Oleh: Nova Aditya (Akademisi UTS)
Bagi warga Ropang, pohon kemiri bukan pohon biasa. Mereka menyebutnya pohon penyelamat. Kenapa? Karena saat masa paceklik, ketika padi sudah dipanen, gudang kosong, dan belum ada pemasukan baru, kemiri tetap berbuah. Dari buahnya, keluarga bisa bertahan, dapur tetap berasap.
Lebih dari itu, warga juga menjulukinya sebagai pohon kehidupan. Akar kemiri menahan tanah dari longsor, menjaga sumber air tetap mengalir, dan menghadirkan kesejukan hutan. Hasil kemiri menjadi sumber biaya sekolah, memastikan anak-anak petani bisa terus belajar dan mengejar cita-cita.
Dulu, kemiri hanya dijual gelondong. Nilai tambah hilang, cangkangnya menumpuk jadi limbah. Kini, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) bersama dengan beberapa mitra sedang mengusahakan sesuatu yang berbeda, sebuah transformasi yang mengikat ekologi dan ekonomi.
Biji kemiri kupas mulai dikembangkan, bernilai Rp50–60 ribu/kg.
Dari biji pecah lahirlah minyak kemiri, dijual Rp30 ribu/botol, cocok untuk perawatan rambut dan kesehatan.
Cangkang kemiri yang dulu terbuang kini diolah menjadi briket energi terbarukan, dan memiliki nilai jual Rp15 ribu/kg, pengganti LPG yang mahal.
Sisa abunya kembali ke tanah sebagai pupuk, menyuburkan hortikultura, menopang ketahanan pangan desa.
Ini bukan hanya soal harga. Sama seperti nasi goreng di kafe, yang kita bayar bukan sekadar nasi, tapi nilai tambahnya. Begitu pula dengan kemiri. Nilai tambahnya adalah hutan yang tetap berdiri, air yang tetap mengalir, udara yang tetap bersih, dan anak-anak yang bisa tetap sekolah.
Kemiri di Ropang kini menjadi simbol perubahan. Ia menunjukkan bahwa dari desa, dari hal sederhana, kita bisa membangun ekonomi yang mandiri, energi yang terbarukan, pangan yang berkelanjutan, dan ekologi yang terjaga.
Kemiri adalah pohon penyelamat sekaligus pohon kehidupan. “Yang kita beli dari kemiri bukanlah sekadar biji, minyak, atau briket. Yang kita bayar adalah nilai: hutan yang tetap hidup, air yang terus mengalir, dan masa depan anak-anak yang terus belajar.” (*)






