Prosesi Malala Sandro Dul Lawin: Diminum Jadi “Serek Daster” Dioles Jadi “Linggis Belanda”

oleh -1043 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (23 Juli 2024) – Badan seketika terasa bugar, keringat bercucuran, dan muncul semangat yang menyala. Itulah reaksi cepat ketika mencicipi ampas dan Minyak “Serek Daster” (Robek Daster) yang diracik oleh Sandro Dul—sapaan Abdullah dari Desa Lawin Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Senin (22 Juli 2024) malam.

Sandro Dul sengaja didatangkan khusus oleh Juliansyah—Anggota DPRD Sumbawa terpilih dari Partai Demokrat, di kediamannya, Jalan Sernu—Kerato, untuk melala (membuat) minyak yang khasiat utamanya untuk kejantanan dan kebugaran tersebut.

Menurut Sandro Dul kepada samawarea.com, minyak itu memiliki manfaat luar dan dalam. Ketika diminum menjadi minyak “Serek Daster”. Tapi ketika dioles dan dilulur di bagian luar, akan berubah menjadi Minyak “Linggis Belanda”.

Pembuatan minyak ini cukup alot. Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai kesempurnaan. Minyak ini sengaja tidak diikutkan pada Festival Melala pada Malam 1 Muharram belum lama ini. Sebab Sandro Dul beralasan untuk menjaga kekhasiatannya.

Prosesi Malala ini tidak dihadiri banyak orang. Yang istimewanya lagi, Dr. H. Zulkieflimansyah—Gubernur NTB periode 2018-2023 berkesempatan hadir mencicipi ampas minyak buatan Sandro Dul, di samping kopi madu, poteng ketan, dan ayam bakar baluran rempah.

Kehadiran mantan orang nomor satu di NTB yang kini mencalonkan diri untuk periode kedua, tanpa rencana. Bang Zul sapaan akrabnya, datang ke Sumbawa untuk menghadiri pergantian Rektor STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam Sumbawa) yang didirikannya sejak setahun yang lalu.

“Ampas minyak ini enak. Tapi saya pernah kuliah di Belanda. Belum pernah saya dengar Belanda itu punya linggis sebagaimana nama minyak Linggis Belanda ini,” kata Bang Zul yang disambut tawa para penikmat “Serek Daster”.

Sementara tuan rumah, Juliansyah mengatakan, prosesi Malala ini sengaja digelar untuk terus menjaga tradisi dan kearifan local, di samping mendukung para peracik minyak untuk tetap menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu untuk menjaga silaturahim.

Jul mengatakan akan rutin melaksanakan tradisi melala ini, dan mendorong para peracik untuk menghasilkan minyak-minyak berkhasiat lainnya.

Iqbal Sanggo—salah seorang penikmat yang dimintai tanggapannya, mengaku reaksi minyak buatan Sandro Dul cukup terasa. Bahkan sebelum datang ke lokasi melala, dia hanya mengenakan sarung. “Reaksinya cepat,” kata Iqbal yang langsung mohon diri untuk pamit pulang ke rumah. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *