskan untuk pengembangan museum.

“Kalau seluruh area dijadikan museum, penataannya akan lebih baik. Koleksi kita hampir seribu item, dan ruang yang luas akan membuatnya lebih tertata,” tambahnya.

Fithriati berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi Museum Daerah Sumbawa.

“Lebih baik melakukan pencegahan daripada menunggu bangunan ini roboh. Ini warisan sejarah, dan harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (SR)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *