Menakar Kekuatan Pasangan Capres-Cawapres di Sumbawa pada Pemilu 2024

oleh -693 Dilihat
Johan Wahyudi

Oleh: Johan Wahyudi (Dosen Tetap Prodi Ilmu Politik sekaligus Sekretaris Departemen Politik, Pemerintahan, dan Hubungan Internasional (PPHI), FISIP, Universitas Brawijaya, Malang, asal Sumbawa)

Penetapan nomor urut pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) pemilu 2024 telah dilaksanakan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia, Selasa (14/11/2023) malam. Merujuk Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dalam Pasal 235 ayat (2) disebutkan bahwa penentuan nomor urut berdasarkan pengundian. Hasil undian nomor urut dalam sidang pleno terbuka KPU adalah pasangan Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar mendapatkan nomor urut 1, pasangan Prabowo Subianto-
Gibran Rakabuming Raka mendapatkan nomor urut 2, dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD mendapatkan nomor urut 3 pada gelaran Pilpres 2024 mendatang.

Meskipun pertarungan ketiga pasangan capres-cawapres baru dimulai secara formal usai KPU menetapkan tiga pasangan kandidat Senin (13/11/2023), namun sejatinya kontestasi informal telah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Gegap gempita pendukung juga mulai terasa dan bahkan mulai menghangat hingga ke level daerah. Di Sumbawa, misalnya, empat partai politik pengusung pasangan Ganjar – Mahfud yakni PDIP, PPP, Partai Hanura, dan Perindo serta relawan telah melakukan konsolidasi dan membentuk tim pemenangan (Samawarea.com, 14/11/2023).

Sedangkan Tim Pemenangan Prabowo-Gibran yang terdiri dari 9 partai pengusung yakni Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, Partai Demokrat, PBB, Partai Gelora, PRIMA, Partai Garuda, dan PSI juga telah lebih dulu membentuk struktur tim (NuansaNTB, 6/11/2023).

Adapun partai pengusung pasangan Anies-Muhaimin, yakni Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera, ditambah partai non parlemen Partai Ummat, juga telah menyiapkan rencana pemenangan kolektif seperti dua pasangan lainnya. Sejauh ini, partai koalisi pendukung Anies – Muhaimin di tingkat provinsi sudah mulai bergerak untuk membangun tim pemenangan. Struktur partai pengusung beserta sayap relawan juga siap bekerja maksimal demi memenangkan pasangan tersebut. Hal ini, misalnya, disampaikan oleh Sekretaris DPD Partai Nasdem Kabupaten Sumbawa, Chandra Wijaya Rayes yang siap bergerak untuk memenangkan pasangan AMIN (Sumbawanews.com, 20/10/2023).

Menyongsong pilpres 2024 yang akan datang dalam kurun waktu kurang dari 90 hari ke depan, ada beberapa hal menarik saat membaca kekuatan dukungan pemilih terhadap ketiga pasangan capres-cawapres di Kabupaten Sumbawa. Pada pilpres 2019, pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno memperoleh 170.746 suara sementara pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin meraup 105.358 suara dari total 326.182 daftar pemilih tetap di Kabupaten Sumbawa. Ada selisih 65.388 suara untuk keunggulan Prabowo-Sandi. Sedangkan perolehan suara di Provinsi NTB, Prabowo-Sandi mengunci 2.011.319 suara dan Jokowi-Ma’ruf Amin meraih 951.242 suara. Prabowo-Sandi pun memenangkan perolehan suara di 10 kabupaten/kota di NTB dengan selisih 1.060.077 suara.

Baca Juga  Kantor KPU Sumbawa Bakal Dikelilingi CCTV

Pilpres 2024: Jalan Terjal Prabowo – Gibran di Sumbawa?
Pertanyaannya, apakah pemilih Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno saat bertarung melawan Joko Widodo – Ma’ruf Amin pada pilpres 2019 lalu masih akan memilih Prabowo saat ini? Jawabannya, masih dinamis. Beberapa faktor dapat membantu menjelaskan.

Pertama, perubahan lanskap politik 2024 dengan 2019. Di pilpres 2019 hanya terdapat 2 pasangan calon, sedangkan pada pilpres 2024 ini terdapat 3 pasangan. Konsekuensinya, rebutan suara pemilih tidak dapat dihindari. Sebab ketiga pasangan capres-cawapres memiliki kekuatan dukungan dari koalisi partai pengusung serta militansi dari para simpatisan dan relawan non parpol.

Kehadiran Prabowo dengan menggandeng figur Gibran Rakabuming Raka bisa saja menjadi daya tarik untuk menggaet pemilih milenial di satu sisi. Hanya saja, sosok Gibran yang diidentikkan dengan Jokowi beserta segala kontroversinya pasca putusan MK dapat menjadi tantangan di sisi yang lain. Belum lagi kemunculan pasangan Ganjar – Mahfud yang memiliki irisan pemilih yang hampir sama dengan basis pemilih dari Prabowo – Gibran. Karakter pemilih di Sumbawa tidak sama dengan karakter pemilih daerah lain yang sebelumnya memilih Jokowi. Sehingga, Prabowo berkepentingan untuk mengamankan dukungan yang ia peroleh saat memenangkan pertarungan ketika menghadapi Jokowi – Ma’ruf Amin di pilpres 2019 lalu.

Namun yang tidak boleh diabaikan adalah hasil survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis Senin (20/11/2023). Pasca putusan Mahkamah Konstitusi, efek elektoral Gibran yang malah menaik seiring dengan serangan terhadapnya terkait isu dinasti politik, nepotisme, hingga demokrasi mendung, justru menunjukkan tingkat keterkenalan Gibran yang signifikan dari 69,4 persen (sebelum putusan MK) menjadi 87, 1 persen pasca putusan MK. Lalu lintas percakapan yang masif seputar Gibran pun turut berpengaruh terhadap elektabilitas cawapres, dimana Gibran berada di angka 40,9%, Mahfud MD di angka 26,4%, dan Muhaimin Iskandar hanya di angka 18,5%. Terhadap fenomena di atas, muncul pertanyaan, mengapa isu-isu tersebut tidak terlalu berdampak terhadap pemilih di level bawah?

Dalam sebuah acara talkshow Kompas TV, yaitu ROSI episode “Capres Nomor 1, 2, 3: Pilpres Jangan Curang!” yang tayang Kamis, 16 November 2023, ahli Ekonomi Politik University of Melbourne Prof. Vedi Hadiz menjelaskan bahwa isu nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal, hingga politik dinasti merupakan bagian dari fakta sosiologis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bawah. Masyarakat menganggap hal-hal tersebut adalah fenomena yang biasa terjadi. Meskipun secara personal ia sendiri tidak membenarkan sikap masyarakat tersebut.

Terlepas dari pencalonan Gibran yang diwarnai berbagai kontroversi, nyatanya, isu seputar dinasti politik hanya berpengaruh terhadap sebagian kalangan terpelajar. Secara kuantitatif, hanya terdapat sekitar 10% hingga 15% pemilih dari segmen kalangan terpelajar seperti mahasiswa, tamatan S1, S2, S3 dan lainnya dari total 204,8 juta pemilih. Sementara segmen pemilih dari wong cilik, yakni mereka yang hanya lulus SMP ke bawah dengan penghasilan 2 juta ke bawah, total jumlah mereka adalah 60% dari populasi pemilih. Dengan demikian, potensi Prabowo – Gibran mendulang suara dari kalangan bawah di Sumbawa juga bisa dibilang terbuka dan bersaing dengan pasangan Ganjar – Mahfud dan Anies – Muhaimin.

Baca Juga  Reputasi Dunia, Rektor UTS Diminta Sharing Tentang Kampus Olat Maras di Malaysia

Kedua, hadirnya sosok Anies – Muhaimin. Kecenderungan masyarakat Sumbawa yang sejak pemilu sebelumnya paling banyak memilih Prabowo karena sosoknya yang dianggap tegas dan pada saat yang sama kurang begitu tertarik terhadap figur Jokowi sedikit banyak akan menggeser arah dukungan kepada figur Anies – Muhaimin. Seperti diketahui, salah satu kekuatan utama perolehan suara Jokowi – Ma’ruf Amin di Sumbawa pada pilpres 2019 adalah solidnya pergerakan PDIP beserta barisan relawan. Sedangkan PDIP saat ini telah mengusung jagoannya sendiri yakni Ganjar – Mahfud. Oleh sebab itu, maka perjuangan tim pemenangan Prabowo – Gibran di Sumbawa pada pemilu 2024 ini akan mendapat ujian berat. Tidak hanya itu, pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar juga didukung oleh partai politik yang solid secara struktural seperti PKS, Partai Nasdem, PKB, serta Partai Ummat.

Pada kesempatan yang sama, dukungan salah satu tokoh Sumbawa sekaligus mantan Bupati Sumbawa dua periode, Jamaluddin Malik yang juga tercatat sebagai calon anggota DPR RI Dapil NTB 1 (Pulau Sumbawa), turut memperkuat dukungan pasangan AMIN. Terakhir, salah satu kekuatan pasangan AMIN berasal dari pemilih yang sebelumnya kurang menyukai Jokowi serta beralih dari Prabowo karena adanya skandal di Mahkamah Konstitusi. Meskipun harus dicatat bahwa segmen pemilih terpelajar yang paham dinamika politik tidaklah banyak.

Sebagai penutup, dari penjelasan di atas setidaknya dapat disimpulkan bahwa pertarungan ketiga pasangan capres-cawapres di Sumbawa akan berlangsung menarik dan kompetitif. Ketiganya memiliki partai pendukung yang solid dan militan dibawah komando elit partai di level kabupaten maupun elit partai yang telah menjadi tokoh nasional. Kehadiran jaringan relawan juga menambah kekuatan elektoral ketiganya. Menghadapi pemilih di Sumbawa yang relatif otonom dalam menentukan pilihan politiknya, maka racikan strategi kampanye haruslah yang mampu ete ate (mengambil hati) pemilih. Sebab arahan elit politik tidak otomatis diikuti oleh pemilih. Pasangan manakah yang akan berhasil merebut hati 367.987 pemilih di Sumbawa pada pilpres 2024 mendatang? Menarik untuk dinanti!

mahkota rokok NU
Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *