Seminar Islam dan Kebudayaan, Dea Guru Cuk Ungkap Sejarah Islam Masuk Sumbawa 

oleh -973 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (27 Agustus 2023) – Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Kabupaten Sumbawa sukses menggelar Seminar Islam dan Kebudayaan. Seminar bertajuk “Islam dan Kebudayaan” ini menghadirkan dua pemateri yakni Dea Guru Syukri Rahmat (Ketua Umum MUI Kabupaten Sumbawa) dan Aries Zulkarnaen (Budayawan Sumbawa).

Dea Guru Cukp—sapaan Ketua Umum MUI Sumbawa ini, berbicara tentang sejarah perkembangan Islam di Sumbawa. Sosok yang konsen pada kajian-kajian ke-Islaman dan kebudayaan tersebut menuturkan bahwa masuknya Islam ke Sumbawa tidak bisa dipisahkan dari proses islamisasi yang terjadi di Nusantara.

Sejarah panjang ini dimulai sejak zaman Rasulullah SAW pada fase awal di Makkah al Mukarramah, berlanjut di era sahabat (khulafauurrasyidin) di Madinah, Dinasti Bani Umayyah (661-750), Dinasti Bani Abbasyiah (750-1280), masa tiga kerajaan besar, yaitu Turki Utsmani di Turki, Kerajaan Shafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India.

Kemudian penyebaran Islam di Nusantara (Sumatera, Jawa, Sulawesi,  dan Maluku). Diungkapkan Dea Guru Cuk, terdapat beberapa pendapat mengenai sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Asal-usul, pembawa, dan waktu, merupakan pertanyaan yang terus menerus muncul di tengah-tengah masyarakat Sumbawa, terutama dari para pemerhati dan pecinta sejarah.

Dari pemaparannya yang lugas disertai hasil-hasil kajian yang dilakukannya, Dea Guru Cuk kemudian menegaskan bahwa untuk wilayah Nusantara terdapat pelbagai pendapat para ahli sejarah, mengenai waktu masuknya Islam. Ada yang berpendapat abad ke-13, abad ke-16 dan ada pula yang menyebut abad ke-7 Masehi.

Di balik pendapat-pendapat tersebut, ada juga bukti-bukti sejarah yang dikemukakan oleh para ahli. Misalnya di wilayah Sumatera, berdiri beberapa kerajaaan Islam. Kerajaan Islam Samudera Pasai, sebagai Kerajaan Islam pertama di Indonesia. Raja pertamanya adalah Al-Malik as-Shaleh (wafat Bulan Ramadhan 696 H/1297 M). Sementara itu, Agama Islam di Pulau Jawa mulai masuk diperkirakan sebelum abad XIII Masehi, yang dipimpin oleh para Wali Songo.

Sedangkan berkaitan dengan kapan awal mula Islam mulai masuk dan dan berkembang di Sumbawa, mantan Ketua KPU Sumbawa mengaku belum ada data pasti. Karena itu muncul berbagai macam analisa guna mencari kapan pertama kali Islam hadir di Sumbawa dan siapa pembawanya.

Namun demikian, Dea Guru Cuk dengan penuh keyakinan mengutip pendapat Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin bin Abdul Madjid Pancor, dalam bukunya “Wasiat Renungan Massa” menjelaskan bahwa, di Liang Petang Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu, terdapat makam tujuh muballigh penyiar Islam. Seperti yang tertera dalam bentuk syair. “Di Liang Petang di Moyo Hulu

tujuh muballigh bermakam di situ, penyebar Islam zaman dahulu, awal terbuka daerah Dompu, yaitu, Ali Fatah Badawi, Harun Zain Abu Bakar Husni, Firdaus Imran ‘Aalu Syahabi dan Amir Hajjaj Muhammad Ali Akbari”.

Lebih jauh diterangkan Dea Guru Cuk, bahwa Dompu, pertama kali diserbu pasukan Majapahit tahun 1344 M di bawah komando Tumenggung Nala. Dompu baru bisa ditaklukkan pada tahun 1357 M. Artinya, jauh sebelum 1334 M, Dompu telah hadir sebagai sebuah negeri (kerajaan berdaulat).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islam melalui para muballigh tersebut sudah mulai masuk ke Sumbawa. Ini berarti bahwa Islam di Sumbawa telah hadir, jauh sebelum berdirinya Kesultanan Sumbawa tahun 1648, sekalipun dalam wilayah yang sangat terbatas, yakni diwilayah Liang Petang atau batu Tering Moyo Hulu.

Sedangkan penyebaran lebih lanjut, baru dilakukan pada era Kesultanan Sumbawa yang berdiri tahun 1648 Masehi, sekalius rumusan mengenai qanunnya Sumbawa Adat Barenti Lako Syara’, Syara’ Barenti Lako Kitabullah”, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Djalaluddin Syah I yang memerintah tahun 1702-1725. Fase ini, Islam di Sumbawa dari beberapa sumber sekunder disebutkan, di bawah oleh para muballigh yang datang dari Kuffah, kemudian Goa Sulawesi dan Jawa.

Selanjutnya disampaikan, bahwa Islam di Sumbawa, berafiliasi pada tiga ormas, yakni Nahdlatul Ulama yang berdiri 1935, Muhammadiyah pada tanggal 22 Rabiul Akhir 1359 H bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1940. Dan tahun 1960, organisasi NW masuk pertamakali ke Sumbawa.

Dea Guru Cuk pun menyebut beberapa nama ulama Sumbawa yang hidup diabad ke-18/19 M yang sangat masyhur. Antara lain Al ‘alimul ‘Allaamah, Al Fadhil Hadhratu as Syaikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawai Al Tepali Al Jawi As Sumbawi.

Ulama ini lahir di Desa Tepal Kecamatan Batu Lanteh Kabupaten Sumbawa, pada tahun 1227H/1810 M, dan wafat di Makkah al Mukarramah pada Bulan Dzuqa’dah 1312 H/1895 M dalam usia 85 tahun. Syaikh Muhammad Ali bin Abdurrasyid bin Abdullah al Jawi al Qadhi as Sumbawi memiliki kitab yang terkenal Al yawaqiitu al Jawahir.

Ulama lainnya adalah Datu Kadi Muhammad Jaqub Lalu Mesir, Dea Imam H. Muhammad Sirad (Imam Utan), Dea Imam Lunyuk atau Datu Alam Dea Imam Muhammad bin H. Muhammad Ali Dea Imam H. Daud (Imam Batu Dulang), dikenal dengan sebutan H. Dawe, Syaikh Muhammad bin Umar as-Sumbawi, putra Syaikh Umar Sumbawa yang cukup dikenal di Negeri Yaman.

Syaikh Muhammad Arsyad as Musuki as Sumbawi. Putera dari Syaikh Umar as-Sumbawi. Kebetulan penulis pernah berziarah ke Makamnya di Desa Musuk Kecamatan Batu Lanteh. Syaikh Abdurrasyid bin Abdullah, guru dari Syaikh Muhammad Ali (putranya sendiri) dan Syaikh Umar as Sumbawi, Syaikh Abbas, keluarga dari Syaikh Zainuddin Tepal, Dea Kadi Syaikh Sirajuddin. Ia adalah kadi (Qadhi) pada masa Sultanah Shafiyatuddin (1791-1795), DGH. Abdul Kaffi (hidup pada masa Sultan Muhammad Amrullah), dan lainnya.

Sementara Aries Zulkarnaen, Budayawan Sumbawa, memaparkan tentang makna dan nilai-nilai adat budaya Tau dan Tana Samawa.

Seminar Islam dan Kebudayaan ini sangat berkelas, karena diikuti Rektor UTS, Chairul Hudaya, Ph.D., para wakil rektor, dosen UTS, perwakilan ormas, aktivis kampus, guru-guru SMA/SMK.

Ketua IKADI Kabupaten Sumbawa menyampaikan bahwa tujuan acara ini digelar agar masyarakat dan para Da’i di Sumbawa, memiliki pemahaman tentang Islam dan adat yang tumbuh berkembang di Sumbawa, sehingga bisa membantu dalam tugas-tugas dakwah.

Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) Chairul Hudaya, Ph. D., sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini. Rektor muda prestasi ini mengakui bahwa di UTS akan ada program untuk membina para mahasiswa penghafal Al-Qur’an, untuk lebih mendalami tentang materi dan metode dakwah. Program yang telah digagas hasil kerjasama dengan IKADI dan MUI Kabupaten Sumbawa ini diharapkan melahirkan dai-dai yang mumpuni berasal dari UTS. (SR)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *