Distribusi Air PDAM Sumbawa Masih Belum Normal, ini Masalahnya

oleh -705 Dilihat

SUMBAWA BESAR (29 Mei 2022)—Distribusi air PDAM oleh Perumdam Batu Lanteh, masih belum normal. Hal ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama sepanjang Bendungan Ai Ngelar dan peremajaan pipa belum diwujudkan. Hal ini diungkapkan Dr. Dedi Heriwibowo selaku Dewan Pengawas sekaligu Plt. Direktur Perumdam Batu Lanteh saat ditemui wartawan pada kegiatan Intake Air Baku Semongkat, Sabtu (28/5) kemarin.

Menurut Doktor Dedi yang juga Kabag Ekonomi Setda Sumbawa, Air Baku Semongkat yang menjadi sumber air satu-satunya Perumdam di wilayah hulu, sangat rentan dengan kondisi perubahan air sungai Semongkat yang disebabkan faktor alam. Ketika sungai banjir, petugas melakukan penutupan pintu air agar tidak terjadinya sedimentasi akibat masuknya material ke dalam jaringan transmisi utama berupa lumpur, pasir dan bebatuan.

Lantaran pintu air ditutup saat banjir, secara otomatis aliran air terhenti. Setelah tidak ada banjir pintu air dibuka kembali. Namun muncul masalah baru. Saat pintu air dibuka, udara masuk ke dalam jaringan transmisi dan menghambat pendistribusian air pada pipa utama sehingga membutuhkan waktu untuk mengalirkan air secara normal.

Demikian sebaliknya ketika musim kemarau. Kendala yang dihadapi adalah debit air yang terus berkurang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya beralih fungsi lahan. Lahan yang dulunya rimbun dibabat untuk menanami tanaman tertentu atau musiman di bagian hulu.

Kendala lainnya yang dialami Perumdam Batu Lanteh ungkap Doktor Dedi, jaringan transmisi pipa utama mengalami kerusakan katup udara di 84 titik. Katup udara ini berfungsi untuk mengeluarkan udara dalam pipa transmisi yang menghambat pendistribusian air dari Intake Semongkat ke bak Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Desa Pungka Kecamatan Unter Iwis.

“Selama ini Perumdam mengalirkan air dari Air Baku Semongkat menuju Instalasi Pengolahan Air yang berada di Desa Pungka yang kemudian didistribusikan ke wilayah kota. Panjang instalasi dari air baku menuju IPA ini mencapai 17 kilometer. Sepanjang itu terdapat 84 titik katup udara yang mengalami kerusakan. Untuk mengganti katup udara ini, dibutuhkan dana miliaran rupiah,” beber Doktor Dedi.

Meski dengan kondisi ini, lanjut Doktor Dedi, pelayanan kepada masyarakat terutama pelanggan harus tetap berjalan. Untuk menyiasatinya terpaksa dilakukan distribusi buka tutup. “Ketika distribusi air di tempat A, maka di tempat B akan ditutup, demikian sebaliknya. Meski kami akui banyak keluhan atau complain dari pelanggan,” imbuhnya.

Upaya lainnya, perlu ada alat berat mini yang selalu standby di lokasi Air Baku Semongkat untuk mengatasi sedimentasi. Selama ini ditangani secara manual menggunakan tenaga petugas yang terbatas.

Sementara penanganan jangka panjangnya, adalah peremajaan jaringan. Sebab khusus wilayah Kota Sumbawa, jaringan berada di bawah aspal jalan dan sulit dikontrol. Sebagian lagi sudah tertutup bangunan. Sebenarnya perejamaan jaringan PDAM Sumbawa ini dilaksanakan tahun ini, namun secara tiba-tiba dananya dialihkan untuk proyek Bendungan Bintang Bano.

Kemudian terealisasinya Bendungan Ai Ngelar yang mampu mengatasi semua persoalan distribusi air Perundam Batu Lanteh. “Ketika ini terealisasi, kami yakin tidak ada lagi yang mengeluh. Karena masalah krusial perusahaan air minum daerah ini dapat teratasi,” pungkasnya. (SR)

 

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *