SUMBAWA—Pemerintah dan stake holder berupaya untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang penyakit talasemia. Ini juga diikuti dengan upaya deteksi dini penyakit tersebut untuk memutus mata rantai Talasemia Mayor di Indonesia dengan mencegah pernikahan antar pembawa sifat talasemia.
Indonesia adalah negara dalam sabuk talasemia dengan 3,8% penduduknya pembawa sifat Talasemia yang menelan pembiayaan hingga Rp 2,1 Triliun selama periode 2014–September 2018. Sampai saat ini penyakit Talasemia belum bisa disembuhkan dan beberapa jenis di antaranya memerlukan transfusi darah seumur hidup.
Namun demikian, Talasemia Mayor dapat diantisipasi. Di antaranya mencegah terjadinya pernikahan antar sesama pembawa sifat Talasemia. Salah satu cara mendukung upaya tersebut adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang diikuti dengan upaya deteksi dini.
Untuk diketahui, Thalasemia merupakan kelainan darah yang disebabkan oleh kelainan hemoglobin (akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin). Ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah sehingga penderitanya mengalami anemia atau kurang darah.
Penderita thalassemia akan mengalami gejala anemia seperti mudah lelah dan lemas, namun pada penderita thalassemia minor anemia bisa tidak terjadi. Pada thalassemia mayor umumnya menunjukkan gejala seperti badan lemah, kulit kekuningan (jaundice), urin gelap, cepat lelah, denyut jantung meningkat, tulang wajah abnormal dan pertumbuhan terhambat serta permukaan perut yang membuncit dengan pembesaran hati dan limpa.
UNHAN Gandeng Laboratorium Genetik Sumbawa
Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah terjadinya Talasemia Mayor. Salah satunya dilakukan oleh Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler, Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahanan (FKM UNHAN), Sentul, Bogor, Jawa Barat, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dalam kegiatan ini, UNHAN menggandeng Laboratorium Genetik Sumbawa (LGS), Sumbawa, NTB.
Penanggung Jawab LGS, Dr. Arief Budi Witarto (Universitas Pertahanan/UNHAN) kepada samawarea.com, Ahad (30/1), mengakui hal itu. Dalam melaksanakan kegiatan ini, LGS akan menggratiskan pemeriksaan genetik Thalassemia di Sumbawa, NTB, selama Bulan Maret 2022. Pemeriksaan gratis ini disediakan hanya untuk 100 orang.
“Biaya pemeriksaan genetik Thalassemia sekitar Rp 2-4 juta di Jakarta (LBM Eijkman). Belum ditanggung pemerintah meski biaya pengobatan penderita peserta BPJS mencapai Rp 590 Milyar pada Tahun 2019) nomor 5 terbesar. Jadi kami menyediakan layanan pemeriksaan genetik Thalassemia gratis untuk 100 orang selama Bulan Maret 2022 mendatang,” jelas mantan Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini.
Bagi yang ingin mendapatkan kesempatan ini, dapat melakukan pendaftaran dengan menghubungi Rian (LGS) 081237444662, dr. Venty (UNHAN) 082221385337.
Disebutkan Doktor Arif, pemeriksaan genetik Thalassemia cocok untuk penderita Thalassemia Mayor dan keluarga, terduga carrier yang punya riwayat keluarga atau gejala anemia berat, dan pasangan yang mau menikah (pre-marital).
Dijelaskannya, Thalassemia merupakan penyakit genetik keturunan berupa cacat gen globin sehingga penderita kurang darah dan harus transfusi darah seumur hidup (Thalassemia mayor).
Pembawa gen cacat/carrier (Thalassemia minor) tidak sadar dan apabila menikah dengan sesama carrier akan memiliki anak Thalassemia Mayor. NTB prevalensi ke-6 terbesar Provinsi di Indonesia (2-3 orang per-100 orang). (SR)









w88 là một trong các nhà cái cá cược uy tín tại châu Á và châu Âu hiện nay. Gần đây w88 trực tuyến đang trong quá trình phát triển và mở rộng quy mô hoạt động tại thị trường VN. Từ khi mới gia nhập vào thị trường VN đã ngay lập tức nhận được sự quan tâm của người chơi và lọt vào top những nhà cái cá cược uy tín hiện nay.