SUMBAWA—Harga bawang merah sempat anjlok. Murahnya harga bawang pada tahun 2021 lalu sempat membuat gejolak di NTB. Petani bawang menggelar aksi demo. Jatuhnya harga bawang merah saat itu karena hasil panen petani berlimpah. Ini tidak dibarengi dengan tingginya permintaan atau penyerapan oleh pemerintah.
Namun Dian Alex Chandra dari CV Sudah Ada selaku pemenang tender proyek pengembangan bawah merah di Kabupaten Sumbawa melalui Program Upland Tahun 2022, memiliki tips untuk mengatasi melambung dan anjloknya harga bawang merah.
Kepada samawarea.com, Selasa (5/4) malam, pria yang disapa Alex ini mengatakan, tinggi dan anjloknya harga bawang merah itu tergantung dari hukum pasar. Ketika permintaan tinggi dan ketersediaan sedikit maka harga bawang mahal. Sebaliknya ketersediaan banyak tapi serapannya rendah, maka harga akan murah. Untuk mengantisipasinya tergantung dari keseriusan pemerintah. Pemerintah memiliki kewajiban untuk tetap menjaga kestabilan harga baik saat panen maupun musim di luar panen.
Untuk menjaganya, Alex mengaku pernah mengusulkan ke Bappenas, Dirjen Horti dan Menteri Pertanian agar dibangun gudang penyimpanan berkapasitas minimal 4000 ton di setiap sentra. Gudangnya berteknologi yang dilengkapi lemari berpendingin, sehingga bawang merah bisa bertahan sampai 6 bulan.
Keberadaan gudang ini selain menyerap hasil panen petani agar harga tidak anjlok, juga untuk kebutuhan di luar musim tanam agar harga tidak melambung.
Kenyataan yang terjadi pada November 2021, petani bawang di NTB menggelar aksi demo karena harga bawang anjlok. Kondisi ini seolah-olah pemerintah tidak hadir dalam mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah tidak dapat menyerap hasil panen petani karena tidak tersedianya gudang penyimpanan.
“Kalau pemerintah serius membangun gudang penyimpanan dan menyiapkan anggaran untuk penyerapan, insyaa Allah 10 tahun ke depan, tidak akan ada orang bilang harga bawang murah dan harga bawang naik,” pungkasnya. (SR)






