GILI BALU, SUMBAWA BARAT, samawarea.com (6 Mei 2025) – Demi menjaga kelestarian ekosistem laut yang unik dan rapuh, kawasan Gili Balu di Kabupaten Sumbawa Barat akan dikembangkan sebagai kawasan wisata khusus.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap potensi kerusakan ekosistem apabila kawasan tersebut dibuka sebagai wisata umum. Upaya konservasi dan pengelolaan ini menjadi prioritas utama demi menjaga keseimbangan alam serta keberlanjutan pariwisata berbasis lingkungan di kawasan tersebut.
Gili Balu, yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil eksotis di sekitar Kecamatan Poto Tano, memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, seperti hutan mangrove, padang lamun, serta terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, tekanan aktivitas manusia berisiko besar merusak keanekaragaman hayati jika tidak diatur secara bijak.
Untuk mengembalikan dan menjaga ekosistem laut yang ada di Gili Balu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menggandeng Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Poto Tano dan mitra pelaksana program Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melalui program kolaboratif bertajuk TransformaSea. Program ini dirancang sebagai pendekatan inovatif dalam pelestarian kawasan pesisir dan laut dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Elga, Dendy Alamul Huda, dan Andy Affandy sebagai perwakilan dari mitra AMMAN menyatakan bahwa pendekatan kolaboratif ini menjadi pondasi penting untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan. “Kami percaya, perlindungan habitat tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif masyarakat lokal dan pendekatan ilmiah yang kuat,” ujar Andy Affandy dari PKSPL IPB University.
Salah satu ujung tombak dari program ini adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Poto Tano, yang telah mengambil peran aktif dalam kegiatan rehabilitasi lingkungan. Saat ini, Pokdarwis berhasil membibitkan lebih dari 3.000 bibit mangrove yang akan ditanam secara bertahap di wilayah pesisir Gili Balu. Mangrove tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyangga abrasi dan penyerapan karbon, tetapi juga menjadi tempat hidup berbagai spesies laut.
Selain rehabilitasi mangrove, program ini juga mencakup restorasi terumbu karang dan padang lamun yang telah mengalami kerusakan. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan tetapi juga memperkaya daya tarik wisata bahari di Gili Balu bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Penting bagi kami untuk memastikan bahwa wisata di Gili Balu berjalan dengan prinsip keberlanjutan. Kami tidak ingin mengejar jumlah kunjungan yang tinggi, tetapi justru mengedepankan kualitas dan kesadaran lingkungan dari wisatawan,” tambah Andy Affandy.
Dengan inisiatif ini, diharapkan Gili Balu bisa menjadi contoh sukses kawasan wisata berbasis konservasi yang mengutamakan pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat lokal, meski kerjasama kami dengan AMMAN berakhir tahun ini, namun apa yang sudah kami lakukan bersama AMMAN untuk membina Masyarakat sadar akan wisata sudah sangat luar biasa, Pokdarwis Poto Tano sudah sangat siap, ilmu dalam pengelolaan wisata khusus sudah mereka miliki, sehingga kami sangat yakin wisata khusus Gili Balu akan terus berkembang, dan saya juga berkomitmen komunikasi kami akan terus terjalin.
Di tempat yang sama Rudini Ketua Pokdarwis Poto Tano mengatakan kami sangat bersyukur kepada AMMAN yang sudah serius mau membangun Pariwisata Gili balu dengan menggandeng Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University yang sangat profesional dan memiliki kemampuan luar biasa dalam mengembangkan pariwisata, sehingga dalam bimbingan yang selama ini dilakukan sangat luar biasa, banyak ilmu yang bisa kami serap sehingga wawasan kami akan wisata sangat terbuka, dan kami juga sangat yakin dengan ilmu yang kami miliki, kami bisa memajukan wisata minat khusus di Gili balu ini.
AMMAN juga berkomitmen akan terus melakukan pemantauan perkembangan wisata minat khusus Gili Balu, dan akan terus melakukan evaluasi dan proyeksi agar wisata Gili balu berkembang dan bisa menjadi wisata unggulan pasca berakhirnya AMMAN. Namun wisata yang dikelola dengan baik di KSB, apalagi wisata Gili Balu akan dijadikan wisata minat khusus yang mengedepankan pelestarian yang akan memungkinakan wisata Gili Balu akan terus berkembang dalam jangka panjang, “ungkap Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN. (*)






