Oleh: Iwan Febryanto (Konsultan Monevstudio Global Company)
Pulau Sumbawa adalah sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat (memisahkan dengan Pulau Lombok), Selat Sape di sebelah timur (memisahkan dengan pulau Komodo3), Samudra Hindia di sebelah selatan, serta laut Flores di sebelah utara. Kota terbesarnya adalah Bima, yang berada di bagian timur pulau Sumbawa. Pulau ini memiliki luas 14.386 km2, dan merupakan pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, serta salah satu dari dua pulau utama di provinsi tersebut. Titik tertingginya adalah Gunung Tambora (2.824 m2), yang juga merupakan gunung api aktif. Keunikan yang dimiliki pulau Sumbawa yaitu disekelilingnya terdapat puluhan pulau kecil yang dikenal dengan gili, diantaranya gili Moyo yang pernah dikunjungi Lady Diana. Keunikan lain adanya pulau Bungin yang lebih tepat disebut sebagai Atol (dataran batu karang) yang termasuk dalam wilayah kecamatan Alas, kabupaten Sumbawa. Pulau Bungin merupakan pulau terpadat di dunia yang memiliki kepadatan 15.000 jiwa/km persegi. Hal ini terjadi karena luas pulau Bungin tidak sampai 8 hektar dan ditempati sekitar 3000 jiwa. Di saat air laut pasang maka Atol Bungin dan Atol disekitarnya tenggelam.
Secara administratif, pulau Sumbawa terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, yakni: (i) Kabupaten Sumbawa Barat, (ii) Kabupaten Sumbawa, (iii) Kabupaten Dompu, (iv)bKabupaten Bima, dan Kota Bima. Bahasa daerah yang utama adalah Bahasa Samawa (orang Sumbawa) dan Bahasa Bima (orang Bima dan Dompu). Di Sumbawa barat orang Taliwang berbahasa Taliwang atau Taliang, berbeda dialek dengan bahasa Sumbawa.
Sejumlah sungai utama di Sumbawa adalah: (i) Sungai/brang Biji atau brang
Samawa, (ii) Sungai Moyo atau brang Moyo, (iii) Sungai/sori Banggo di Bima, dan (iv) Sungai/sori Bela di Bima. Beberapa sungai lainnya juga berperan penting diantaranya sungai/brang Beh di kecamatan Lenangguar Sumbawa selatan, dan brang Bara sebuah sungai yang melintasi tengah kota Sumbawa.
Geospasial dan toponimi berikut ini penulis membahas pemaknaan kata “air” dalam bahasa Samawa/Sumbawa dan Mbojo/Bima. Memandang air sebagai bagian dari komponen hayati penting bagi masyarakat. Air merupakan sumberdaya hayati vital bagi kelangsungan kehidupan.
Toponimi air atau ‘ai/oi’ dalam banyak makna
Orang Bima dan Dompu menyebut air sungai dengan sebutan oi sori, dalam
bahasa Sumbawa ai brang. Sebutan untuk air laut/asin masyarakat menyebutnya oi moti, dalam bahasa Sumbawa ai let. Penduduk Sumbawa dan Bima sangat tergantung pada sumberdaya alam dan siklus musim hujan yang terbatas danvmusim panas yang panjang. Namun, penduduknya sebagian besar telah mengonsumsi air sumur dan air bersih sebagai air minum. Orang Bima menyebutnya ‘oi temba’ sementara orang Sumbawa menyebutnya ‘ai sumir atau ai tana’. Bahkan air sumur juga digunakan sebagai sumber pengairan diperkebunan
lokal dan sempit atau taman pekarangan rumah. Penggunaan air sumur selain
sehat juga ramah lingkungan karena masyarakat memanfaatkan sesuai kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk kegiatan pertanian sawah petani mengandalkan air mengalir melalui
irigasi sekunder dan tersier. Air mengalir dalam sebutan orang Bima ‘oi ma rai’, sementara orang Sumbawa menyebutnya ‘ai berola/ai reban’. Maknanya air yang mengalir dari sumber air hujan atau air yang dialirkan dari sungai dan bendungan ke sawah atau ladang. Orang Sumbawa menyebut sawah dengan sebutan uma, sementara ladang dengan gempang. Orang-orang Bima dan Sumbawa didesa-desa dan pedalaman sebagian besar masih hidup bertani dan berladang dengan tantangan katastropik iklim dan cuaca. Mereka juga merupakan kombinasi petani budidaya dan petani ekstraktif yang bergantung pada hasil hutan dan ladang, sementara kelompok masyarakat pesisir sangat bergantung pada hasil laut. Namun, filosofi alam dan lingkungan tercermin dalam cara, pola dan teknik bertani
dan masih mengandalkan peralatan terbatas, sistem bertani-ladang tradisional sehingga konservasi alam dapat dijaga. Satu decade terakhir situasinya berubah, meluasnya monokultur tanaman Jagung/latin Zea mays ssp (baso-Sumbawa) mengubah kemampuan alam mempertahankan daya dukung lingkungannya. Resikonya bencana banjir bandang melanda kota Bima dan Sumbawa dengan dampak yang luas.
