SUMBAWA BESAR, samawarea.com (26 Agustus 2025) – Kegiatan Sumbawa Heritage Walk (SHW) 2025 resmi mencapai puncaknya, Minggu, 24 Agustus 2025, dengan partisipasi istimewa dari Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kegiatan ini menjadi refleksi sejarah dan budaya yang mengajak para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat untuk berjalan kaki menyusuri jejak kejayaan Kesultanan Sumbawa. Dengan tagline “Napaki Jejak Leluhurmu, Selami Sejarah Bangsamu,” SHW 2025 digelar setiap akhir pekan sepanjang bulan Agustus, dimulai sejak 3 Agustus.
Kegiatan tersebut merupakan inisiasi Museum Bala Datu Ranga yang didirikan Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu di Kelurahan Pekat. SHW mengajak masyarakat menelusuri lima simpul warisan budaya di Sumbawa Besar, sebuah pendekatan interaktif untuk menyelami sejarah lokal sebagai bagian dari sejarah besar bangsa Indonesia.
Acara puncak yang dikhususkan untuk undangan ini terasa istimewa dengan hadirnya Bupati Sumbawa bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot. Tampak pula Sekda Sumbawa Dr. H. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.AP., Kapolres Sumbawa AKBP Marieta Dwi Ardhini, SH., S.IK, Dandim 1607/Sumbawa Letkol Kav Basofi Cahyowibowo, serta tokoh masyarakat dan budaya Tana Samawa. Kegiatan dimulai dari Museum Bala Datu Ranga dengan sambutan musik tradisional Gong Genang oleh para siswa binaan.
Dalam pidatonya, Bupati Haji Jarot menekankan pentingnya pelestarian bangunan cagar budaya. “Beberapa waktu lalu saya menghadiri Rapat Kerja Jaringan Kota Pusaka Indonesia di Yogyakarta. Saya terinspirasi dari bagaimana kota itu menghidupkan sejarah melalui budaya. Saya yakin Sumbawa juga punya potensi yang sama,” ujarnya.
Bupati mengaku antusias mengikuti tur yang dipandu langsung oleh tim SHW. Ia berharap kegiatan ini terus dikembangkan dan didukung secara serius karena nilai edukatif dan historisnya sangat besar.
Sementara itu, Dandim 1607/Sumbawa, Letkol Kav Basofi Cahyowibowo, menyambut positif kegiatan ini dan mendorong penguatan infrastruktur di titik-titik heritage.
“Ini sangat bagus untuk generasi muda. Tapi fasilitas perlu ditingkatkan karena wisata sejarah ini bisa menarik wisatawan dari luar Sumbawa,” tuturnya saat meninjau Istana Dalam Loka—salah satu titik penting dalam rute tur.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Istana Bala Puti (Istana Sultan Muhammad Kaharuddin III) yang tengah direstorasi. Di sana, peserta disuguhi kisah masa lampau oleh pemandu SHW, termasuk fakta menarik bahwa istana ini adalah bangunan pertama yang menikmati aliran listrik di Sumbawa.
Suasana menjadi lebih hangat ketika Bupati secara spontan memandu rombongan menuju sumur sakral Ai Kadewa yang terletak di belakang istana. “Sekarang saya jadi pemandunya,” candanya yang disambut tawa hangat peserta.
Ketua Yayasan Datu Ranga sekaligus Kepala Museum Bala Datu Ranga, Yuli Andari Merdikaningtyas, MA, menjelaskan bahwa Agustus dipilih sebagai waktu pelaksanaan SHW karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan Indonesia.
“Momen ini mengajak kita berefleksi bahwa sejarah bangsa tak bisa dilepaskan dari peran kerajaan dan kesultanan, termasuk Kesultanan Sumbawa yang memiliki kontribusi besar,” jelasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah Sumbawa di masa depan. (SR)






