SUMBAWA BESAR, samawarea.com (17 Januari 2023)–Para peternak di Kabupaten Sumbawa merasa resah. Belum lama penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang hewan ternaknya, kini muncul ancaman baru. Adalah penyakit ternak Lumpy Skin Disease (LSD). Saat ini penyakit tersebut merebak di sejumlah propinsi wilayah Pulau Jawa.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa, H. Junaidi S.Pt yang ditemui Senin (16/1), menegaskan hingga saat ini belum ditemukan adanya ternak yang menderita penyakit LSD di Kabupaten Sumbawa. Meski demikian pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan monitoring lapangan.
“Sampai saat ini Sumbawa masih aman dari LSD. Jika nantinya ditemukan adanya gejala penyakit tersebut, para peternak segera melapor untuk segera ditindaklanjuti,” pinta Haji Jun—sapaan akrabnya.
Sementara Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakeswan Sumbawa, drh. Rini Handayani M.Si menjelaskan, LSD merupakan penyakit hewan yang menyerang sapi dan kerbau. Ini disebabkan oleh virus pox. Gejalanya, terdapat benjolan atau gumpalan pada kulit hewan, serta suhu hewan panas tinggi.
“Kebetulan kita di sini paling banyak sapi dan kerbau. Ini menjadi sasaran penyakit yang disebabkan virus pox. Kita akan memberikan perhatian serius,” tandasnya.
Disinggung mengenai penularannya, Rini menerangkan dapat melalui kontak langsung dengan hewan terjangkit. Kemudian melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu. Sama dengan PMK, LSD bukan penyakit zonosis. Penyakit ini merusak dagingnya sehingga penampakannya tidak bagus. Namun dagingnya masih bisa dikonsumsi, bagian yang rusaknya dihilangkan, dan dimasak pada suhu 65 derajat celcius selama 30 menit.
Terhadap adanya penyakit LSD di daerah lain, lanjut Rini, pihaknya mewaspadai lalulintas ternak. Tentunya bersurat kepada para pengusaha ternak untuk lebih berhati-hati dalam mendatangkan ternak dari luar daerah. Terlebih dari daerah yang sudah terkonfirmasi LSD.
“Jika ada gejala LSD, peternak segera mengisolasi ternaknya atau pisahkan dengan yang sehat, kemudian menyemprotkan disinfektan, karena penularannya lewat vektor seperti lalat, japlak, nyamuk, dan serangga terbang. Kebetulan kami sudah droping banyak disinfektan ke UPT Produk dan Kesehatan Hewan di wilayah kecamatan,” ujarnya. (SR)






