SUMBAWA BESAR, samawarea.com (9 September 2025) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Kesehatan mengikuti Rapat Koordinasi dalam rangka penguatan komitmen dan aksi nyata percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC), yang merupakan bagian dari tindak lanjut evaluasi nasional bersama Kementerian Dalam Negeri dan Ditjen Bina Pembangunan Daerah.
Rapat yang diikuti Sekda Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo S.Sos., M.AP didampingi Plt Kadis Kesehatan, Hj. Nur Atika, S.ST., M.M.Inov dan jajarannya ini berlangsung di Lantai I Kantor Bupati Sumbawa, Selasa, 9 September 2025.
Ditemui usai Rakor, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Hj. Nur Atika, S.ST., M.M.Inov, menyampaikan keprihatinannya terhadap tingginya angka kasus TBC di Kabupaten Sumbawa yang telah mencapai 600 kasus positif hingga September 2025. Angka ini jauh melampaui target nasional eliminasi TBC sebesar 65 kasus per 100.000 penduduk.
“Dengan jumlah penduduk Sumbawa sekitar 527.000 jiwa, idealnya kita hanya memiliki sekitar 350 kasus per tahun. Fakta saat ini menunjukkan kita sudah mencapai 600 kasus, artinya kita sudah melewati ambang batas yang ditetapkan,” tegas Hj. Nur Atika.
Sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa terus mengintensifkan Investigasi Kontak (IK) terhadap pasien positif TBC. Setiap pasien TBC diperkirakan memiliki potensi menularkan kepada 20 orang di sekitarnya, sehingga upaya pelacakan dan pemeriksaan dini sangat penting.
Pemeriksaan dilakukan melalui metode BTA (Basil Tahan Asam) dan TCM (Tes Cepat Molekuler). Namun, keterbatasan alat menjadi tantangan tersendiri.
“Saat ini kita baru memiliki tiga fasilitas pemeriksaan TCM yang memadai, masing-masing di RSUD Sumbawa, Puskesmas Unit 1, dan Puskesmas Utan. Harapannya, di tahun 2026 nanti, kita bisa menambah satu unit lagi di wilayah timur, seperti di Kecamatan Lape atau Plampang,” tambahnya.
Hj. Nur Atika menegaskan bahwa TBC bisa disembuhkan, asalkan pasien menjalani pengobatan rutin selama 6 bulan tanpa henti, yang telah difasilitasi secara gratis oleh pemerintah.
Sayangnya, masih banyak kasus pasien yang drop-out (putus berobat) karena stigma, ketidaktahuan, atau kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar.
“Masyarakat harus menghilangkan mitos-mitos lama tentang TBC. Ini bukan penyakit kutukan atau aib, tapi penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kita harus bantu pasien, bukan menjauhi mereka,” imbaunya. (SR)






