Desak Polisi Tangkap Pelaku Pengeroyokan, Warga Madaprama Blokir Jalan 

oleh -633 Dilihat

DOMPU, samawarea.com (17 September 2025) Ketegangan sempat melanda jalur utama lintas Sumbawa–Dompu, Selasa malam (16/9/2025), menyusul aksi pemblokiran jalan yang dilakukan warga di Desa Madaprama, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. Blokade tersebut dilakukan sebagai bentuk protes dari keluarga korban pengeroyokan yang menuntut penegakan keadilan.

Aksi pemblokiran terjadi sekitar pukul 20.30 Wita, dipimpin oleh Aden, kakak kandung dari korban bernama Mihamad Fadil Naksir. Dengan menutup akses jalan menggunakan kayu dan batu tepat di depan Kantor Desa Madaprama, Aden dan pihak keluarga menyuarakan desakan agar kepolisian segera menangkap para pelaku pengeroyokan yang hingga kini belum diamankan.

Akibat aksi tersebut, arus lalu lintas di jalur strategis penghubung antardaerah itu sempat lumpuh. Menyadari potensi gangguan yang lebih luas, aparat Polsek Woja bergerak cepat. Dipimpin langsung oleh Kapolsek Woja, IPTU M. Nor Kurniawan, SH, tim gabungan dari Intelkam dan Reskrim diterjunkan ke lokasi untuk meredakan situasi.

Sekitar pukul 21.00 Wita, Kapolsek tiba di lokasi dan langsung menggelar dialog terbuka dengan keluarga korban. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan komitmen kepolisian untuk menuntaskan proses penyelidikan kasus pengeroyokan, sekaligus mengajak warga memberikan kepercayaan penuh terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Pendekatan persuasif itu membuahkan hasil. Pihak keluarga akhirnya bersedia membuka blokade, dan situasi kembali kondusif tanpa adanya insiden lanjutan. Arus lalu lintas pun berangsur normal.

Kasi Humas Polres Dompu, IPTU Nyoman Suardika, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa aparat mengedepankan langkah-langkah persuasif dalam menangani situasi tersebut.

Kapolsek Woja bersama anggota telah melakukan negosiasi secara humanis kepada warga yang melakukan aksi. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan percaya pada proses penyelidikan yang sedang berjalan. Saat ini jalan sudah dibuka dan situasi telah aman dan kondusif,” ujarnya.

Insiden di Madaprama menjadi cerminan bagaimana dinamika antara masyarakat dan aparat penegak hukum masih sarat dengan tantangan emosional. Namun, pilihan dialog dibandingkan tindakan represif menunjukkan bahwa pendekatan humanis mampu meredam ketegangan secara damai.

Ke depan, publik menanti langkah tegas dan cepat dari aparat dalam menuntaskan kasus pengeroyokan tersebut. Sebab, dalam pandangan masyarakat, keadilan yang lambat terasa tak ubahnya dengan ketiadaan keadilan itu sendiri. (SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *