Adu Kerik: Festival Sastra Basa Samawa yang Terus Bergema di Sekolah-sekolah

oleh -1395 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (1 September 2025) Festival sastra bahasa daerah Sumbawa bertajuk “Adu Kerik”, yang telah sukses digelar beberapa hari lalu, masih menyisakan jejak yang terasa nyata. Meski acara utamanya telah usai pada 24 Agustus 2025 lalu, semangat dan dampaknya terus bergulir di lingkungan sekolah, khususnya di kalangan generasi muda.

Salah satu contohnya adalah SDN Baru, yang kini secara aktif mengintegrasikan muatan lokal ke dalam aktivitas belajar siswa-siswinya. Kegiatan seperti membaca puisi berbahasa Sumbawa, menyanyikan Malangko, hingga mempraktikkan Batuter, kini menjadi rutinitas yang dinantikan para pelajar. Inisiatif ini dinilai mampu menumbuhkan kecintaan terhadap Basa Samawa, bahasa ibu yang menjadi identitas masyarakat Sumbawa.

“Akar budaya itu harus ditanamkan sejak dini, dan bahasa adalah gerbangnya. Dari puisi, nyanyian, hingga lisan-lisan kearifan, semua itu membentuk jati diri Tau Samawa,” ujar salah satu guru di SDN Baru.

Selaras dengan hal tersebut, Ketua Panitia Adu Kerik, Indra Kersyah, S.IP., M.M. Inov., dalam laporannya saat pembukaan festival di Auditorium Dea Guru PGRI pada 22–24 Agustus 2025 lalu menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap FTBI (Festival Tunas Bahasa Ibu) serta kontribusi nyata untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Adu Kerik bukan sekadar ajang adu kata, melainkan ruang untuk mengumpulkan dan merawat warisan leluhur, kearifan lokal yang hidup dalam bahasa dan sastra daerah kita,” tegas Indra Kersyah.

Festival ini menampilkan berbagai lomba sastra berbahasa Sumbawa, seperti pembacaan puisi, nyanyian tradisional, dan pertunjukan seni tutur yang melibatkan siswa dari tingkat SD hingga SMA. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan Basa Samawa.

Keberhasilan Adu Kerik tak lepas dari dukungan penuh PT Amman Mineral Nusa Tenggara, yang memfasilitasi komunitas sastra Panre Satera sebagai pelaksana kegiatan, bekerjasama dengan Badan Khusus Seni dan Budaya PGRI yang diketuai oleh Uleceny. Sementara Panre Satera sendiri dipimpin Dr. Suharli Majid, M.Pd, yang dikenal aktif dalam pengembangan sastra nasional maupun daerah.

Tak hanya itu, sejumlah sponsor juga turut mendukung kelancaran kegiatan ini, di antaranya: PT Telkomsel, Bank Syariah Indonesia, Rosier Hijab, Trigi Komputer, serta PDAM Batulanteh.

Dengan semangat kolektif tersebut, Adu Kerik bukan hanya menjadi festival sastra tahunan, tetapi juga menjadi gerakan kultural yang perlahan namun pasti menghidupkan kembali bahasa ibu, bahasa yang menjadi akar sekaligus pelita bagi masa depan budaya Samawa. (SR)

 

 

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *