Abu Nuwas (Abu Nawas) konon hidup pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid–salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah. Abu Nawas dikenal sebagai seorang pujangga.
Terkenal dengan sifat jenaka dan kekonyolannya, ternyata saat kematiannya membuat Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Padahal awalnya, Imam Syafi’i enggan untuk menyolati Abu Nawas.
Bukan itu saja, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer sehingga dia mendapat julukan penyair khamer. Ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menyolati jenazahnya.
Namun ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berisi.
“Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak, tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar. Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan? Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku. Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu dan keindahan ampunan-Mu dan aku pasrah setelah ini”.
Setelah membaca syair tersebut, Imam syafi’i menangis sejadi-jadinya. Diapun bergegas langsung menyolati jenazah Abu Nawas bersama orang-orang yang hadir. (*)






