SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13 September 2023) – Dosen Program Studi Bioteknologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) telah melakukan penelitian eksplorasi bakteri asal tanah lahan kering Sumbawa sebagai kandidat antibiotik jenis baru.
Tim peneliti dari riset ini adalah empat dosen Program Studi Bioteknologi yaitu Dwi Ariyanti, Ph.D., Maya Fitriana, Ph.D., Nurul Izzati, M.Sc., dan Adelia Elviantari, S.Biotek., M.Si. Keempat dosen ini diperkuat oleh Immanuel Sanka, M.Sc. Dana penelitian didukung oleh Dikti melalui skema hibah Penelitian Dosen Pemula tahun 2023.
Dwi Ariyanti, Ph.D. mengatakan, riset tersebut dilatarbelakangi dengan banyaknya kasus resistensi terhadap antibiotik yang semakin mengkhawatirkan. Resistensi antibiotik adalah suatu kondisi dimana bakteri patogen penyebab infeksi, baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan, sudah kebal terhadap dosis antibiotik yang biasa diberikan.
Hal ini disebabkan karena penggunaan obat yang disalahgunakan, diperoleh tanpa resep dokter, dan penggunaan yang tidak sesuai pada ketentuan. Kondisi itu tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, namun juga pada negara maju.
Dosen yang juga Wakil Rektor III UTS ini menyebutkan, bahwa 1.27 juta orang meninggal per tahunnya disebabkan oleh infeksi yang resisten terhadap antibiotik. Jika resistensi terhadap antibiotik semakin berkembang, maka akan menimbulkan penyakit infeksi yang semakin meluas dan berdampak pada keselamatan manusia. Karena itu perlu dilakukan pencarian kandidat antibiotik jenis baru yang lebih efektif.
Perempuan yang meraih gelar doktor di Jepang ini, memberikan alasan mngapa harus bakteri dari tanah lahan kering Sumbawa. Menurutnya, selain potensi sumber daya alam yang terlihat oleh mata, Sumbawa juga memiliki potensi bakteri yang sangat berlimpah. Namun hal ini masih jarang diteliti.
Kondisi Sumbawa dengan suhu yang tergolong cukup tinggi dan lahan kering pada saat tertentu sebenarnya menguntungkan jika dilihat dari kacamata sains. Pada kondisi yang tergolong cukup ekstrim tersebut, dapat hidup bakteri dengan keunikan tertentu. Salah satunya dari golongan Actinomycetota.
“Antibiotik yang ada saat ini banyak berasal dari golongan ini. Namun diyakini jika masih banyak bakteri dari ordo tersebut yang belum diteliti,” imbuhnya.
Lokasi pengambilan sampel tanah lahan kering, lanjutnya, tersebar di Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa dengan karakteristik yang berbeda-beda. Selanjutnya sampel tanah ditreatment di laboratorium dan dilakukan skrining secara morfologi (karakter yang terlihat kasat mata) dan konfirmasi keberadaan gen penanda dengan metode PCR (polymerase chain reaction).
Pada penelitian ini diperoleh 22 jenis bakteri yang telah terindikasi sebagai Streptomyces (golongan dari Actinomycetota). Tapi hasil ini masih perlu dilakukan pengujian lebih lanjut di tingkat molekuler dengan sekuensing. Selanjutnya akan dilakukan efektivitas penghambatan terhadap patogen dan analisis senyawa yang diproduksi dari isolat bakteri yang diperoleh.
“Penelitian ini tentunya masih panjang, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” pungkas Magister Biotech jebolan UGM ini. (SR)






