Sidang Kedua Mudzakarah Rea, Tiga Narasumber Bahas Soal Pangan

oleh -596 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30 Oktober 2022)–Tiga narasumber pada Mudzakarah Rea LATS 2022 ini lebih focus membicarakan masalah pangan. Seperti yang dipaparkan Ir. H. Badrul Munir, MM pada sidang kedua di Istana Dalam Lokal, Minggu (30/10). Direktur Eksekutif Regional Institute ini mengulas makalahnya berjudul “Sumbawa Mandiri Pangan 2029: Mengembangkan Pangan Lokal di Era Global”.

Ia menjelaskan tentang revolusi pangan di NTB yang dimulai dari masa NTB Bumi Gora, intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, pengembangan lahan kering dan kelautan, hingga era industrialisasi yang berbasis sumber daya lokal dan penciptaan nilai tambah.

Di samping itu membahas kebijakan ketahanan kemandirian kedaulatan pangan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2012 tentang Pangan.

Ia menawarkan strategi menuju kemandirian pangan. Antara lain melalui peningkatan aksesbilitas pangan agar terpenuhinyya konsumsi pangan daerah, diversifikasi dan industrialisasi pangan, hingga penguatan kelembagaan pangan.

Mantan Wakil Gubernur NTB ini berharap, keseluruhan strategi tersebut mampu memenuhi megatrend pangan dunia yang mengarah pada kriteria syarat kesehatan (bahan organik), kesenangan (menarik, segar dan produk etnik), kenyamanan (kemudahan cepat saji) dan prinsip halalan thayyiban (halal, beragam, bergizi, aman).

Sementara Prof. Dahlanuddin, Guru besar Universitas Mataram mengangkat topik “Membangun Rantai Pasok Daging Sapi Lokal Premium asal Pulau Sumbawa”. Tokoh Sumbawa yang akrab disapa Prof Dahlan ini mengungkap trend kebutuhan daging sapi NTB yang terus meningkat. Hal tersebut disebabkan karena beberapa hal, antara lain kebutuhan rumah tangga terus meningkat dan adanya kebutuhan pariwisata di NTB.

Di sisi lain dia juga memaparkan tentang potensi penggemukan sapi di lahan kering dan penggemukan berbasis lamtoro di Sumbawa. Penggemukan sapi berbasis lamtoro di lahan kering telah diadopsi oleh lebih dari 3000 peternak di Sumbawa dan Lombok. Pendorong adopsinya adalah teknologinya sederhana, sesuai dengan kondisi demografi dan lebih menguntungkan.

“Pertumbuhan ternak lebih cepat, dagingnya lebih lembut, ditambah lagi oleh proses yang tepat dan penyimpanan pada suhu 2 derajat selama 14 hari,” jelasnya.

Hal ini sambungnya, mampu menjadi branding premium local beef dengan jaminan daging sapi berkualitas tinggi, aman, sehat dan halal diperoleh dari ternak sapi yang dipelihara di NTB dengan pakan hijauan unggul.

Prof. Dahlan juga menjelaskan perlu terobosan baru untuk memperkuat daya saing sapi lokal. Ia melihat beberapa peluang, yaitu tingginya permintaan daging sapi yang berkualitas tinggi, sehat, aman dan halal (daging premium) terutama pasar khusus (niche market) di Jakarta dan kota besar lainnya. Apalagi saat ini NTB menjadi tujuan wisata halal.

Narasumber lainnya adalah Dr. Syahrul Bosang. Konsultan dari GPS Farm Technical Consultant at ACOLID (Arab Company for Livestock Development) ini mengaku menjadi investor dalam business peternakan ayam di Indonesia dan dunia, serta menguasai GPS Farm Operation sampai ke Broiler. Tema yang diangkat mengenai “Industri Ayam Ras di Indonesia: Tantangan dan Peluang Bisnis”.

Secara umum dia membahas tentang perkembangan industri ayam ras dan dinamikanya, rantai nilai komoditas ayam ras, serta transformasi bisnis menuju aliansi integrasi.

Dalam pemaparannya Ia menyampaikan bahwa ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain. Kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan (produksi) daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat. Atau sekitar 4-5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi.

“Indonesia negara yang cocok untuk budidaya ayam broiler karena sensitif terhadap suhu dan kelembaban. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki suhu yang relatif hangat. Sehingga, pertumbuhan ayam broiler menjadi optimal,” imbuhnya.

Disebutkan Syahrul Bosang, ada beberapa alasan mengapa peluang industri dan peternakan ayam broiler menjadi daya tarik di Indonesia. Adalah permintaan tinggi, dibutuhkan dalam skala besar, pertumbuhan cepat, cashflow tinggi, peluang pengembangan bisnis besar, dan relatif mudah dibudidayakan.

Ia melihat adanya peluang peternak ayam ras di Sumbawa menjadi pemasok daging ayam ras dan pemasok telur ayam ras ke seluruh daerah defisit di Indonesia Timur, sangat terbuka lebar. Karenanya ketersediaan rumah potong ayam dan cold storage untuk broiler maupun PTT dan POT untuk layer sangat diperlukan. (kesultanansumbawa.id)

 

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *