SUMBAWA BESAR, samawarea.com (14 Agustus 2022)–Tiga Dosen Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Nurul Amri Komarudin dan Yuni Yolanda (Dosen Program Studi Teknik Lingkungan), serta Fahrunnisa (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi) telah mempresentasikan hasil penelitiannya terkait Pengelolaan Wisata Bahari Berbasis Masyarakat. Presentasi itu disampaikan pada kegiatan the 3rd Geotourism Festival and International Conference.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 Agustus 2022 di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, dihadiri para peneliti dan akademisi tingkat nasional dan internasional.
Ketiga dosen ini merupakan satu tim penelitian dan mengirimkan dua paper sekaligus. Paper pertama berjudul “Community-Based Whale Shark Conservation to Strengthen Marine Tourism Management in Sumbawa” membahas terkait lonservasi Hiu Paus berbasis masyarakat di Teluk Saleh, Desa Labuhan Jambu.
Tujuannya untuk merealisasikan model ekonomi biru bagi masyarakat pesisir di Sumbawa dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Sumbawa.
Kemudian paper kedua berjudul “Community-Based Marine Ecotourism Management in Prajak Area, Sumbawa”, yang membahas terkait Manajemen Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat yang dilakukan di Desa Prajak Sumbawa.
Tujuannya, merancang zonasi ekowisata bahari yang tepat berdasarkan potensi ekologisnya, menganalisis kelayakan ekowisata laut berbasis masyarakat, dan menciptakan strategi pengelolaan ekowisata laut berbasis masyarakat di Prajak, Kabupaten Sumbawa.
Kedua paper tersebut berhasil lolos review tanpa revisi dari reviewer sehingga layak untuk dipresentasikan pada kegiatan Konferensi Internasional ini, selain akan dipublikasikan pada International Journal of Geotourism science and Development.
Geotourism Festival and International Conference atau yang lebih dikenal dengan geofest sendiri merupakan kegiatan yang dimulai selama pandemi sebagai bentuk ketahanan terhadap geopark dan geowisata di dalamnya bencana (pandemi Covid-19). Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, dimana sedikitnya 20 juta orang di Indonesia bekerja di sektor ini (termasuk geowisata).
Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan geopark dan geowisata di Indonesia dan Asia Pasifik dalam situasi sulit. Geowisata merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengembangan geopark.
Namun sayangnya belum banyak program yang dilakukan dibandingkan dengan peningkatan jumlah geopark di Indonesia, terutama di masa pandemi. Geofest mencoba merangkul berbagai kalangan, khususnya pelaku pariwisata atau geowisata untuk meningkatkan dan meningkatkan kapasitas baik secara langsung maupun digital.
Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2020, diinisiasi oleh UGGp Rinjani-Lombok bekerja sama dengan Jaringan Geopark Indonesia, Jaringan Geopark Asia Pasifik dan didukung oleh pemerintah, swasta dan UNESCO (UNESCO Global Geopark). (SR)






