SUMBAWA BESAR, samawarea.com (23 Juli 2022)—Ketua Pecinta Alam “Petang”, Burhanuddin menyesalkan tindakan tangan-tangan jahil yang mencorat-coret tebing air terjun “Mata Jitu” Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa. Dengan adanya coretan di dinding tebing, membuat keindahan destinasi kelas dunia tersebut ternoda.
“Kami sesalkan, harusnya pihak KSDA dapat mengantisipasi hal ini,” tukas Burhanuddin yang belum lama ini melakukan wisata di Air Terjun Mata Jitu.
Menurut Bur—sapaan aktivis lingkungan ini, mencorat-coret di wilayah hutan lindung, apalagi telah menjadi destinasi wisata alam, sangat tidak dibenarkan. Bukan hanya mencoret, terkadang pengunjung secara sadar dan tidak telah melakukan tindakan tidak terpuji lainnya saat melakukan penjelajahan di alam. Seperti memetik bunga, daun, dan tanaman yang tumbuh di alam.
“Untuk lebih memaknai arti pecinta alam, mari kita belajar etika dan moral yang harus kita jaga ketika bepergian ke alam. Jangan mengambil sesuatu selain foto,” ujar Bur.
Bur mengaku kerap mengunjungi tempat wisata alam yang menjadi langganan para pelancong. Banyak pengunjung yang abai dengan larangan, seperti membuang sampah sembarangan. “Ketika berkunjung ke tempat wisata terutama alam pegunungan, jangan meninggalkan sesuatu apalagi sampah, kecuali jejak kaki,” tukasnya.
Bur menyontohkan dengan membuang sampah di puncak bukit menyebabkan terjadinya kebakaran hutan. Sampah tersebut kian lama semakin kering dan menimbulkan gesekan dengan benda sekitar. Gesekan yang terjadi antara sampah kering dan benda tersebut bisa memantik api.
“Saat kita mengunjungi tempat wisata alam, jangan pernah merusak hanya demi mendapat kesenangan belaka. Ingat, mencintai juga harus merawat dan melestarikan. Jadi, tinggalkan jejak saja sebagai kenangan kunjungan di tempat tersebut. Jangan membunuh sesuatu selain waktu,” pungkasnya. (SR)






