Lahan di Sumbawa Miskin Hara, Dinas Pertanian Sebut “Naza Agro’s” Salah Satu Solusi

oleh -1096 Dilihat
Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa, Wirawan Marga SP bersama jajaran PT. . Zahva Original Natural

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 Juni 2024) – Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa, Wirawan Marga SP, Kamis (20/6), menyebutkan bahwa tanah pertanian di Kabupaten Sumbawa sudah dalam kondisi miskin hara. Hal tersebut terungkap dari hasil riset Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Rendahnya kandungan sumber nutrisi atau makanan yang dibutuhkan oleh tanaman ini ungkap Wirawan, menyebabkan tanah menjadi tidak subur. Menurunnya kesuburan tanah ini terjadi karena sulitnya tanah menyerap ‘vitamin’ dari luar.

Tidak jarang untuk mendapatkan hasil yang bagus, petani terpaksa menggunakan pupuk yang lebih banyak guna memenuhi kebutuhan makanan bagi tanaman. Padahal pupuk tersebut tidak bisa 100 persen terserap tanah. Keadaan ini juga yang membuat kebutuhan pupuk meningkat, sehingga kerap terdengar keluhan petani terhadap kelangkaan pupuk.

Karena itu Wirawan menyambut positif kehadiran pupuk cair organic hayati “Naza Agro’s”. Penggunaan pupuk cair produksi PT. Zahva Original Natural yang mulai dimanfaatkan para petani di Sumbawa ini, menjadi solusi inovatif dalam mengembalikan kesuburan tanah. Tanah yang keras menjadi lunak dengan kandungan nutrisi yang memadai.

“Informasi dari produsen, pupuk cair ini ramah lingkungan dan menjadi pelengkap dari pupuk yang ada. Proses penyuburan tanahnya terbilang cepat,” ujarnya.

Karena itu sambung Wirawan, pihaknya memberikan ruang kepada petani untuk memanfaatkannya. Di samping itu melalui penyuluh lapangan memberikan pengetahuan bagi petani sebagai solusi alternative dalam mengatasi rendahnya kesuburan tanah yang membuat produksi pertanian menurun.

“Produsen pupuk ini harus gencar melakukan sosialisasi, karena untuk meyakinkan petani menggunakan produk yang baru, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu praktek langsung di lapangan dengan menjadikan salah satu lokasi percontohan. Biasanya petani akan yakin ketika melihat dan membuktikan hasilnya,” tandasnya. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *