Dari Laut dan Limbah, Dua UMKM Binaan Bale Berdaya Tembus Pasar Dunia

oleh -519 Dilihat
Keterangan foto: Fitriani--pemilik Bale Seafood produksi ikan bage, dan Faradian Agustin, pemilik Gemala Craft, keduanya UKM Binaan Bale Berdaya (Atas). Bupati Sumbawa, Ir H Syarafuddin Jarot saat membuka Festival Bale Berdaya, dan penghargaan IHYA untuk ketiga kalinya, 2022, 2023 dan 2024 (bawah)

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (26 September 2025) – Siapa yang tidak mengenal Ikan Bage. Ikan olahan khas Sumbawa ini sangat diminati oleh semua kalangan. Selain rasanya yang gurih, Ikan Bage menjadi lauk untuk semua makanan siap saji. Karena banyaknya peminat, memberikan peluang bagi Fitriani salah satu pelaku UMKM untuk menjadikannya sebagai usaha menjanjikan. Dengan membangun rumah produksi Bale Seafood, Fitriani—wanita asal Labuan Jontal Kecamatan Plampang yang tinggal di Kebayan, Kelurahan Uma Sima Sumbawa ini memulai usaha bersama suaminya. Ternyata produk ikan bage tersebut laku keras. Pesanan tak terbendung. Bukan hanya di tataran lokal, Ikan Bage Bale Seafood juga menerima banyak pesanan di luar daerah, termasuk luar negeri yaitu Malaysia, Singapore dan Hongkong.

Kepada media ini, Fitriani menceritakan awal mula meniti usahanya. Sebenarnya, bisnisnya merupakan bisnis turunan dari orang tuanya yang merupakan pengepul dan penjual ikan di pasar. Terkadang dia ikut juga ke pasar. Setelah dia menikah dan diboyong suami ke Sumbawa, barulah muncul ide untuk mengembangkan hasil laut dari daerahnya Labuhan Jontal. Fitriani mulai berpikir untuk merubah ikan segar yang dijual langsung menjadi sebuah produk. Sebab dia berpikir untuk menjual ikan segar langsung ke pasar, harganya terlalu murah. Selain itu ikan segar memiliki risiko tinggi, terutama tanpa fasilitas penyimpanan yang memadai akan mengalami kerusakan.

“Dengan berbagai tantangan yang ada kami beralih ke produk olahan ikan kering, yang lebih stabil dan tahan lama. Saya berpikir untuk merubah dalam bentuk olahan dan menjualnya dengan harga yang lumayan,” kata Fitri.

Ikan Bage Rambah Asia

Ia pun mendirikan Bale Seafood yang mengolah ikan segar menjadi ikan bage. Target pasar awalnya, tetangga, kenalan hingga mendapat pesanan dari dalam dan luar daerah seperti Bima, Dompu, Lombok dan paling sering ke Purworejo, Malang dan Tangerang. Bahkan TKW yang bekerja di Hongkong, Malaysia dan Singapore juga berminat sehingga pesanannya harus dikirim melalui jasa ekspedisi.

Untuk ke Hongkong, pengiriman dilakukan via Bali, dengan biaya Rp 80 ribu per kilogram. Sedangkan ke Malaysia dan Singapore, via Jawa dengan biaya Rp 70 ribu per kilogram. Setiap bulan dilakukan dua kali pengiriman masing-masing sebanyak 10 kilogram dan paling telat 9 hari tiba di tempat tujuan.

Setiap bulan Bale Seafood melayani pesanan ikan bage sebanyak 160 kilogram. Permintaan ini biasanya melalui instagram, whatsapp dan facebook. Ada juga yang datang secara langsung untuk dijadikan lauk dan oleh-oleh.

Fitri mengaku ikan bage olahannya bisa bertahan sampai 3 hari jika setengah kering. Agar bisa bertahan sampai 3 minggu harus melalui proses pengeringan maksimal 3-4 hari di bawah terik matahari. Sedangkan di dalam freezer bisa sampai 3 bulan. “Kalau kirim ke luar NTB, termasuk luar negeri kami menyarankan yang kering maksimal,” ujar Fitriani yang sudah menjalani usahanya sejak 2021 lalu.

Banyaknya pesanan memaksanya harus menambah pekerja. Karena usahanya berkembang dan diminati pasar luar daerah, Fitri mulai berpikir persoalan legalitas usahanya. Dia mulai mengurus segala kelengkapan usaha seperti NIB, PIRT, NPWP, HAKI dan sertifikasi halal.

“Alhamdulillah difasilitasi Pemerintah Daerah sejumlah izin sudah saya kantongi termasuk Haki. Dan sekarang setelah bergabung di Bale Berdaya binaan PT Amman Mineral dan KUMPUL, kami difasilitasi pengurusan izin BPOM,” ujarnya.

Diakui Fitri, banyak keuntungan yang diperolehnya dari Program Bale Berdaya ini. Semua permasalahan dibantu solusinya. Pemasaran pun difasilitasi mulai dari branding, target market, dan kemasan. Banyak materi juga diperoleh dari narasumber berkompeten. Seperti pengembangan skill dan pola fikir kewirausahaan, pendampingan strategi bisnis yang tepat, pemahaman lebih dalam tentang analisi pasar dan konsumen, bimbingan manajemen keuangan yang lebih teratur, dan memahami SOP dalam produksi. Dari ilmu yang diperoleh dan dipraktekkan, berdampak pada omzetnya yang mengalami peningkatan berkisar 30-80 persen.

“Program Bale Berdaya, adalah sebuah kegiatan yang sangat mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sumbawa melalui kegiatan pemberdayaan UMKM yang adaptif dan berdaya saing. Kami yakin, setiap langkah yang kami tempuh membawa usaha kami semakin maju,” pungkasnya.

Perjalanan Fitriani hampir serupa dengan Faradian Agustin, pemilik Gemala Craft. Produknya yang hanya diketahui kalangan terbatas dan terdekat, kini mulai dikenal publik. Usaha yang berlokasi di sekitaran Pantai Jempol Labuhan Sumbawa ini merupakan salah satu kerajinan yang mengolah bahan limbah menjadi bernilai ekonomis. Banyak produk yang dihasilkan dari bahan tak bernilai menjadi berharga. Mulai dari hampers, kotak tisu, vas bunga, bingkai dan lainnya. Selama ini limbah kertas, plastik dan bekas kemasan menjadi bahan dasarnya,

Dian—sapaan akrab wanita bercadar ini, tertantang untuk mencoba bahan lain yang lebih unik. Ide ini muncul setelah melihat berlimpahnya limbah pohon pisang di kebun tetangganya. Pasca panen, batang pisang dibuang dan dibiarkan membusuk. Dian ingin membuat kerajinan dengan bahan dasar pelepah pisang. Ini disambut positif tetangganya yang bersyukur limbah batang pisangnya dimanfaatkan Dian.

Meski melalui proses yang lumayan alot, akhirnya Dian yang dibantu suami tercinta berhasil menyelesaikan produk kerajinannya menggunakan pelepah pisang. “Alhamdulillah, pelepah pisang menjadi produk yang bernilai jual,” kata Dian.

Ia mengaku berusaha membuat produk yang lebih melekat dengan masyarakat. Mengingat target pasarnya semua kalangan. Produknya sudah dipasarkan hingga ke luar negeri.

Souvenir Pernikahan di Australia

Pada tahun 2023 hasil seni tangannya ini sempat terbang ke Australia, memenuhi pesanan temannya yang menikah. Ada 30 buah kotak tisu, 20 dompet, dan serkam rambut 100 pcs. Selain itu produknya juga pernah dipamerkan pada acara HUT Kabupaten Sumbawa Tahun 2024. “Ini semakin memotivasi saya untuk memperkaya produk dan membuatnya berbeda dari yang lain,” imbuhnya.

Namun demikian, Ia mengaku produknya masih banyak kekurangan terutama dari segi kualitas dan jaringan pemasaran. Beruntung, ada Bale Berdaya—wadah yang disiapkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang menjadi rumah bagi para pelaku UMKM termasuk dirinya. Setelah berada di bawah naungan Bale Berdaya, Ia baru pertamakali mengikuti pelatihan. Ternyata materi yang disajikan narasumber sangat menarik dan luar biasa. “Ibarat saya punya tanah, Amman dan KUMPUL memberikan saya bahan bangunan, kemudian saya diarahkan untuk mengolahnya,” kata Nyonya Abdul Haris ini mengilustrasikan.

Sebelum dibina Bale Berdaya, ibu empat anak ini mengaku model produknya tergantung pesanan dengan harga kisaran dari 15 ribu sampai 150 ribu rupiah. Kini setelah mengikuti program Bale Berdaya, Ia lebih membuka diri untuk menyiapkan produk di gallery. Dian juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil kerajinannya baik melalui instagram, faceboook dan Tiktok. “Alhamdulillah omzet mengalami peningkatan sebesar 20-40%,” ucapnya.

Selain omzet mengalami peningkatan, berkat Bale Berdaya, Ia mampu menyusun Business Model Canva (BMC), dan pengelolaan keuangan menjadi lebih teratur. Dia juga memahami bahwa branding dan packaging menjadi salah satu faktor kunci agar produk lebih diminati konsumen potensial. Paling penting pengembangan bisnis dan usaha menjadi lebih terarah.

Fitri dan Dian, adalah dua pelaku UMKM yang dibina PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) bekerjasama dengan KUMPUL melalui Program Bale Berdaya. Banyak UMKM local yang tersebar di sejumlah kecamatan yang juga mengalami kesuksesan serupa. Hal ini terlihat dari review dua tahun program tersebut yang diwujudkan dalam Festival Bale Berdaya 2025 sekaligus menjadi wadah untuk menampilkan karya dan produk unggulan para pelaku UMKM peserta Bale Berdaya dan selebrasi atas perjalanan dan pencapaian mereka selama mengikuti program.

Sejak tahun 2024, lebih dari 100 pelaku UMKM dari tujuh kecamatan di Kabupaten Sumbawa, yaitu Kecamatan Sumbawa, Ropang, Lunyuk, Lantung, Lenangguar, Moyo Hulu, dan Orong Telu, telah mendapatkan pendampingan, pelatihan, dan mentoring intensif melalui program ini. Sektor usaha yang didampingi mencakup kuliner, kopi, madu hutan, kerajinan tangan, dan pertanian.

Dengan pendekatan berbasis komunitas dan kebutuhan nyata di lapangan, UMKM peserta Bale Berdaya kini kian percaya diri meraih pasar yang lebih luas. Program Bale Berdaya berdiri di atas kekuatan kolaborasi lintas sektor, yaitu pemerintah Kabupaten Sumbawa, pihak swasta, ekosistem enabler, perbankan, komunitas wirausaha, dan pelaku industri digital bersama-sama membangun ekosistem yang ramah bagi pertumbuhan UMKM lokal Sumbawa.

Program Bale Berdaya adalah bukti keberhasilan model pemberdayaan berbasis komunitas lokal. “Bale Berdaya memperlihatkan bahwa penguatan UMKM memberi manfaat berlipat. Kami melihat pelaku usaha di Sumbawa mampu memperbaiki manajemen usaha, serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk ketika mendapatkan dukungan pendampingan yang tepat, dan AMMAN berkomitmen menjaga kesinambungan proses ini,” cetus Priyo Pramono, Vice President Social Impact AMMAN.

Faye Wongso, Founder & Chairperson KUMPUL juga menegaskan bahwa kekuatan UMKM Sumbawa tidak hanya terletak pada kualitas produknya, tetapi juga pada kemampuannya membangun jejaring dan beradaptasi dengan peluang baru. Menurutnya, membangun UMKM berarti membangun ekosistem yang saling menguatkan, mulai dari pengetahuan dan keterampilan, model bisnis yang berkelanjutan, hingga koneksi lintas sektor yang strategis.

Bale Berdaya menjadi bukti bahwa ketika pelaku usaha, komunitas, swasta, dan pemerintah berjalan bersama, UMKM lokal tidak hanya bisa bertahan, tapi juga naik kelas, menembus pasar nasional bahkan global.

“Sumbawa punya potensi besar, dan dengan kolaborasi seperti ini, kita sedang membuka jalan agar potensi itu menjadi kekuatan ekonomi yang nyata bagi Indonesia,” katanya.

Keberhasilan Bale Berdaya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal bagi Kabupaten Sumbawa merupakan hasil dari sebuah ekosistem yang menjunjung tinggi edukasi, adaptasi terhadap perkembangan teknologi, dan jejaring bisnis yang berpadu untuk mendorong pertumbuhan ekosistem perekonomian lokal dan perluasan akses ke pasar yang lebih luas.

 Lampaui Ekspektasi 

Program tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot MP. Ia menilai peran AMMAN melalui program Bale Berdaya, telah melampaui ekspektasi dalam upaya memberdayakan UMKM lokal. Bukan hanya pengembangan produk, tapi juga legalitasnya meliputi izin usaha, sertifikasi halal, hingga kelayakan produk untuk pasar modern, baik nasional maupun internasional.

Sebanyak 105 UMKM binaan Bale Berdaya telah memiliki legalitas lengkap, termasuk izin edar, PIRT, hingga sertifikasi halal. Ini menjadi modal besar untuk masuk ke jaringan distribusi yang lebih luas. Bupati juga menyinggung salah satu gagasan besar yang pernah ia sampaikan dalam kampanye saat mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati, yaitu pendirian Bale Mula sebagai pusat pengembangan UMKM.

Ia menyatakan, konsep tersebut kini telah diaktualisasikan dalam bentuk nyata melalui kerja sama strategis antara pemerintah dan pihak swasta, seperti AMMAN. Apa yang dilakukan Amman Mineral sejalan janji politiknya saat mencalonkan diri pada Pilkada Sumbawa 2024 lalu. Yakni memberdayakan UMKM lokal agar naik kelas dengan melakukan pendampingan, legalisasi, peningkatan kapasitas, hingga digitalisasi dan akses pasar. Setelah menjabat Bupati, perhatian terhadap pengembangan UMKM terus diintesifkan.

Sampai pertengahan 2025, jumlah UKM yang terdaftar secara resmi di Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan UKM Kabupaten Sumbawa mencapai 1.362, namun jumlah riilnya diperkirakan jauh lebih besar. “Angka ini menunjukkan geliat dan semangat kewirausahaan masyarakat yang luar biasa,” ungkap Bupati.

Dampak Nyata di Lapangan

Ini diakui Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin S.ST, M.Si. Meski kontribusi UMKM tidak tercatat secara eksplisit dalam PDRB, perannya bisa ditelusuri lewat beberapa indikator. Pada 2024, perdagangan menyumbang 16,78 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 1,38 persen, serta jasa lainnya 1,71 persen. Besar kemungkinan sektor-sektor ini didominasi UMKM.

Dari sisi ketenagakerjaan, 65,34 persen pekerja Sumbawa masih berada di sektor informal, yang erat kaitannya dengan usaha mikro dan kecil. Peran UMKM juga tampak dari sisi pembiayaan. Data posisi kredit menunjukkan adanya pergeseran. Jika pada 2020 usaha kecil masih dominan, maka sejak 2023 hingga 2024 justru usaha mikro yang mendominasi.

Tren ini menandakan geliat usaha mikro kian menguat, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan. Pada 2024, posisi kredit usaha mikro tercatat sebesar Rp 2.054.687.000.000 (2,05 triliun) jauh lebih besar dibanding usaha kecil yang mencapai Rp 1.178.894.000.000 (1,17 triliun), maupun usaha menengah sebesar Rp 216.040.000.000 (216 milyar).

Kebangkitan UMKM Sumbawa dan Penghargaan IHYA

Awal kebangkitan UMKM Sumbawa mulai terlihat saat pertamakali digelar event internasional MXGP yaitu kejuaraan motocross di Sirkuit Samota, Juni 2022 silam. Ini sekaligus sebagai upaya pemulihan ekonomi pasca Covid-19. Mengingat kejuaraan dunia itu diikuti puluhan pembalap dari 22 negara, Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui leading sektor terkait berupaya menciptakan ekosistem halal. Ini dilakukan dalam rangka menuju Sumbawa yang halalan thoyyiban.

“Ekosistem ini tidak hanya menghadirkan perangkatnya seperti pembentukan Halal Center dan menyiapkan penyelia halal, namun pemerintah daerah memberikan perhatiannya terhadap penyelenggaraan jaminan produk halal terutama untuk mengangkat pelaku UMKM agar naik kelas,” kata Kadis Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, ES Adi Nusantara.

Salah satu program unggulannya adalah penggratisan label halal untuk produk UMK guna memberikan jaminan bahwa makanan dan minuman untuk event internasional MXGP di Sirkuit Samota bersertifikasi halal dengan menggandeng Indonesia Halal Station (IHASTA) sebagai mitra. Inovasi berlabel ”Halal dan Baik” yang diciptakan Dinas Koperasi UKM Perindag Kabupaten Sumbawa ini dinyatakan masuk Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2022, dalam kategori pelayanan publik yang inklusif dan berkeadilan, yang digelar Kementerian PAN dan RB Republik Indonesia.

Puncaknya, Kabupaten Sumbawa mendapat empat penghargaan sekaligus pada ajang Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2022 dari Menteri Perindustrian RI. Yakni Kategori Best Halal Support untuk Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Kategori Halal Inovation untuk Pusat Halal (Halal Center) Kakbupaten Sumbawa, Kategori Best Halal Microfinance untuk BMT Insan Samawa, dan Kategori Halal Small Industry untuk IKM Kabupaten Sumbawa. Penghargaan yang sama kembali diterima pada tahun 2023 dan 2024 atau tiga tahun secara berturut-turut. Dengan mengembangkan industri halal terutama di kalangan UKM dan IKM, mendorong produk yang dihasilkan semakin berkualitas dan memiliki daya saing.

Untuk diketahui, capaian layanan penerbitan sertifikasi halal di Kabupaten Sumbawa sudah mencapai sekitar 1.300-an sertifikat. Layanan ini dapat diakselerasi dengan adanya Lembaga Pusat Halal (LPH) Kabupaten Sumbawa. LPH inilah merupakan inovasi dari Pemkab Sumbawa dan menjadi satu-satunya LP3H di bawah pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Namun demikian, Adi tak menampik bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi oleh UMKM di daerah, di antaranya keterbatasan akses modal bagi UMKM skala mikro, kurangnya literasi digital dan pemasaran online, masih adanya pelaku usaha yang belum memiliki legalitas lengkap seperti NIB, PIRT, hingga sertifikasi halal dan BPOM, serta terbatasnya inovasi produk dan packaging yang memadai untuk pasar modern.

Dalam konteks ini, keberadaan program seperti Bale Berdaya menurutnya sangat strategis dan patut didukung bersama. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan swasta, pemerintah, komunitas, dan enabler seperti KUMPUL telah mampu membentuk ekosistem pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan UMKM.

“Dinas kami mendukung penuh keberlanjutan program seperti Bale Berdaya. Tidak hanya sebagai mitra, tapi juga dengan mengintegrasikan data, menyinergikan program pelatihan, fasilitasi legalitas, hingga membuka akses promosi dan distribusi pasar, baik melalui pameran maupun platform digital,” ujarnya.