Petani tradisional Bima dan Sumbawa sudah akrab dengan air dalam akar
pohon atau ‘oi amu haju’ atau sebutan Sumbawa ‘ai puen kayu’. Filosofinya setiap pohon menyimpan air melalui akarnya dan menyejukkan iklim mikro lingkungan sekitarnya. Pohon-pohon tua yang berusia ratusan tahun masih dapat dijumpai di hutan sekitar gunung Tambora dan beberapa bukit terisolir di Sumbawa, Dompu dan Bima.
Sekitar tahun 1980-an spesies pohon penyelamat planet di pulau Sumbawa banyak ditebang setelah masuknya ijin HPH PT Jati Alam Lestari dari pemerintah pusat menebang puluhan ribu pohon besar yang berusia ratusan tahun di Sumbawa. Sejak 1980-an pulau Sumbawa dilanda bencana alam banjir pada musim hujan dan kemarau panjang dimusim panas. Dampak lainnya juga terhadap habitat lebah madu terancam, produksi madu berkurang. Orang Bima menyebut air kering dengan ‘oi mango’, sementara orang Sumbawa menyebutnya ‘ai toar’. Air basah kata orang Bima ‘oi mbeca’ sementara orang Sumbawa mengatakan ‘ai basa’, air hujan disebut ‘oi ura’, dan orang
Sumbawa menyebut ‘ai ujan’. Orang Bima menyebut air masak atau air mendidih dengan sebutan ‘oi lowi’, sementara orang Sumbawa menyebutnya ‘ai bakela’. Orang Sumbawa menyebut air dingin dengan sebutan ‘ai ngelar’ dan orang Bima
menyebut ‘oi busi’. Ai bakela biasanya dihubungkan dengan sajian minuman kopi atau teh Sumbawa yang terkenal dengan kopi Tepal dan Baturotok (Tepal nama desa terisolir diwilayah selatan Sumbawa, kaya dengan hasil pertanian dan perkebunan kopi Arabika dan Robusta serta hasil hutan lainnya).
Pulau Sumbawa terkenal dengan bentang alam padang Sabana, lahan
peternakan sapi, kerbau dan kambing serta hewan ruminansia lainnya. Beberapa wilayah memiliki air terjun yang dalam bahasa Bima dikenal dengan ‘oi ma mabu’ sementara orang Sumbawa menyebutnya ‘ai olat’. Untuk menjaga sirkulasi dan distribusi air untuk pertanian, para petani telah mengenai air irigasi atau ai reban kata orang Sumbawa dan orang Bima mengatakan ‘oi lapa tolo’. Hal ini berbeda dengan sebutan air bendungan yakni ‘oi raba’ kata orang Bima dan ‘ai tiu/dam’ kata
orang Sumbawa. Sebutan lain dalam Bahasa Taliwang yakni orang Sumbawa di bagian barat Sumbawa menghubungkannya dengan ‘ai Lebo’ yakni bendungan alami atau danau alam yang terdapat di wilayah kabupaten Sumbawa Barat. Sebagaimana bahasa Dawan, Rote dan Soe di pulau Timor NTT bahwa toponimi air sangat luas dan penuh makna. Air kolam menurut orang Bima ‘oi raba ndeukai’. Air irigasi secara khusus sebagaimana diuraikan diatas berbeda sebutan dan maknanya dengan air selokan yakni ‘oi lapa’ kata orang Bima dan ‘ai kokar atau ai lapan’ kata orang Sumbawa. Air minum disebut ‘oi nono’ kata orang Bima dan ‘ai inum’ kata orang Sumbawa. Orang-orang gunung juga mengenal air minum yang menempel pada dedaunan di tanaman. Mereka menyebutnya ‘oi haju’ kata orang Bima dan ‘ai godong kayu’ kata orang Sumbawa. Biasanya air untuk terapi ditemukan pagi subuh, mereka menyebutnya air embun atau ‘oi raba’ (Bima) dan ‘ai katitis/ngelar’ (Sumbawa).
Air keringat=‘oi howi/ ai siyo’ adalah maknanya pada air keringat saat bekerja
dan berusaha. Air gunung=oi doro/ai olat. Air menetes=‘oi kataba/ai nites’. Air
banjir = oi mbere (Bima)/ai ba/ ai kemelar (Sumbawa), maknanya air bah baik dari luapan air sungai maupun air hujan yang berlimpah. Air sawah = ‘oi tolo/ ai uma’, maknanya air yang dialirkan ke sawah dan membasahi sawah. Air ladang = oi oma (Bima)/ai gempang (Sumbawa), maknanya air di ladang digunung dan biasanya sangat bergantung pada air hujan. Air buah = ‘wua haju’ (Bima)/ ai bua (Sumbawa), maknanya tanaman yang berbuah dan menghasilkan air atau tanaman buah kaya dengan air. Air yang diasosiasi dengan tanaman dalam Bahasa Bima ‘oi ntadi (Bima)/ ai kemang/ai mampis’ (Sumbawa), sementara air pada pohon bambu maknanya air yang disimpan akar bambu. Air manis = oi maci/ai manis, maknanya air gula /tebu, gula aren. Air kelapa/ai nyer,sepanjang pesisir pulau Sumbawa dipenuhi vegetasi pohon kelapa tinggi (nyer tingi). Sumber mata pencaharian penduduknya dan konservasi sumberdaya hayati.
Air asam=oi ngonco/ai bage. Masakan pavorit orang Sumbawa adalah masakan sepat atau air asam biasanya menggunakan bahan asam, buah mangga muda, atau belimbing wuluh. Diolah mentah dengan bawang bakar dan ikan laut bakar atau ikan laut, dicampur air, cabai dan garam. Menu ini sangat sederhana karena dikonsumsi sebagai menu siap saji khususnya saat makan siang. Air pahit=oi pa’i/ ai pet, biasanya terkait air obat dan ramuan herbal dari tanaman. Air madu = oi ani (Bima) dan ai aning (Sumbawa), mengacu kepada madu alam asli Sumbawa. Habitat lebah madu alam terpelihara selama ratusan tahun
terutama dkawasan gunung Tambora, Dompu dan wilayah Semongkat Sumbawa. Air kopi = oi kahawa/ ai kawa. Serapan Bahasa Arab ghahwa. Air minum=oi nono/ai inum, air yang dikonsumsi masyarakat. Sekali lagi di Sumbawa juga terkenal kopi robusta Tambora yang ditanam sejak 200 tahun silam. Kualitas kopi Tambora terjamin, diolah secara tradisional sehingga menghasilkan aroma kopi yang nikmat.
Simpul: Satu kata ribuan makna Kata air atau oi/ai merupakan satu suku kata dengan beragam makna sesuai prefix
paduannya. Suku kata ‘air’ dapat dihubungkan dengan kehidupan dan kematian, kebutuhan pokok dan seni budaya masyarakat. Hal menarik suku kata ai/oi dalam Bahasa Sumbawa dan Bima memiliki kesamaan makna dalam Bahasa Dawan, Rote, Sabu, Soe dan suku bangsa lainnya di Nusa Tenggara Timur. Demikian pula kesamaannya dengan suku kata ‘cai’ dalam bahasa Sunda adalah air. Suku kata ai/oi/oe/oer/cai dan pemaknaan lainnya yang sangat kaya dari berbagai suku bangsa di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Toponimi nama generic air menghubungkan sejarah linguistik suku bangsa di Indonesia, sebuah untaian khatulistiwa yang indah dan harmoni. Semuanya dimungkinkan karena ada kedamaian dan ketenteraman sosial dalam masyarakat. Sejarah terbentuknya
Bahasa generic didaerah sangat mungkin melalui interaksi dan asimilasi budaya dan sebaran masyarakat nusantara. (*)