Bappeda dan DPRD: Mengawal dari Hulu ke Hilir

Pemerintah Daerah berkomitmen menjadikan UMKM sebagai pilar utama penguatan ekonomi daerah, sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Sumbawa. “UMKM bukan sektor pinggiran. Mereka adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan. Maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan mereka semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu bertahan dalam berbagai tantangan global,” sambung Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo M.Si.

Sebagai lembaga perencana pembangunan daerah, Bappeda berperan sebagai “dirigen” yang mengharmonisasikan seluruh program pemberdayaan, termasuk UMKM. Dalam konteks Program Bale Berdaya yang digagas bersama PT Amman Mineral, Bappeda hadir memastikan bahwa program ini sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Sumbawa.

Bappeda tidak hanya berperan dalam tahap perencanaan, tetapi juga mengkoordinasikan lintas OPD, agar UMKM binaan dapat tumbuh dalam ekosistem yang lebih terarah. UMKM tidak dipandang sebagai sektor sampingan, melainkan sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Karena itu, Bappeda memasukkan penguatan UMKM sebagai salah satu prioritas pembangunan dalam RPJMD. Hal ini memastikan keberlanjutan program, sehingga tidak hanya berhenti pada kegiatan tahunan, melainkan menjadi bagian dari arah pembangunan jangka menengah daerah.

Bappeda menyadari bahwa UMKM tidak hanya butuh modal, tetapi juga butuh ekosistem. Maka, dukungan infrastruktur seperti pusat pelatihan, fasilitas penyuluhan, hingga akses pasar selalu dipikirkan dalam perencanaan pembangunan. Melalui koordinasi dengan OPD teknis, berbagai sarana disiapkan agar UMKM, termasuk yang tergabung dalam Bale Berdaya, memiliki ruang berkembang yang memadai.

Bappeda juga memposisikan diri sebagai jembatan yang menghubungkan Dinas Koperindag, sektor swasta, dan komunitas UMKM. Kolaborasi ini diwujudkan dalam penyusunan program bersama, berbagi data, hingga sinkronisasi kegiatan agar tidak terjadi tumpang tindih. Program Bale Berdaya, misalnya, menjadi contoh nyata bagaimana sektor swasta (PT Amman Mineral) bisa berkolaborasi erat dengan pemerintah daerah. Mengingat zaman kian berkembang, sehingga era digital tidak bisa dihindari.

Bappeda telah menyiapkan kebijakan yang mendorong UMKM untuk lebih melek teknologi, baik dalam hal produksi maupun pemasaran online. Pelatihan e-commerce, digital marketing, hingga pemanfaatan aplikasi lokal diproyeksikan menjadi salah satu pintu masuk agar UMKM Sumbawa dapat bersaing lebih luas.

Bappeda menilai UMKM sebagai penopang utama ekonomi Sumbawa, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan distribusi pendapatan masyarakat. Untuk itu strategi penguatan kapasitas, akses permodalan, hingga pengembangan pasar terus menjadi prioritas, agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas. Terkait dengan keberlanjutan dan isu lingkungan, itu menjadi tantangan nyata.

Karena itu, Bappeda mendorong adanya inisiatif ramah lingkungan bagi UMKM. Program pendampingan produksi yang lebih bersih, penggunaan bahan ramah lingkungan, dan pengelolaan limbah menjadi bagian dari perencanaan pembangunan yang diintegrasikan bersama OPD teknis. Ke depan Bappeda memastikan bahwa kebijakan tidak hanya menguntungkan pelaku usaha besar, tetapi juga menjangkau UMKM skala mikro dan kecil.

Melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), aspirasi pelaku usaha dari berbagai tingkatan diakomodir sehingga perencanaan lebih inklusif. Penguatan SDM UMKM adalah kunci. Bappeda mendorong adanya pelatihan manajemen usaha, literasi keuangan, hingga keterampilan produksi yang lebih intensif. Kolaborasi dengan lembaga pendidikan, LSM, maupun sektor swasta dipacu agar kualitas SDM UMKM meningkat dan daya saing mereka bisa bertahan dalam pasar modern.

Sebab diakui produk lokal Sumbawa, mulai dari tenun, olahan pangan, hingga kerajinan tradisional, memiliki daya tarik kuat. Bappeda melihat potensi besar ini dan menyiapkan strategi promosi melalui pameran daerah, kerjasama antarwilayah, hingga memperluas penetrasi ke pasar digital. Harapannya, UMKM Sumbawa tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional bahkan global.

Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, S.AP., M.Si, memberikan apresiasi atas pencapaian luar biasa para pelaku UMKM binaan Program Bale Berdaya yang berhasil menembus pasar internasional. Keberhasilan dua UMKM lokal, Bale Seafood milik Fitriani dan Gemala Craft milik Faradian Agustin maupun UMKM lainnya, menjadi simbol nyata bahwa produk-produk asli Sumbawa memiliki daya saing dan nilai ekonomi tinggi, bahkan di pasar global.

“Ini bukan sekadar capaian individu, tapi bukti bahwa jika pelaku UMKM diberikan ruang, dukungan, dan pendampingan yang tepat, mereka bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah bahkan bangsa,” ujar Nanang Nasiruddin saat dimintai tanggapannya, Jumat (26/9/2025).

Ketua DPRD Sumbawa ini menyampaikan rasa bangga atas kolaborasi strategis antara sektor swasta, dalam hal ini PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), pemerintah daerah, serta ekosistem pendukung seperti KUMPUL yang tergabung dalam program Bale Berdaya. Menurutnya, program ini adalah bentuk sinergi ideal antara dunia usaha dan pemerintah dalam mendukung tumbuh-kembangnya UMKM berbasis lokal.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita. Apa yang dilakukan oleh Bale Berdaya telah berhasil membuktikan bahwa strategi pemberdayaan yang menyentuh akar rumput dan berkelanjutan, mampu menciptakan dampak nyata. Produk olahan laut seperti ikan bage dan kerajinan dari limbah pelepah pisang yang diproduksi secara kreatif dan ramah lingkungan, adalah inovasi yang patut kita banggakan bersama,” tambahnya.

Politisi PKS ini menekankan, DPRD Sumbawa mendukung penuh segala inisiatif yang mendorong kemajuan UMKM, baik dari sisi  legalitas, akses pasar, penguatan SDM, hingga digitalisasi usaha. Ia memastikan bahwa dalam pembahasan anggaran ke depan, sektor UMKM akan tetap menjadi prioritas, termasuk alokasi dukungan terhadap pelatihan, infrastruktur produksi, hingga promosi di tingkat nasional maupun internasional.

“DPRD bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa akan terus mengawal keberlanjutan program seperti Bale Berdaya ini. Kami ingin melihat lebih banyak lagi Fitriani dan Dian-Dian lainnya di seluruh pelosok Sumbawa. Inilah wajah baru ekonomi daerah, tangguh, kreatif, dan punya daya saing global,” tegasnya.

Ia juga mengajak semua pihak, baik pelaku usaha, lembaga pendidikan, komunitas lokal hingga generasi muda, untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan UMKM lokal. Menurutnya, tantangan ke depan tidak ringan, terutama dalam menghadapi persaingan global dan perubahan iklim usaha yang sangat cepat. Karena itu, kekuatan jejaring, digitalisasi, dan inovasi produk harus terus didorong.

“Momentum seperti ini harus kita jadikan titik tolak untuk membangun ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Sumbawa punya segalanya, sumber daya alam, kekayaan budaya, dan SDM yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengelola potensi itu secara bersama-sama,” pungkas Ketua DPRD Sumbawa. (*)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *